Ennu

Ennu
©Pixabay

Ennu, malam selalu kelam
Ketika musim kemarau bercinta dengan hujan dan dingin

Aku membaca setiap rindu yang mekar pada senyummu yang santun
Dan berpikir bisa menemukan kata-kata
Menitik bening dari setiap jarang yang memperlambat pertemuan

Seperti pesanmu, aku menantimu dari setiap sajak
Yang lahir dari kepalamu

Dengarlah, Ennu
Aminkan terdahulu setiap semoga
Yang pernah kita ciptakan di hadapan Tuhan
Sebab harap selalu berubah jadi resah
Saat menunggu terlalu lama dipendam

Ennu, malam selalu kelam
Ketika musim kemarau bercinta dengan hujan dan dingin
Dan mimpi tidak kunjung menua

Datanglah, kupastikan kita bertemu di ujung doa
Sebagai harap yang selalu kita titipkan di hadapan Tuhan
Ketahuilah aku menantimu sampai hari berubun
Bahkan kehilanganmu pun aku masih menemukan dirimu

Belis

Setelah kian lama menciptakan cinta
Di depan rumah tetua berlama
Menakar kata dan kalimat renta warisan leluhur
Sebuah kesepakatan terjadi
Perempuan harus dibelis
Karena katanya tidak bisa menipiskan nilai

Lelaki yang mulanya begitu mencintai perempuan
Tertunduk lesuh
Karena lupa mengisi kantong celana
Menjerit bingung keputusan tua adat

Seratus juta
Empat gading
Sepuluh ekor kuda
Sebuah tawar-menawar terjadi
Serba ganjil salah sangka
Namun tuntutan laki-laki harus bayar

Selebihnya mereka lupa
Perempuan bukan dibayar tunai demi menghangatkan ranjang
Atau menyalahkan tungku dapur
Tetapi perempuan lebih hormat melahirkanmu
Bukan pada harga belis yang membuatnya
Menderita ketika dipinang sang kekasih

Perempuan Lugu

; Lenia

Aku pernah berpikir
Kau begitu pandai dalam menciptakan rindu
Namun nyatanya kau menghilang begitu saja
Setelah pertemuan terakhir
Menuntut kemungkinan kita harus rehat sejenak

Pernah kau bilang; jika kita rehat sejenak
Aku selalu merindukanmu dalam setiap rinai hujan yang jatuh
Atau seperti kebanyakan orang yang merindukan
Tibanya senja. Dan aku terperangap
Dengan kalimat itu

Tapi setelah beberapa bulan kemudian
Aku tahu bahwa setiap janji yang pernah disepakati
Tidak sepenuhnya terpenuhi
Bukankah begitu?

Sejujurnya aku sudah terbiasa dengan janji itu
Jika kelak kau ingin pergi
Ketahuilah aku sudah terbiasa kehilanganmu

    Sonny Kelen
    Latest posts by Sonny Kelen (see all)