Anjuran Berjilbab yang Menggelikan

Anjuran Berjilbab yang Menggelikan
Rina Nose (Instagram)

Anjuran berjilbab, di satu sisi, diyakini sebagai seruan pada kebaikan. Semakin banyak orang menyeru pada sesama untuk berjilbab, semakin banyak pula kebaikan akan diperoleh.

Dan, kebaikan ini, meski diyakini secara kurang kritis, termanifestasi kepada pahala-pahala sebagai bekal hidup di akhirat nanti. Maka tak salah ketika semua orang nampak berlomba-lomba dalam pengupayaannya.

Tentang anjuran berjilbab ini, ada satu artikel menarik dari Orrik Ormeari berjudul Resenya Anjuran Berjilbab. Ia gambarkan secara gamblang bagaimana seruan yang didorong oleh pandangan “kewajiban” tersebut nampak berujung bak aktivitas Multi Level Marketing (MLM).

Di awal paragraf ia menulis, “Saya pikir kenalan-kenalan saya yang beragama Islam sudah mulai keterlaluan dalam aktivitas MLM-nya sesama muslim demi mengamankan kuota mereka di surga nanti. Lama-lama saya muak juga melihatnya.”

Bermula ketika ia bertandang ke Banda Aceh untuk mengikuti salah satu acara di sana. Kita tahu, kondisi daerah ini berselimut rapat pada aturan atau hukum agama (syariat Islam). Imbasnya terutama pada kaum perempuan (muslimah).

Mereka yang tidak berhijab akan dilirik sinis. Sedang mereka yang menggunakannya akan langsung dibombardir untuk tetap mempertahankan tradisi berhijabnya.

Lumrah memang ketika hasil pose di acara tertentu, apalagi yang berskala besar dan melibatkan orang-orang penting di dalamnya, dan lalu di-share ke jejaring sosial. Akibatnya, beragam komentar pun bermunculan, bahkan untuk sekadar nge-like.

“Kamu cantik ya kalau pakai jilbab. Mudah-mudahan selamanya pakai jilbab,” begitulah salah satu komentar yang tertera yang Orrik gambarkan layaknya seruan pelaku MLM.

“Ada apa dengan orang-orang ini? Kok sepertinya ada propaganda khusus untuk hal-hal berbau agama? Setiap ada perempuan yang menggunakan jilbab, teman dan kenalannya langsung berbondong-bondong memberikan ucapan selamat, pujian, dan sebagainya,” tulis Orrik yang nampak disertai dengan jeritan hati.

Memang, ada seruan Tuhan agar para perempuan (juga laki-laki) menutup aurat sebagaimana bunyi ayat al-Nur di atas. Hanya saja, bukankah seruan tersebut hanya diperuntukkan ke pada masing-masing individu? Mengapa kita yang harus ribut betul apakah si A pakai jilbab atau si B tidak pakai jilbab? Ini kan perkara pribadi, antara si A atau si B dengan Tuhan mereka sendiri.

Jikalau benar bahwa anjuran berhijab adalah seruan pada kebaikan, tulis Orrik, tentu kita patut bertanya: “Untuk apa? Jaminan masuk surga? Apakah dengan semakin banyak orang yang kita dakwahi, maka akan semakin banyak bonus pahala yang kita dapati? Kalau begitu, apa bedanya kita dengan agen MLM? Ataukah jangan-jangan agama ternyata hanya sebentuk usaha MLM?”

Menggelikan memang melihat dan mendengar komentar-komentar seperti “Aduh, kamu tambah kelihatan cantik setelah menggunakan jilbab.”

Maksudnya apa coba? Apakah sebelum dia berjilbab, kecantikannya mirip dengan sosok pemeran Sundal Balong Susanna? Atau si Manis Jembatan Ancol yang ngeri-ngeri sedap itu?

Bagaimana dengan para koruptor perempuan atau pelaku tindak kejahatan yang lazim menggunakan jilbab ketika menghadiri persidangan. Kok gak ada yang berbondong-bondong menghampiri dan memberi ucapan selamat, cipaka-cipiki, dan lalu berkata, “Masya Allah, kamu tambah cantik deh berjilbab begini. Semoga kamu tidak dihukum mati, ya.”

Sungguh, fenomena jilbab semacam ini hanya akan melahirkan bullying kepada orang tertentu yang bersangkutan. Apakah demi sebuah kuota di surga atau bonus pahala yang nyata belum tentu juga adanya lalu kita sah melakukan tindakan bullying? Ataukah agama memang menganjur hal demikian demi kuota atau bonus pahala tersebut?

Entahlah. Yang jelas, kita hanya akan terlihat norak atau kampungan dengan memberi ucapan selamat kepada mereka yang menggunakan hijab, dan sebaliknya, memberi bullying kepada mereka yang tidak mengindahkan. Mau pakai jilbab kek, mau tidak, terserah yang bersangkutan.

Tak perlulah ber-norak ria. Tak perlu pula kebakaran jenggot ketika melihat ada orang yang melepas jilbabnya. Toh ibadah adalah urusan masing-masing individu kepada Tuhannya, bukan? Kata Gusdur, “Begitu aja kok repot?”

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)