Fadli Zon Idolakan Putin, Saiful Mujani: Wakil Rakyat Jangan Naif

Fadli Zon Idolakan Putin, Saiful Mujani: Wakil Rakyat Jangan Naif
Ilustrasi: Fadli Zon & Saiful Mujani

Nalar PolitikPendiri SMRC, Saiful Mujani, mengimbau wakil rakyat agar tidak naif dalam bersikap. Seperti ditunjukkan Fadli Zon yang mengidolakan Putin sebagai pemimpin ideal untuk Indonesia sembari menyebut pemimpin sendiri plonga-plongo. Ini, menurut Saiful, sikap yang sangat bermasalah.

“Sebagai orang Indonesia, bagaimana rasanya presiden kita dibilang plonga-plongo? Sementara Putin yang diktator itu diidolakan? Jangan naif! Lebih bangga pada asing diktator dibanding pemimpin sendiri yang sederhana,” kata Saiful Mujani, Minggu (8/4/2018).

Kalau hanya sekadar mengidolakan Putin sih tidak masalah. Tetapi, lanjut Saiful, mengidolakan Putin tidak boleh sambil nginjak orang.

“Mending kalau yang diidolakan memang pantas secara objektif. Para ahli tentang Rusia di dunia umumnya berkesimpulan bahwa Putin otoriter. Makanya, belajar dulu sebelum ngomong, Wakil Ketua DPR pula,” sambungnya.

Karena sikap Fadli Zon yang getol sekali mengidolakan sosok pemimpin otoriter di mata dunia itu, Saiful pun lantas menyebut Fadli sebagai wakil rakyat yang tidak bertanggung jawab. Fadli abai pada penilaian banyak ahli tentang Rusia. Terutama kondisi negeri ini di bawah kepemimpinan Putin, yang bagi Saiful Mujani, bukanlah contoh yang baik dalam memperkuat demokrasi dan kepemimpinan demokratis.

“Secara akademik, Fadli menjadikan Putin sebagai tipe pemimpin yang bagus bagi Indonesia tidak didasarkan atas telaah yang benar. Pandangan Wakil Ketua DPR yang tidak bertanggung jawab.”

Karena itu, agar Fadli tidak bersikap naif lagi, Saiful lalu menganjurkan Fadli untuk membaca buku Daniella Lausser, Constraining Elites in Russia and Indonesia. Buku yang ditulis oleh ahli perbandingan politik tersebut sangat relevan untuk dibaca, terutama bagi Fadli yang terlalu pede menjadikan Putin sebagai pemimpin ideal, yang patut dicontoh.

“Buku yang awalnya disertasi di UC Berkeley ini mengupas secara komparatif Rusia sebagai negara yang gagal dalam transisi demokrasi dan Indonesia sebagai negara yang berhasil dalam transisi tersebut.”

Memang, perbincangan soal Putin, akhir-akhir ini, jadi isu politik domestik yang memanas. Dipicu dari pandangan Fadli yang menyebut Putin sebagai pemimpin yang harus Indonesia miliki, bukan seperti Jokowi yang menurutnya plonga-plongo, meluber ke mana-mana.

Salah satu pihak yang menentang keras pandangan Fadli itu datang dari politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Seperti Tsamara Amany dan Rian Ernest, mereka berupaya mengklarifikasi kedangkalan Fadli yang amburadul.

Meski mengakui bahwa Fadli berhak mengagumi Putin, tetapi, sebagai politisi, mereka merasa juga wajib mengingatkan rakyat. Pemimpin seperti Putin, bagi mereka, sama sekali bukanlah pemimpin yang layak ditiru untuk Indonesia.

“Putin bukan contoh pemimpin yang baik, yang membungkam oposisi dan pers di Rusia sana. Di Rusia, tidak ada kebebasan beraspirasi seperti di Indonesia. Bahkan di sana, praktik-praktik korupsi dibiarkan begitu saja,” kata Tsamara.

Hal tersebut Tsamara dasarkan pada paparan sejumlah media dan lembaga-lembaga riset ternama. Bahwa Putin itu diktator, otoriter, membiarkan korupsi terorganisir, adalah fakta. Sehingga sangat bermasalah jika ada pihak (terutama wakil rakyat) mengidolakan sosok Putin, apalagi sampai harus ditiru.

“Saya hanya merujuk pada analisis-analisis tersebut. Misalnya, survei The Economist tahun 2017 masih menempatkan Rusia sebagai negara dengan rezim otoritarian.”

Klarifikasi untuk RBTH

Hal senada juga disampaikan Rian Ernest. Sembari mengklarifikasi kecaman Russian Beyond The Headline (RBTH) yang menyebut Tsamara berwawasan dangkal atas Rusia dan menunjukkan ketidakdewasaan dalam berpolitik, Rian memaparkan bagaimana negeri “Beruang Merah” itu memang punya masalah besar terkait korupsi.

“Dalam indeks persepsi korupsi, Indonesia jauh lebih baik dari Rusia. Transparency International (2007) menunjukkan, indeks persepsi korupsi Indonesia berada di peringkat 96 dari 180 negara, sementara Rusia di nomor 135,” terang Rian.

Persoalan lain yang membelit Rusia hari ini adalah soal kebebasan sipil dan politik. Rusia, dalam Freedom House, masuk kategori not freeFreedom rating-nya berada di angka 6,5 di mana skala 1 sangat bebas dan 7 sangat tidak bebas.

“Sementara Indonesia, walaupun kategori full free diturunkan jadi partly free sejak 2013, tetapi freedom rating kita jauh lebih baik, yakni 3.”

Itulah dasar mengapa partai anak muda (PSI) ini mengkritik keras jika ada politisi Indonesia yang justru mengidolakan kepemimpinan Putin di Rusia. Padahal, kondisi Rusia jauh di bawah Indonesia dari sisi indeks persepsi korupsi serta kebebasan sipil dan politik.

___________________

Artikel Terkait: