Filsuf Muslim dan Bapak Optik Dunia

Filsuf Muslim dan Bapak Optik Dunia
©Tirto

Filsuf Muslim dan Bapak Optik Dunia

Perkembangan ilmu pengetahuan Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Pemerintahan Dinasti Abbasiyah tepatnya pada saat pemerintahan Harun ar-Rasyid. Kemudian kegiatan penerjemahan karya Filsuf Yunani secara besar-besaran pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid sampai masa pemerintahan al-Ma’mun.

Kegiatan penerjemahan ini berlangsung selama satu abad dimulai pada tahun  750 M. Para Ilmuwan Muslim pertama kali menerjemahkan karya ilmu pengetahuan, sastra, dan filsafat mereka mengalih bahasakan dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Para Ilmuwan Muslim dalam menerjemahkan karya filsuf Yunani ke dalam bahasa Arab dibantu oleh orang Kristen Nestorian dari Suriah. Alasannya karena orang Arab tidak memahami bahasa Yunani dan Aramik, yaitu bahasa Semit kuno yang ada sejak zaman Nabi Isa. Hubungan Muslim dengan Kristen Nestorian terjalin begitu harmonis sehingga Ilmu Pengetahuan Islam mengalami perkembangan yang begitu pesat.

Sejarah mencatat banyaknya para Ilmuwan Islam yang dilahirkan pada masa Keemasan Islam mulai dari yang ahli filsafat, kedokteran, fisika, politik, sains, sastra dan matetamtika. Tradisi Intelektual ini rupanya juga diwarisi oleh Ibnu al-Haitsam seorang Ilmuwan Muslim yang lahir di kota Bashrah pada tahun 965 M, seratus tahun setelah wafatnya Al-Ma’mun dan meninggal di Qahirah pada 1039 M. Ibnu al-Haitsam seorang Ilmuwan yang multitalenta ia ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, filsafat, pengobatan, astronomi, dan tentunya juga ahli dalam bidang agama.

Nama Ibnu al-Haitsam lebih populer di Eropa dengan nama Alhazen. Ia dikenal karena menjadi Ilmuwan pertama yang menemukan konsep-konsep ilmu optik, maka tidak berlebihan jika saya katakan bahwa ia sebagai “Bapak Optik Dunia”. Hasil penemuannya ini kemudian dikembangkan oleh sarjana Barat menjadi optik fotografer modern, perkembangan selanjutnya banyak bermunculan produk seperti teleskop, kamera, dan alat elektronik lainnya.

Ibnu al-Haitsam memiliki keteraturan dalam berpikir terutama dalam hal ilmu optik. Ia menjadi salah satu Ilmuwan Muslim yang sangat jenius di zamannya, bahkan kejeniusannya melampaui fisiknya.

Saya membayangkan jika Ibnu al-Haitsam masih hidup maka ia akan meruntuhkan teori-teori Ilmuwan Barat misalnya seperti Richard Lynn dan John Harvey yang meneliti tentang adanya hubungan negatif antara kecerdasan dengan keimanan. Mereka berpendapat bahwa makin cerdas seseorang maka akan makin sekuler atau bahkan menjadi ateis sementara makin bodoh seseorang ketika ia menjadi religius. Sebagaimana Verhage yang mengatakan bahwa orang agnostik dan ateis memiliki IQ di atas rata-rata bila dibanding orang yang religius.

Maka Ibnu al-Haitsam menjadi contoh nyata yang meruntuhkan anggapan mereka tentang menjadi agnostik atau ateis memiliki IQ di atas rata-rata. Tentu asumsi mereka sangat rapuh dan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Kecerdasan seseorang tidak diukur dari beriman atau tidak beriman jadi tidak ada hubunganya antara kecerdasan seseorang denganberiman atau tidak. Kata Rene Descrates eksistensi kecerdasan seseorang muncul ketika manusia berpikir.

Baca juga:

Pengetahuan Ibnu al-Haitsam  sangat luas antara ilmu umum dengan ilmu agama ia mampu mengintegrasikan keduanya, dengan demikian ia tidak terjebak pada ateisme. Sejak remaja al-Haitsam  sering melakukan penyelidikan mengenai cahaya sehingga hal ini menginspirasi Ilmuwan Barat seperti George Bacon, Kepler, dan Boger untuk menciptakan mikroskop dan teleskop.

Prestasi besar al-Haitsam sebagaimana disebutkan dalam bukunya ialah penemuannya mengenai kotak hitam (black box) sebagai cikal bakal membuat kamera. Maka dengan demikian al-Hitsam merupakan orang pertama yang mengkonsep dan mendesain kamera atau disebut camera obscura.

Para sarjana Barat banyak yang merujuk karya Ibnu al-Haitsam dalam pengembangan sains khususnya mengenai optik. Sebagaian besar penelitian Ibnu al-Hitsam disatukan dalam buku yang berjudul al-Manazhir dan merupakan kitab monumentalnya. Para sarjana Barat masih cukup objektif dalam merujuk karya Ibnu al-Haitsam mereka betul-betul menghargai karya al-Haitsam.

Kemudian pada tahun 1572 M  karya al-Hitsam diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Ibnu al-Hitsam dalam merumuskan teori optik mendasarkan pada kaidah-kaidah bahwa pengelihatan tidak terjadi kecuali dengan optik. Maksud dari teorinya ini yaitu benda yang menjadi obyek pengelihatan itu memiliki cahaya baik dari benda itu sendiri ataupun dari luar benda itu.

Antara benda dan pengelihatan harus memiliki jarak tertentu agar tampak wujudnya dengan jelas serta tidak ada dinding pemisah antara mata dan benda kecuali bersifat transparan. Benda-benda yang dilihat juga harus memiliki volume dan ketebalan tertentu sehingga mampu ditangkap oleh indra pengelihatan.

Ibnu al-Hitsam menyimpulkan teorinya bahwa pengelihatan tidak akan terjadi kecuali adanya cahaya pada suatu benda sehngga dapat dilihat oleh mata. Ia menjelaskan secara spesifik mengenai alur terjadinya pengelihatan melalui mata. Terlebih dulu ia menjelaskan tentang fungsi anatomi tubuh lalu menjelaskan tentang indra pengelihatan.

Ibnu al-Hitsam menjelaskan teorinya secara sistematis dengan cara logis dan rasional. Secara tidak langsung teori Ibnu al-Haitsam meruntuhkan teori empirisme milik David Hume, ia memandang bahwa sumber ilmu dalam mencari kebenaran hanya bisa dicapai dengan panca indra dan metode empiris. Sehingga mengseampingkan peran akal.

Tentunya tesis David Hume ini keliru pasalnya panca indra terutama mata tidak akan melihat obyek kecuali ada cahaya yang datang pada benda tersebut.

Baca juga:
Refrensi
  • Sudrajat, Ajat. 2015. Sejarah Pemikiran Dunia Islam dan Barat, Malang: Interans Publishing.
  • Nakosteen, Mehdi. 2003. Kontribusi Islam atas Dunia Intlektual Barat; Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Surabaya: Risalah Gusti.
Ferry Fitrianto
Latest posts by Ferry Fitrianto (see all)