Erotisme Kolonial yang Terlupakan

Erotisme Kolonial yang Terlupakan
©Alexis Batavia

Erotisme masa kolonial dapat dikaji dengan teori-teori poskolonial dalam wujud telisik kehidupan subaltern ataupun tentang timbulnya.

Dutch wife, kata benda majemuk terbuka (open compound word) ini, tak gampang atau mudah ditemukan; baik tentang lema ataupun maknanya di kamus-kamus bahasa asing, khususnya kamus Bahasa Inggris.

Seperti di Kamus Oxford, Anda akan kesulitan menemukan diksi nomina ini. Namun, Merriam Webster Dictionary, yang sudah mengabdi untuk dunia kata-kata sejak 1828 ini, sudah memasukkan diksi dutch wife dalam jajaran lema dan maknanya.

Oxford Dictionary baru melakukan akuisisi kata dutch wife pada sumber-sumber daring binaannya, seperti Lexico.com yang sudah memuat kata dutch wife dengan pemberian makna: a bolster used for resting the legs in bed.

Begitu sederhana makna lema tersebut. Dutch wife diartikan sekadar guling saja, seperti yang mudah ditemukan di tempat tidur Anda. Ya, guling itulah.

Padahal, Merriam Webster Dictionary memberi pengertian yang sangat kultural historis sekali, yaitu: a long round bolster or an open frame of rattan or cane used in beds in tropical countries as a rest for the limbs and an aid in keeping cool.

Entri diksi dutch wife ala Merriam ini mempunyai latar kisah resah yang panjang, khususnya di Indonesia, tempat diksi ini lahir.

Dari deskripsi makna dutch wife ala Merriam Webster Dictionary tersebut, ada beberapa hal menarik untuk digali. Khususnya yang berhubungan dengan erotisme kolonial yang sering terlupakan.

Di masa kolonial, saluran erotisme laki-laki Belanda, baik militer ataupun sipilnya, tidaklah banyak tersedia. Mereka sulit menemukan perempuan Belanda, karena pada dasarnya bukan hal murah dan mudah mendatangkan wanita Belanda ke Indonesia.

Pilihan cuma bercinta dengan pembantu mereka, pergi ke rumah pelacuran, atau dininabobokan oleh guling (dutch wife).

Di sinilah kisah guling (dutch wife) menjadi bagian erotisme saat itu. Guling, dengan konstruksi sederhananya itu, yang bisa terbuat dari anyaman rotan atau anyaman bambu, mampu beberapa tahun menemani Belanda yang kesepian.

Silakan bayangkan sendiri bagaimana mereka menyalurkan erotisme kepada guling yang aneh bentuknya itu. Pemilihan bahan rotan dan bambu juga didasarkan atas kesesuaiannya dengan fungsi sampingan guling (dutch wife), yaitu sebagai penyejuk udara tropis ketika dipeluk, jadi bukan sebaliknya, membuat hangat.

Mungkin inilah yang membuat Oxford Dictionary enggan memasukkan kata dutch wife pada awalnya. Bisa jadi cukup menjijikkan bagi bangsawan kulit putih yang konservatif kala itu.

Kata dutch wife muncul berbarengan dengan frasa go dutch, yang mewakili kekikiran Belanda saat itu, dengan deskripsi makna: to go to a movie, restaurant, etc., as a group with each person paying for his or her own ticket, food, etc. Belanda jarang mentraktir.

Kisah guling ala dutch wife bergulir hingga pada titik jenuh kesalehan Belanda. Hingga tibalah pada pilihan lainnya, dan tercipta diksi baru, yaitu nyai.

Banyak perempuan pribumi mereka jadikan nyai. Bagi yang cukup uang: baik itu serdadu, pegawai sipil, ataupun tuan tanah, biasanya perwira, akan dengan mudah mendapatkan nyai atau perempuan yang mengurus rumah tangga dan merangkap sebagai guling atau teman tidur.

Penulis Rob Nieuwenhuys mendeskripsikan nyai sebagai: the position of the njai as always subservient, being the white man’s housekeeper and companion, before she was his concubine. Dari pengertian tersebut, ada tahapan unik untuk menjadi seorang nyai.

Berawal dari pembantu rumah tangga, kemudian meningkat eskalasi erotismenya untuk naik menjadi nyai. Biasanya, eskalasi erotisme meningkat ketika pembantu pribumi tersebut cukup rupawan dan terampil.

Bagaimanapun juga, Belanda mempertimbangkan penampilan konservatifnya, white and pretty. Tidak ada unsur-unsur eksotis lainnya yang memengaruhi, seperti legamnya kulit atau montoknya dada.

Sedang bagi serdadu miskin, baik dari Belanda ataupun pribumi yang mengabdi, pelacuran adalah tempat nyaman bagi penyaluran erotisme mereka. Tak hanya sampai di situ, barak-barak militer pun telah penuh sesak dengan praktik pelacuran.

Hingga, terciptalah diksi berikutnya, yang Bahasa Indonesia banget, yaitu anak kolong. Di mana mereka bertugas, anak dan istri mereka biasanya ikut dibawa, dan bertempat tinggal di barak militer. Karena kurangnya ruang, kolong tidur pun dimanfaatkan sebagai tempat tidur dan aktivitas lainnya.

Dengan demikian, kolonialisme paling tidak telah menimbulkan polemik baru, yaitu orang-orang keturunan. Hasil hubungan badan tersebut melahirkan generasi baru yang tak jelas kedudukannya di mata hukum.

Praktik pergundikan ini tidak diatur dalam peraturan yang cukup adil dan manusiawi, sehingga wanita pribumi (nyai) bisa sewaktu-waktu mendapatkan perlakuan peliyanan (deskriminasi) bersama anak-anak mereka, ketika sang lelaki Belanda telah menemukan perempuan Eropa lain.

Otoritas hukum pemerintahan kolonial menganggap anak hasil hubungan nyai-tuan Belanda tidak sah secara hukum. Baru pada awal abad ke-19, mereka mau menerima sebatas pendaftaran kelahiran anak di luar nikah dengan nama diri (proper name) yang cukup unik dan tidak masuk akal, yaitu ejaan atau prononsiasinya namanya dibalik, dibaca dari belakang!

Semisal, tuan Belanda yang bernama Daendels, maka anak yang lahir dari seorang nyai akan bernama Slednead.

Status anak yang tak diakui itu pun sama tak jelasnya dengan status ibunya (nyai). Mereka berdua tak diterima sebagai orang Eropa karena mengancam kemuliaan ras kulit putih. Pun begitu, di mata pribumi, mereka juga terkucilkan, karena dianggap sebuah aib saja.

Tidak sampai di situ, hak asuh diatur tak adil oleh pemerintah kolonial lewat Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tahun 1848 pasal 40 dan 354. Legislasi itu berbunyi: hak asuh anak hasil pergundikan tidak dapat diambil oleh ibunya, sekalipun si tuan meninggal.

Inilah membuat anak-anak berwajah ganteng dan noni-noni cantik terlantar. Dan, siklus pun berjalan, noni-noni cantik itu pada akhirnya akan menempati pos-pos pelacuran juga.

Erotisme masa kolonial dapat dikaji dengan teori-teori poskolonial dalam wujud telisik kehidupan subaltern (kaum terjajah) ataupun tentang timbulnya.

Mimikri erotisme yang dapat ditemui, seperti: peniruan dalam hal cara berpikir untuk pemuasan hasrat, gaya bercinta, yang tentunya banyak dipengaruhi oleh interaksi pergundikan elite-subaltern ataupun dan sipil-militer.

Hibriditas kepemimpinan yang memunculkan sinkretisme religi di mana Barat yang Kristen bertemu dengan Timur tidak memengaruhi erotisme kolonial saat itu. Gereja yang sudah teriak-teriak sejak 1620 tentang hubungan tuan Belanda dan nyai tidak didengar sedikit pun.

Adanya ambivalensi kolonial dalam memandang nyai membuat Belanda tak ingin mengakui pergundikan karena dianggap nista. Tapi, di sisi lain, mereka merasa diuntungkan karena menimbulkan stabilitas erotisme dan kesehatan mental kolonial.

Adanya nyai membuat mereka tak perlu repot-repot mendatangkan perempuan Eropa sebagai pengganti guling (dutch wife).

Nyai yang tak punya hak resmi apa pun, hingga tak berkutik di sisi mana pun, apalagi jika menuntut sesuatu bila tertimpa kemalangan dan ketidakadilan. Ketiadaan pengakuan secara hukum oleh pemerintah kolonial itu akan terus menimbulkan tindak semena-mena yang membudaya.

Baca juga:
    Yudho Sasongko

    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)