Filsafat dalam Sosialitas Manusia

Filsafat dalam Sosialitas Manusia
©The Columnist

Filsafat dalam Sosialitas Manusia

Manusia adalah mahluk yang diciptakan Tuhan dengan akal dan perasaan. Dengan akal dan perasaan itu, manusia lebih unggul dibanding dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Karena hal tersebut, dalam proses perjalanan sejarah manusia dengan kemampuan yang dimiliki, manusia mampu memanfaatkan pancaindranya; penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sehingga, manusia mendapatkan pengalaman dengan alam dan dirinya sendiri dengan mengenal pelbagai benda-benda yang ditemui.

Misalnya, rasa manis, wangi, berisik, sakit, dan panas. Dengan pengalaman ini akhirnya manusia tahu. Sebab, manusia adalah mahluk yang dibekali akal, manusia tidak puas dengan hanya tahu rasa tersebut, tetapi ingin mengetahuinya lebih jauh dan mendalam.

Melalui rasa manis, wangi, berisik, sakit, dan panas, maka manusia berusaha untuk mengetahuinya, melalui penyelidikan, penelitian dan sebagainya. Sehingga inilah yang disebut pengetahuan.

Manusia pun mencari sebab akibat sedalam-dalamnya dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada di muka bumi ini. Termasuk mengapa daun-daun pohon, mengalami penuaan dan jatuh ke tanah kemudian hancur menjadi tanah. Termasuk soal asal-usul manusia, kenapa berbeda-beda secara fisik dan cara berpikir.

Pada akhirnya, pertanyaan misteri-misteri itu ada yang ditemukan manusia, dan manusia menemukan banyak hal akan kebutuhannya, namun juga masih banyak rahasia alam ini yang belum terungkap. Hal inilah yang disebut sebagai filsafat.

Pemikiran manusia yang selalu skeptis, tidak pernah puas dengan hanya satu jawaban dan terus bertanya tentang sesuatu yang ada di muka bumi ini akan ‘hakikat’ yang terkandung di dalamnya. Maka, disitulah manusia memulai filsafat. Dengan pengalaman dan pengetahuan manusia pun dikelompokkan dalam beberapa tipe manusia.

Baca juga:

Pertama, manusia yang tahu bahwa ia tahu. Ini yang disebut manusia berpengetahuan.

Kedua, manusia yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Manusia sadar bahwa ia tidak tahu maka melakukan penyelidikan-penyelidikan dan penelitian-penelitian untuk mencari tahu.

Ketiga, manusia tahu bahwa tapi ia tidak tahu Maksudnya bahwa manusia belum tahu. Hal ini berhubungan dengan ketidakmampuan memberikan keputusan dalam mengambil keputusan.

Keempat, manusia yang tidak tahu bahwa ia tahu. Manusia seperti ini adalah manusia yang sok tahu.

Bertolak dari tipe manusia yang disebutkan di atas, manusia dituntut untuk memiliki pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan juga dengan alam sekitarnya untuk mengungkapkan atau mengetahui misteri kehidupan yang belum terungkap. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan pendekatan ilmu pengetahuan.

Dewasa ini ilmu pengetahuan terbagi dalam dua kelompok yaitu ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Namun demikian tidak semua pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan.

Hanya pengetahuan yang memiliki persyaratan sebagai berikut yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan yaitu objektif (memiliki objek kajian), metodis (usaha yang digunakan untuk mendapatkan kepastian kebenaran), sistematis (terumuskan dengan keteraturan membentuk sistem yang terpadu, dan universal (kebenaran yang didapatkan adalah kebenaran universal).

Sebagaimana ilmu alam obyek kajiannya adalah benda-benda dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku di mana dan kapan pun. Karena itu, tingkat kepastiannya tinggi, mengingat obyeknya konkret.

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)