Fanatisme di Ruang Digital

Fanatisme di Ruang Digital
©Dreamstime

Media sosial dijadikan sebagai alat untuk membagikan kebenaran kelompok masing-masing yang berujung kepada fanatisme di ruang digital.

Sejak perkembangan teknologi yang begitu masif, tatanan kehidupan sosial lambat laun menjadi ikut bergeser mengikuti perkembangan. Di zaman ini, kita dengan mudah saling memberi kabar tanpa harus menunggu lama. Perkembangan zaman ini telah banyak memudahkan manusia, sekaligus memenjarakan manusia ke dalam dimensi ruang dan waktu.

Manusia sebagai objek sekaligus subjek dalam perkembangan ini mulai menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang teknologis. Hampir setiap harinya manusia tidak terlepas dari namanya alat teknologi.

Setiap sesuatu hal, baik berupa kejadian sosial maupun pribadi, alat teknologi seperti media sosial (WhatsApp, Instagram, YouTube, Facebook, Twiter) selalu menjadi media penyampaian atas sesuatu hal yang terjadi itu. Bahkan bukan hanya itu, F Budi Hardiman mengatakan media sosial dijadikan sebagai alat untuk membagikan kebenaran kelompok masing-masing yang berujung kepada fanatisme di ruang digital.

Kita bisa melihat realitas yang ada, bagaimana media sosial kita saat ini banyak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya yang kemudian dijadikan sebagai sumber kebenaran yang dipegang teguh oleh sebagaian orang.

Fanatisme di ruang digital ini, kata Budi Hardiman, sangat berbahaya sebab orang fanatik tidak mungkin menganggap dan bersikap seolah-olah keyakinan yang ia miliki tidak salah. Hal demikian bisa membawa kepada klaim kebenaran sendiri. Ajaran fanatisme ini disebar ke media-media sebagai bagian dari propaganda untuk memengaruhi pemikiran banyak orang.

Tak heran banyak doktrin, ajaran ekstremisme, fundamentalisme, dan sebagainya dipakai untuk mencuci otak banyak pembaca di media sosial atau ruang digital. Hari ini, manusia yang tidak lagi lepas dari namanya ruang digital, yang banyak melihat dan mendengar informasi dari ruang digital, tidak lagi terkontrol dan tentunya makin beringas. Jelas apa yang dikatakan oleh Denis Diderot bahwa dari fanatisme ke kebiadaban hanyalah satu langkah.

Di Indonesia, sebagai negara mayoritas muslim, tentunya negeri ini menjadi bagian dari fanatisme itu sendiri. Sebab fanatisme itu sering dikaitkan dengan agama dan demokrasi di negara ini. Contoh dalam setiap pemilihan kepala daerah atau presiden, fanatisme dari berbagai kelompok bermunculan di ruang digital.

Keberadaan mereka saling menghujat satu sama lain, meninggikan calon lain dan merendahkan yang lain dengan sehina-hinanya. Begitu pun dengan agama, berkembangnya berita hoaks di ruang digital membuat penganut fanatisme cepat tanggap atas apa yang ada di ruang digital tersebut.

Keadaan ini makin mengkhawatirkan sebab hal ini akan berakhir kepada pengklaiman kebenaran masing-masing. Kebenaran yang sesungguhnya tidak lagi menjadi hal utama, melainkan bagaimana kebenaran atas kelompok itu dipertahankan sebagai kebenaran absolut. Inilah yang disebut Budi Hardiman dalam bukunya “Aku Klik, maka Aku Ada” revolusi digital. Manusia sibuk dengan gawainya dan dari itu kebenaran tidak lagi menjadi penting. Sebab kebenaran tergantung dari persepsi masing-masing pemiliki gawai.

Bahaya Laten Fanatisme

Fanatisme yang berujung kepada pengklaiman kebenaran justru menjadi problem di bangsa ini. Seperti di awal dikatakan, fanatisme mengubah seluruh tatanan kehidupan sosial tanpa terkecuali. Bahaya dari fanatisme ini akan berimbas kepada cara semua orang bersikap, baik dalam interaksi sosial maupun cara memimpin atau berkuasa.

Dalam dunia sosial, fanatisme mengubah cara pandang kita dalam bersosialiasi. Dahulu bersilaturahmi langsung bertatap muka merupakan pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjaga persaudaraan sesama manuasia. Tetapi dalam revolusi digital ini, kata Budi Hardiman, fanatisme yang dijadikan cara dalam berinteraksi berubah menjadi kompetisi.

Hal demikian ia contohkan bahwa seorang dalam laku offline sangat tenang, ramah, dan sebagainya. Namun dalam dunia online, ia sangat garang dan menghasut orang-orang, membuat ujaran kebencian kata Budi. Jika merujuk kata Intan Erlita, seorang psikolog, fanatisme yang berlebihan itu merupakan gangguan psikologi yang bisa mengancam seseorang yang menjadikan ia fanatik.

Baca juga:

Winston Churchill mengatakan, seorang fanatik tidak akan mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah cara pandangnya. Sekarang, semua orang beralih ke ruang digital untuk menunjukkan fanatismenya terhadap sesuatu hal. Bahkan tak jarang saling mencaci maki satu sama lain untuk mempertahankan kebenaran persepsinya.

Fanatisme ini juga selalu menghampiri demokrasi kita yang berkepanjangan. Sebelum dan setelah pemilu, masih saja dampak fanatisme ini mengakar kepada seluruh pendukung. Bahkan tak jarang bentrokan secara fisik dan nonfisik (ruang digital) terjadi. Bahaya ini, selain mengancam pribadi seseorang, ini juga mengancam kestabilan negara dalam menjaga perdamaian dan persatuan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Fanatisme tidak bisa dihilangkan dengan begitu mudah. Sebab fanatisme bisa dikategorikan doktrin yang sudah mandarah daging dalam pikiran terkait sesuatu hal. Namun hal utama yang harus dilakukan dalam mencegah fanatisme dalam ruang digital ialah memberikan edukasi secara masif kepada manusia untuk membedakan yang benar dan tidak.

Perkuat kualitas pendidikan yang mampu memberikan arah terang kepada manusia untuk bisa membedakan sesuatu hal. Pemerintah juga perlu menghapus atau blacklist berita-berita yang sifatnya menyebarkan ujaran kebencian di dalam ruang digital. Beberapa hal sederhana itu mejadi hipotesis saya bahwa sedikit demi sedikit mampu memberikan perubahan walaupun mungkin hasilnya tidak akan terlalu signifikan kepada perubahan.

Namun ini perlu menjadi perhatian kita semua. Kemajuan tenologi telah membuat semua aktivitas manusia dialihkan dari pijakan bumi, menjadi ruang maya yang siapa pun bisa ke sana. Paling lucunya lagi, ruang digital ini juga dijadikan sebagai ruang gosip yang selalu intens dibicarakan.

    Asman