Fenomena Selfie dan Masyarakat yang Kesepian

Fenomena Selfie dan Masyarakat yang Kesepian
©Pinterest

Tepat, kan, menyebut bahwa selfie merupakan fenomena narsisme? Dalam pemahaman Freud, narsisme diartikan sebagai eskpresi cinta diri secara berlebihan, semacam bentuk obsesi diri. Namun, apakah selfie merupakan perilaku narsistik? Ataukah aktivitas itu mau bercerita tentang hal lain yang jauh lebih kompleks?

Jawaban terhadap pertanyaan di atas datang dari Karen Horney dalam New Ways in Psychoanalysis (London: Routledge & Kegan Paul, 1939:99-100). Horney menyebut bahwa selfie merupakan ekspresi, bukan dari cinta diri, tetapi keterasingan dari diri sendiri.

Bagaimana bisa begitu?

Masud Horney sederhana: selfie datang dari seseorang atau sekelompok orang yang berpegang teguh pada ilusi tentang dirinya sendiri karena, dan sejauh ini, dia telah kehilangan dirinya.

Tanpa harus menyebut secara gamblang bahwa fenomena selfie merupakan budaya yang buruk (karena itu bukan kapasitas saya untuk menetapkan parameter moral), tulisan ini menunjukkan bahwa budaya selfie sebenarnya mengungkapkan bagaimana ideologi neoliberalisme beroperasi dalam cara kita memperlakukan diri kita sendiri.

Neoliberalisasi Kesepian

Watak utama neoliberalisme, baik sebagai sebuah sistem sekaligus ideologi maupun apa pun namanya itu, yakni: privatisasi. Ia mereduksi masyarakat yang awalnya sebagai sebuah sosialitas bersama menjadi kumpulan individu nomaden, sama dengan apa yang digambarkan Alex Honneth sebagai “jurang sosialitas yang gagal”. Ini mirip dengan konsep kosmopolitanisme di mana orang berada dalam ruangan yang sama tetapi sama sekali tidak ada interaksi di antara mereka. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.

Konsekuensi dari budaya atomisasi dan kesepian dalam masyarakat neoliberal itu membuat kita menjadikan diri kita sendiri sebagai satu-satunya sumber kesenangan, pertukaran, dan ketakjuban. Jauh lebih penting dari itu, budaya atomisasi ini bukan hanya mempromosikan fenomena selfie sebagai gejala individualisme tetapi juga dengan melemahkan nilai-nilai kepublikan dan kolektivitas politik.

Dengan kata lain, hancurnya kolektivitas bukan hanya disebabkan oleh sebuah keputusan rezim politik yang totaliter melainkan juga oleh sebuah ideologi: cara kita melihat dan memahami dunia termasuk diri kita sendiri.

Mengenai hal ini, analisis bagus datang dari chapter “Ideology and Terror” dalam buku karya Hannah Arendt, Origins of Totalitarianism (2001:475).

Ia menulis,

Totalitarian domination as a form of government is new in that is not content with…isolation and destroys private life as well. It bases itself on loneliness, on the experience of not belonging to the world at all, which is among the most radical and desperate experiences of man.

Memang, ada beberapa penelitian lain yang menyebut bahwa selfie menawarkan kesempatan bagi mereka yang tidak berkuasa dan tidak bersuara atau untuk merepresentasikan diri mereka, di antaranya transgender, difabel, perempuan, imigran, dan keompok marginal lainnya. Dibahasakan secara berbeda, selfie menawarkan kesempatan untuk mengundang komentar dari teman-teman untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Namun, mengapa budaya selfie cenderung dipromosikan dengan penekanan utama pada ketertarikan fisik semata?

Maksudnya, apa yang sering absen dalam membicangkan selfie yakni ia merupakan bagian dari mekanisme pasar. Dengan kata lain, budaya selfie sekarang merupakan bagian dari tindakan ekonomi yang menetapkan selfie sebagai tindakan privatisasi dan konsumsi, bukan sebagai praktik yang mendukung kebaikan bersama.

Mark Fisher dalam Capitalist Realism (2009:74) menegaskan bahwa dalam masyarakat yang terkomodifikasi, setiap orang dijebak dalam perasaannya sendiri, terjebak dalam imajinasi-imajinasinya sendiri…dan tidak mampu keluar dari kondisi solipsism (pemahaman bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah pengetahuan diri sendiri).

Selfie sebagai budaya massa justru merupakan teknik mimikri yakni meniru budaya selebriti. Mimikri ini tentu berbeda dengan yang dimaksudkan oleh Homi Bhabha yakni meniru sebagai cara melawan.

Namun, bagaimana kita dapat memastikan bahwa orang yang mengambil foto dirinya sendiri di kebun miliknya merupakan cara ia melawan rezim food estate? Atau bagaimana kita memastikan bahwa orang yang memosting fotonya di pantai di kampungnya merupakan cara ia melawan dominasi pantai tertentu sebagai ikon pariwisata di Indonesia?

Krisis Pengakuan dan Pentingnya Agensi Politik

Budaya atomisasi dan kesepian dalam masyarakat neoliberal itu diintensifkan dengan menawarkan bahwa diri kitalah satu-satunya sumber kenikmatan, pertukaran, dan keajaiban. Karena setiap orang dikondisikan untuk mengatasi kesepian itu dengan berbagai cara, maka terciptalah masyarakat dahaga pengakuan.

Disebut demikian karena neoliberalisme membuat tempat bagi visi masyarakat yang baik diganti dengan visi kebahagiaan individu. Itu ditandai dengan pencarian tanpa akhir akan kepuasan instan dan pengakuan diri.

Membaca peluang ini, muncul gejala operasi plastik (selanjutnya, melalui filter wajah) yang marak beberapa tahun terakhir. Itu berarti, selfie bukan hanya indikasi masuknya masyarakat ke dalam orbit sempit obsesi diri dan sikap individulistik, tapi karena itu juga baik bagi perekonomian, terutama bagi ahli bedah plastik yang biasanya di kalangan elite kaya. Munculnya keegoisan yang tidak terkendali sekarang, sebagian didorong oleh penarikan bentuk modal baru yang tidak mengenal batas dan tampaknya tidak memiliki batasan etis.

Akhirnya, membaca ulang fenomena selfie memberikan kita peluang untuk menulis ulang hubungan antara individu dan politik. Dalam arti ini, alih-alih sebagai budaya isolasi dan privatisasi, budaya selfie dapat diarahkan untuk membangun kerja sama antar-individu dan kelompok guna menciptakan kritik.

Kritik itu dilakukan dengan cara mentransformasi masalah privat sebagai isu publik di satu sisi dan memahami bagaimana kehidupan publik memengaruhi pengalaman privat di lain sisi.

*Tulisan ini terinspirasi dari artikel Henry A. Giroux. 2015. Selfie Culture in the Age of Corporate and State Surveillance. Third Text, DOI: 10.1080/09528822.2015.1082339

Hans Hayon