Era Siffredi yang Penuh Filosofi

Era Siffredi yang Penuh Filosofi
©La Razon

Siapa yang tak kenal dengan Rocco Siffredi? Aktor film biru tersohor berasal dari Italia ini populer di era 1990-an dengan Tarzan X-nya. Rocco Siffredi yang jatuh cinta lokasi akhirnya menikah dengan aktris pasangannya dalam Tarzan-X, Rossa Rossa Carracciolo, yang bertemu pertama di tahun 1993 pada Festival Film Cannes Prancis.

Namun, pada pembahasan kali ini, Rocco Siffredi tidak mengalami jatuh cinta lokasi (cinlok) pada pembuatan film Romance (1999), sebuah film drama yang penuh dengan filosofis wanita berserta kehidupan seksnya.

Film Romance (1999) berkisah tentang keadaan frustrasi akibat kurangnya keintiman dalam hubungannya. Seorang guru sekolah muda, Marie (Caroline Ducey), melewati serangkaian pasangan seksual yang sangat mengintimidasi kebinalannya. Sering kali terlihat menikmati kekasaran.

Film ini begitu dalam penghayatannya. Sebab dibesut dan ditulis sendiri oleh Catherine Breillat. Dibintangi oleh aktor dan aktris yang sudah lihai buka baju dan buka talenta seperti Caroline Ducey, Sagamore stevenin, dan Francois Berleand.

Film Romance (1990) seolah telah membagi-bagi tubuh wanita secara fantasi. Tubuh wanita tersebut seolah dibagi atau terpisah oleh dinding-dinding penyekat. Di satu sisi, dari pinggang ke bawah, termasuk kelamin tersebut seolah berada di rumah bordil dengan segala hidangan kenikmatannya.

Di sisi lain, bagian dari pinggang ke atas, termasuk otak si wanita berada di ruang bersalin dengan segenap adegan fisting (pemeriksaan dengan telapak tangan yang masuk ke alat kelamin) oleh paramedis yang mungkin terlihat kejam. Memberikan efek tentang kerasnya proses hamil dan partus-nya (melahirkan).

Kecemasan yang merupakan fungsi ego dapat kita lihat dalam film ini. Fungsi ego dapat memperingatkan individu terkait potensi bahaya, sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif secara antisipatif. Dengan demikian, mekanisme pertahanan dikembangkan oleh ego untuk mengatasi kecemasan tersebut.

Sutradara seolah ingin menyampaikan semacam pesan sederhana yang berhubungan dengan kelahiran dan pemberdayaan wanita oleh laki-laki. Wanita yang juga memiliki fantasi tidak benar-benar menentang dua perlakuan atau kedua sisi dinding tersebut. Bisa jadi sebagian menikmati fungsinya sebagai tempat pemuasaan nafsu seks sekaligus dihormati sebagai wanita yang melahirkan.

Baca juga:

Psikoanalisa adalah warisan terpenting dari Sigmund Freud (1856-1939). Pokok perkara psikoanalisis menyatakan peranan penting dari ketidaksadaran dalam pengaturan tingkah laku.

Teori kepribadian, menurut Freud, terdiri dari struktur-dinamika dan perkembangannya. Dalam film ini diwakilkan oleh “kebingungan orientasi seksual”. Apakah pemuasannya dengan kelamin lelaki atau tangan wanita itu sendiri (masturbasi) via fingering (menjari).

Freud yang juga Professor of Neuropathology di University of Vienna mengungkapkan bahwa pada hakikatnya dalam kehidupan jiwa terdapat tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar, prasadar, dan ketidaksadaran. Seks bisa ambil bagian pada ketiganya.

Film yang menggali tentang realm of sense ini cukup gamblang membuat visual tentang dunia sensasi.

Karakter Marie (Caroline Ducey) bisa jadi sebagai wanita yang Freud pikirkan tentang ketidakbisaan menjawab pertanyaan, “Apa yang wanita inginkan?” Marie dalam film ini bertanya pada dirinya sendiri tentang pertanyaan yang sama di atas.

Marie tidak bahagia dengan pacarnya, Paul, yang menolak untuk tidur dengannya, dan juga tidak senang dengan petualangan seksual yang dia miliki. Sepertinya ada masalah dan adanya keterputusaan antara tubuhnya dan identitasnya. Dia melakukan hal-hal yang terkadang membuatnya merasa baik, tetapi dia tidak merasa baik karena dia telah melakukannya.

Hal ini berhubungan dengan relasi-relasi yang terkait dengan proses fisik dan bekerja atas dasar prinsip kenikmatan (pleasure principle). Berupaya mendapatkan kenikmatan serta menghindari rasa sakit. Keadaan ini dikenal dalam refleks actions-aksi spontan dan primery process-stimulus imajinasi.

Romance (1999) menjadi terkenal di ajang festival musim gugur tersebut. Merupakan film yang cerdas dan radikal oleh seorang wanita. Pada saat yang sama, mengandung ketelanjangan yang eksplisit. Seksi banget.

Baca juga:

Ini bukanlah membangkitkan pornografi. Karena jika seks tidak disajikan secara erotis, maka itu lebih seperti sebuah film dokumenter atau film-film sex education tentang bagaimana memasukkan dan mengeluarkan kelamin saja pada lubang kenikmatan. Atau hanya rentet erangan perempuan yang dipaksa berjalan menuju orgasme.

Di dalam film, Marie terlihat pecah kepribadiannya. Dia bingung oleh dirinya sendiri, bingung oleh pria, bingung oleh seks. Bahkan setelah klimaks, melongo saja.

Namun film ini memiliki daya tarik yang dingin. Mungkin ini adalah ujian tentang bagaimana pria dan wanita berhubungan dengan erotisme di layar. Bagaimana wanita mempertahankan istilah feminisnya.

Jangan harap dapat melihat adegan vulgar nan liar pejantan di layar film ini, seperti aktor Rocco Siffredi yang memerankan karakter Paolo. Siffredi seolah hanya sebagai spesimen laboratorium.

Lain halnya dengan Robert (Francois Berleand) yang menawarkan BDSM nan menantang dan sedikit edan. Mungkin ini bukan sisi seksual yang menyenangkannya. Tetapi kenyataan bahwa ketika Robert yang sedang mengatur tali-temali BDSM untuk sebuah pengekangan, Marie tampak terangsang sekaligus cemas. Artinya, dia sudah memikirkannya sekaligus menikmatinya.

Kemudian, ada pemeriksaan ginekologis. Mungkin adegan paling menakutkan dalam film ini di saat paramedis yang sedang magang berbaris untuk giliran memasukkan kepalan telapak tangan ke dalam alat kelamin Marie.

Film ini juga seolah mengambil seluruh paket-paket romantisme, teknik, trik, keperkasaan, dan kebinalan serta laras-laras yang mengimbanginya. Para karakter tampak terlihat hebat, jatuh cinta, dan berhubungan seks yang luar biasa dan menggebu-gebu.

Film ini benar-benar membedah tentang cinta fisik. Tentang seorang wanita yang menyerahkan diri dengan hasrat pada sensual dan mistis untuk cinta fisik dan romantis.