Empat Alasan Mengapa Pilih Tokoh daripada Partai Politik

Empat Alasan Mengapa Pilih Tokoh daripada Partai Politik
©Koran Tempo

Masih teringat, seorang kawan pernah bertandang di ruangan kerja kami di suatu hari, yang tidak terduga kemunculan pernyataannya. Dia berseloroh: “Saya pilih tokoh (seseorang dari salah satu partai politik) karena kepribadiannya.”

Entahlah, jenis kepribadian apa yang kawan itu maksud. Saya tidak sempat menelusurinya. Mungkin itu dulu, bagaimana dengan saat ini, begitu gumamku. Lebih memilih tokoh ataukah partai politik? Mengutamakan tokoh, partai politik, tunggu dulu!

Jika tujuan pilihan pada tokoh untuk “mengatrol” suara dukungan pada partai politik dalam kemiripan karakter, maka perlu cerita yang utuh. Tokoh yang “dimiripkan” dengan aktor utama film bukanlah semacam pion-pion dalam cerita di dunia rekaan. Meskipun tokoh kita perlukan seperti menyandang best actor, tidak lantas tokoh yang masyarakat pilih untuk memenuhi target ambisius dari partai politik atau cerita sebuah film terbaru.

Tokoh yang dipilih menjadi ‘penggerak’ ide dan mimpi serupa dengan masyarakat. Tokoh bersama masyarakat mewujudkan ide dan mimpi. Serupa dengan aktor film, yang sukses jika dia mampu menghayati setiap alur cerita dan mengalirkan citra sinema sebagai gambaran hidup berupa gejolak dan inspirasi bagi penonton atau masyarakat pemilih.

Sementara, peta politik dan prediksi yang tidak terduga merupakan proses perkenalan tokoh di hadapan publik. Tokoh yang jadi dambaan tidak mesti layak menjadi tokoh-tokoh figuran atau sampingan dalam cerita film yang menarik perhatian penonton.

Betapa pun mahal bayaran dan tenarnya aktor film, sosok tokoh bukanlah mengobral janji-janji, membangun visi, dan mengusung isu-isu, yang mereka tempatkan dalam rancangan lokasi, seprai yang bertuliskan nama daerah pemilihan, stiker bergambar dan bertuliskan tokoh, baliho politik yang menggurui di tengah masa pandemi atau di lokasi bencana alam hingga korek dan gelas menjadi rincian sekecil-kecilnya yang bisa mereka harapkan menggaet penonton atau pendukung.

Tokoh yang dipilih menampilkan cerita tanpa bualan dan aktor film mampu menyerap setiap episode atau memancarkan pilihan terhadap harapan.

Sekali klik tombol enter, tokoh yang diharapkan meningkatkan marwah kepartai-politikan akan menuai decak kagum. Aktor film yang terkagumi sepanjang episode akan penonton pilih sesuai klik tombol play; bisa memberi jeda di luar studio sinema. Bahkan jika perlu, penonton atau pemilih memutar ulang cerita dari episode demi episode kehidupan.

Baca juga:

Sekadar menghubungkan secuil kisah dengan produksi pengetahuan, ditandai penemuan atas kecenderungan dan fenomena sosio-politik. Berselang sekian lama, The Republic Institute, lembaga riset independen kenamaan berslogan “Pemilu 2024, Partai Politik No, Aktor Politik Yes!” merilis hasil penelitian surveinya mengenai pilihan masyarakat terhadap tokoh dan partai politik. (Lensa Indonesia, 02/01/2022)

Sebelumnya, boleh saja politisi berpesta pora. Sekarang, tidak bisa lagi cepat berjingkrak-jingkrak, karena partai politik yang mereka kendarai tidak memenuhi ambang batas parlemen untuk pemilihan legislatif berikutnya. Demi 2024, titik tolaknya dari 2022 adalah tahun di mana analis menyatakan sebagai tahun politik. Penampilan politik baliho begitu semarak turut ‘membujuk rayu’ masyarakat di tahun-tahun terakhir menjelang kontestasi.

Pilihan masyarakat bukan bergantung pada seberapa banyak safari, termasuk gencarnya komunikasi politik antarpartai. Ternyata, masyarakatlah yang menentukan keterpilihan. Bisa juga, para politisi tidak menduga sebelumnya jika terjadi hal-hal lembaga riset temukan. Terdapat kemungkinan terjadi di akhir cerita, tokoh menjelma menjadi komoditas yang memikat.

Mengapa pilihan masyarakat pada tokoh lebih tinggi daripada partai politik?

Menurut hasil survei The Republic Institute, terdapat rentetan alasan masyarakat lebih tinggi pilihannya pada tokoh daripada partai politik ketika mereka memilih satu dari dua atau lebih, terutama dalam pemilihan legislatif, di antaranya mencakup:

Pertama, perubahan kebiasaan masyarakat untuk memperoleh informasi politik lebih cepat, yang bergerak secara mekanis dari media konvensional ke media baru, yaitu media sosial dan internet.

Betapa era digital turut memengaruhi pilihan masyarakat terhadap tokoh sebagai aktor politik yang jadi dambaan. Meskipun di era digital adalah era disrupsi, tetapi suatu masyarakat menetapkan pilihannya pada tokoh.

Tersebarnya informasi melalui media sosial dan internet sebagai jaringan pergulatan baru membuat masyarkat lebih menjangkau peristiwa apa yang terjadi di luar bersama tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Tokoh yang merakyat, sederhana, disiplin, dan tegas merupakan rangkaian persepsi dari masyarakat. Di samping dipercaya dan jujur, tokoh juga dipersepsi oleh masyarakat sebagai sosok yang toleran, terbuka, dan konsisten.

Halaman selanjutnya >>>
Ermansyah R. Hindi