Fenomena Ibu Ratna

Fenomena Ibu Ratna
Google News

Ibu Ratna Sarumpaet, siapa yang tak kenal dengan seni woman ini kalau bukan karena isu yang dia sebarkan akhir-akhir ini?

Amat disayangkan emang sih. Dia salah satu seorang aktivis aktif untuk para kaum yang marginal. Karya salah satunya yaitu Maluku Kobaran Cintaku. Berisi cerita tentang kerusuhan agama di Maluku.

Belum lagi penghargaan-penghargaan yang berseni disebutkan seperti Penulis Skenario Terbaik Festival Film Bandung pada tahun 2010, Youth Prize Vesoul International Film Festival, France, Film Jamila & Sang Presiden pada tahun yang sama, dan seterusnya.

Namun, kembali lagi, entah mengapa dia memilih timses capres yang mungkin menjadi pertanyaan bagi para pembaca artikel ini. Beliau dengan penghargaan dan pengetahuan sekaliber itu tak mungkin melakukan hal yang bodoh seperti yang tak lama terjadi ini.

Apa yang menjadikan Ibu Ratna sebagai fenomena? Apakah fenomena politik?

Krisis Kemanusiaan

Sebagaimana diketahui, apa yang terjadi di wajah Ibu Ratna tak lain karena dihajar oleh beberapa oknum yang tak bertanggung jawab. Entah berita itu datang dari mana, yang jelas banyak menggunakannya sebagai kendaraan politik. Toh itu hanya hoaks. Bahkan beliau sendiri mengakuinya,

Saya mohon apa pun yang saya sampaikan hari ini sesuatu yang berguna yang membuat kegaduhan dalam dua hari terakhir ini mereda dan membuat kita semua bisa saling memaafkan. Tanggal 21, saya mendatangi rumah sakit khusus bedah, menemui dokter Sidik Mihardja, ahli bedah plastik. Kedatangan saya ke situ karena kami sepakat beliau akan menyedot lemak di pipi kiri-kanan saya.” (diambil di situs Megapolitan Kompas, 3 Oktober 2018).

Jelasnya, ini sebuah tragedi krisis kemanusiaan. Soalnya beliau lagi dioperasi plastik, sedangkan ada-ada saja orang yang menggunakan itu sebagai kendaraan politik.

Selain itu, ketika berita ini lagi heboh, kita tak lupa apa yang terjadi di Palu saat itu. Kita seharusnya berfokus pada apa yang terjadi di sana ketimbang hal ini. Namun, sebagai masyarakat tipe kota biasanya cenderung mikir apa yang lagi tren ketimbang tragedi-tragedi yang terjadi. Salah satunya berita beliau ini.

Kedunguan

Sudah tahu itu sebuah kebohongan, tetapi masih ada saja yang bela. Toh, dalam teori Weber tentang kharismatik, ya, mereka para fanboys lebih sibuk menyucikan tokohnya masing-masing.

Memang kharismatik itu cenderung seperti itu. Kita menganggap tokoh kita itu selevel dengan para nabi. Jadi mau tak mau, kalau ada yang mengganggu kesucian itu, lebih baik dieliminasi saja. Tak baik bagi kesehatan.

Kasihan Ibu ratna. Beliau tak dungu, tapi yang menilai beliaulah yang dungu.

Organisasi

Dalam semangat kolektif, ada baiknya mengerti tahapan dalam organisasi. Terkadang jika pembagian kerja dalam organisasi tak terlalu kental, persamaan itu diperkuat oleh ideologi yang membangun organisasi tersebut.

Namun, semakin banyaknya yang mendaftar atau ditampung oleh organisasi itu, sialnya, beliau terkena dampaknya. Pembagian kerja juga harus merampung mereka yang banyak itu. Jadi risiko untuk bubar pun semakin besar.

Makanya, salah satu sosiolog, Durkheim, melihat ini sebagai fenomena patologis yang terjadi di organisasi sosial. Kerja pun menjadi variatif. Terkadang kerja tidak mesti jujur, yang jelas mendukung organisasi itu agar dipilih nantinya. Ya, mau tak mau, agen pun dipekerjakan agar bisa menjalankan tugas organisasi itu walaupun tak halal.

Hierarkis

Semangat Marxisme mungkin lebih ke arah kepada kelas dibandingkan status atau posisi yang dimiliki dalam organisasi. Biasanya yang paling tertindas dalam struktur organisasi itu merupakan orang yang paling bawah, mungkin kita sebagai para cebong maupun kampret.

Kita kan eksis pada posisi bawah. Entah dengan gejala kapitalisnya, yang berjalan seiring dengan tingkat eksploitasinya. Ya, mungkin karena beliau bukan petinggi tertinggi di dalam organisasinya, jadi ujung-ujungnya beliau kena batunya. Toh, memang seperti itu.

Krisis kemanusiaan memang sarat dalam dunia perpolitikan kita. Kita seharusnya menjadi manusia sejatinya dan jangan termesinkan oleh politik. Ditambah lagi, umat manusia akan selalu bertambah dan makin sulit diatur.

Namun, jika kita bersikeras dalam persamaan dan tak menerima perbedaan, kita bisa sakit. Itulah pentingnya kemanusiaan. Ibu Ratna saja yang bekerja atas kemanusiaan mau tak mau termakan bully-nya publik. Beliau harus menanggung malu atas kejadian ini, yang menurut penulis sangat tak pantas.

Yepihodov
Yepihodov 12 Articles
A misanthropist writer, an analyst, a translator | Bekerja di UNESCO