Fenomena Haji di Madura

Fenomena Haji di Madura
©Shopee

Madura merupakan nama pulau di Jawa Timur, yang secara geografis letaknya terpisah dari pulau Jawa. Pulau ini mempunyai besar kurang lebih 5.168 km2 dengan jumlah penduduk hampir 4 juta jiwa.

Secara administratif masih menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur, dan terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Panjang pulau Madura itu kurang lebih 190 km dan jarak yang terlebar di pulau itu adalah 40 km. Luasnya 5.304 km2. Secara geologis Madura merupakan embel-embel bagian utara Jawa.

Masyarakat Madura kerap disebut sebagai homo religius, karena mereka selalu menampilkan nilai-nilai agama dalam kesehariannya. Masyarakat Madura cenderung menampilkan ghirah keagamaan yang tinggi. Mereka kerap berlomba-lomba dalam beribadah, salah satunya adalah ibadah haji.

Bagi masyarakat Madura, ibadah haji bukan hanya tuntunan syariat, yang menjadi bagian dari rukun Islam. Konstruk yang tertanam bagi masyarakat Madura, ibadah haji merupakan suatu kewajiban, yang selain mendapat nilai tambal dalam agama juga dalam sosial. Meskipun secara ekonomi mereka masih menengah ke bawah.

Masyarakat Madura cara menampilkan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari tidak cukup melaksanakan ritual agama saja, mereka mengadopsi kebudayaan yang melahirkan tradisi lokal, di mana misalnya dalam pelaksanaan ibadah haji.

Orang yang melaksanakan ibadah haji dituntut untuk membuat pesta pemberangkatan dan begitu juga penyambutannya saat tiba dari tanah suci. Fenomena haji inilah yang bagi penulis menarik untuk dikaji dalam artikel ini, sebagai upaya untuk mengetahui sejauh mana masyarakat Madura melaksanakan ritual haji.

Semua orang ingin menunaikan ibadah haji, sebab haji adalah penyempurnaan dari agama seorang muslim. Namun, sebelum itu, apa istilah haji tersebut?

Haji berasal dari bahasa Arab (حج (yang termasuk rukun Islam ke-5. Secara bahasa, haji artinya berkunjung keempat yang agung. Sedangkan secara istilah, haji berarti berziarah ke tempat tertentu pada waktu-waktu tertentu untuk melakukan amalan-amalan tertentu dengan niat ibadah.

Baca juga:

Menurut Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya, Pedoman Haji, menyatakan haji menurut bahasa ialah menuju ke suatu tempat berulang kali atau menuju kepada sesuatu yang dibesarkan. Haji adalah rukun Islam yang terakhir. Maka, seseorang dikatakan sempurna Islamnya, dia harus menunaikan ibadah haji.

Namun, dalam konteks ini, haji bukan langsung dihukumi wajib bagi seorang muslim tanpa memandang siapa pun. Tetapi, terdapat beberapa hukum haji yang perlu diketahui sebagai seorang muslim untuk menyempurnakan Islamnya, sebagai berikut:

a. Wajib

Wajib di sini bukan hanya terbatas untuk yang berhaji pertama kali, tetapi juga karena adanya nazar, qadha atau karena murtad dan kembali lagi masuk Islam. Seorang yang cukup syarat dan belum pernah berhaji sejak balig, maka dia wajib untuk pertama kalinya melaksanakan ibadah haji. Ulama mengistilahkan haji ini sebagai haji Islam. Maksudnya ibadah haji yang diwajibkan dalam rukun Islam.

b. Sunah

Ibadah haji yang sunah adalah yang dikerjakan untuk kedua kali atau yang dikerjakan anak yang belum balig namun sudah mumayyiz. Sebab perintah mengerjakan haji hanya sekali saja seumur hidup.

c. Makruh

Misalnya haji yang dilakukan berulang-ulang dengan menghabiskan banyak biaya, sementara orang-orang di sekelilingnya kelaparan. Demikian pula dengan wanita yang berhaji tanpa izin suaminya.

d. Haram

Hukum haji haram jika biaya pelaksanaan ibadah ini didapat dari jalan yang tidak benar, misal hasil merampok, menipu, mencuri, membungakan uang, korupsi, suap dan lainnya. Namun meski dalam ilmu fikih hukumnya haram, bila ibadah haji yang dikerjakannya lengkap dan semua syarat dan rukunnya terpenuhi, ibadah hajinya tetap sah dan secara hukum menjalankan ibadah hajinya gugur.

Jika seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji. Maka, dia harus memenuhi syarat haji yang sudah diatur oleh ulama Fiqih. Peraturan ini dibuat agar ibadah haji sesuai dengan syariat Islam. Menurut para ulama syarat wajib haji ada lima. Adapun syarat-syarat tersebut yaitu:

a. Islam

Orang yang mengerjakan haji wajib beragama Islam. Jika ada orang non Islam ingin berhaji, tentu saja ia harus bersyahadat terlebih dahulu, lalu melakukan kewajibannya sebagai islam seperti sholat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.

Halaman selanjutnya >>>
Yulistiana
Latest posts by Yulistiana (see all)