Fantasi Pornografi

Fantasi Pornografi
©PsyPost

Dampak Fantasi Pornografi

Tanggapan terhadap kasus-kasus tindakan kekerasan seksual yang marak terjadi berdasarkan pandangan Slavoj Zizek

Pornografi sudah tak dapat dibendung lagi di zaman sekarang ini. Banyak berbau pornografi yang sudah mulai menyebar luas di media-media sosial saat ini sehingga seksualitas bukan lagi satu hal yang tabu. Ini membawa dampak bagi perkembangan psikologi seseorang.

Menurut data statistik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), telah memutus akses atau memblokir 1,9 juta konten bermuatan pornografi di sejumlah platform selama periode 2016 hingga 14 September 2023 (Kompas.com).

Selain itu, kasus kekerasan seksual yang diinput oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 1 hingga saat ini menempati urutan pertama pada diagram batang, yaitu dengan jumlah 11.800 kasus dan korban terbanyak umumnya tentang kasus kekerasan adalah perempuan, yakni 23.476 kasus.

Berdasarkan data-data ini, dapat dilihat bahwa masyarakat Indonesia sudah terkontaminasi dengan pornografi sehingga tak heran kalau banyak kasus tindakan kekerasan seksual yang terjadi, seperti kekerasan seksual ayah terhadap anaknya seperti di Manggarai pada 11 November 2023 (Florensa.com-17/11/2023), dosen terhadap mahasiswinya (Kompas.com-16/11/2023, 19:30 WIB), dan lain sebagainya.

Maka dari itu, patut dipertanyakan: apa penyebabnya dan dampak dari pornografi terhadap subjek? Dalam kajian ini, penulis mencoba mengamati kasus-kasus tindak kekerasan seksual dalam kacamata Slavoj Zizek, khususnya tentang fantasi.

Slavoj Zizek adalah filsuf kontemporer yang menyatakan pemikirannya tentang subjek dari pandangan De Cart dan Kant melalui pandangan psikologi Lacan. Pandangannya adalah untuk menjadi subjek yang autentik, sesorang harus menjadi subjek yang radikal.

Dia pun mengemukakan pandangannya tentang fantasi. Fantasi bukan sekadar hasrat dalam halusinasi. Lebih lagi fantasi mengkonstitusi hasrat kita, menyediakan koordinatnya; secara harafiah, mengajarkan kita bagaimana untuk berhasrat.

Baca juga:

Peran fantasi adalah memediasi antara struktur formal simbolik dengan positivisme objek yang kita temukan di realitas; menyediakan skema menurut objek tertentu dalam realitas yang dapat berfungsi sebagai objek hasrat, mengisi tempat kosong yang dirintis oleh struktur formal simbolik. Zizek memahami fantasi sebagai sebuah kerangka tempat kita melihat realitas (Jayanti, 2012, hal.28).

Melihat media sosial yang sudah terkontaminasi dengan pornografi, subjek perlu mengolah dirinya agar tidak terjerumus ke dalam fantasi yang ada di dalamnya. Namun ini tidak dapat dihindarkan. Pendapat Zizek ini sangat penting untuk dipahami agar subjek tidak jatuh pada fantasi yang salah. Sebab dampak dari fantasi ini sangat besar terhadap subjek, khususnya dalam kehidupan sosialnya.

Fantasi Pornografi Membunuh Identitas Subjek

Dalam konten pornografi secara langsung meningkatkan hasrat seksual subjek yang notabene adalah hakikatnya sebagai makhluk seksual. Dalam kontrak sosial yang dibangun oleh subjek dengan subjek lainnya (Pesurnay, 2021, hal. 202), hasrat seksual pun harus ditempatkan pada porsi dan tatanan moral yang berlaku dalam masyarakat, yakni melalui perkawinan.

Namun di dalam pola hidup konsumtif subjek terhadap media sosial memaksanya untuk merekonstruksi hasrat itu untuk menjadi nyata melalui stimulus konten-konten pornografi. Pola hidup konsumtif yang berlebihan terhadap konten-konten pornografi menyebabkan ketidaksanggupan subjek dalam mengontrol hasrat itu sehingga melanggar norma sosial yang ada, bahkan menghilangkan identitas subjek. Identitas itu terlihat lewat tindakan sujek terhadap objek, yakni realitas.

Zizek menyatakan bahwa fantasi dapat mematikan kehidupan simbolik subjek. Dalam artian ini, simbolik adalah kehadiran subjek di tengah realitas.

Zizek memberi contoh pada seorang yang sudah meninggal, yakni punya kehidupan simbolik namun kehidupan realitas, yakni materinya, telah mati. Namun di satu sisi subjek pun akan mati secara simbolik tetapi riilnya dia belum mati (Jayanti, 2012, hal. 16). Maka dari itu, tindakan merupakan kehidupan simbolik seseorang yang merepresentasikan dirinya sebagai subjek.

Dalam konteks saat ini, objek pornografi merekonstruksi fantasi dalam diri subjek sehingga memengaruhi tindakan subjek dan fantasi itu mencari pemenuhannya dalam dunia riil, maka tidak heran kalau terjadilah tindakan kekerasan seksual.

Fantasi pornografi menghilangkan identitas seseorang dan inilah yang disebut oleh Zizek sebagai the symbolic. Stimulus yang diberikan oleh pornografi ini memediasi hakikat subjek sebagai makhluk seksual, namun dampaknya terlampau terlalu jauh sehingga the rule dari kontrak sosial itu pun tidak diperhatikan lagi oleh subjek.

Halaman selanjutnya >>>
Petrus Paulus Brilian Lobang Tang
Latest posts by Petrus Paulus Brilian Lobang Tang (see all)