Formalisme Rusia adalah salah satu pendekatan dalam sastra yang telah menciptakan keributan dan perdebatan di kalangan cendekiawan dan pengamat sastra. Pada intinya, formalism mencoba untuk memisahkan karya sastra dari konteks sosial dan historisnya, fokus pada strukturnya—seperti bentuk, teknik, dan elemen gaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang mendalam: Apakah benar kita bisa menilai karya sastra secara objektif, tanpa terpengaruh oleh latar belakang penulis atau keadaan sosio-kulturalnya? Di sisi lain, karya Budi Darma, “Pengantar Teori Sastra”, mengemukakan pandangan yang berbeda, yang berusaha menyelami lebih dalam hubungan antara karya sastra dan konteksnya. Dalam panduan ini, mari kita eksplorasi bagaimana formalism Rusia berinteraksi dan disanggah oleh gagasan demi gagasan yang dipaparkan dalam buku Darma.
Formalisme Rusia lahir pada awal abad ke-20, dengan tujuan yang ambisius: untuk mengembangkan landasan teoritis yang sepenuhnya otonom dari narasi arsitektural dan ideologi sosial. Ekspresi yang paling terkenal dari formalism ini adalah pengamatan bahwa bentuk selalu berbicara lebih lantang daripada isi. Pemikir seperti Viktor Shklovsky dan Roman Jakobson menekankan pentingnya “defamiliarization”, atau membuat hal yang biasa terasa asing. Melalui proses ini, pembaca diharapkan bisa mengalami kembali teks sastra dengan cara yang baru, yang memunculkan keajaiban dan menghilangkan rutinitas dari pembacaan.
Akan tetapi, kritik terhadap formalism Rusia sering kali berkisar pada pengabaian mereka terhadap konteks sosial dan politik. Dalam upaya ke arah “keobjektifan”, apakah formalist justru menciptakan jarak yang merugikan pemahaman keseluruhan tentang karya sastra? Konsep yang dinyatakan dalam “Pengantar Teori Sastra” oleh Budi Darma menjelaskan pentingnya menempatkan karya sastra dalam ranah yang lebih besar. Ia menyarankan bahwa setiap teks tidak dapat dipisahkan dari suasana hati pengarangnya, sejarah zamannya, dan interaksi antara pembaca dan teks.
Budi Darma menandai bahwa teori sastra tidak hanya seharusnya bersifat akademis, tetapi juga harfiah, bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Melalui pendekatannya, ia mengakui pentingnya elemen-elemen eksternal yang mempengaruhi setiap penulisan. Dengan penekanan pada konteks, Darma mengajak kita merangkul nuansa, lapisan makna, dan interpretasi yang melintasi batasan formal yang keras. Pendapat ini bisa jadi mencerminkan realitas masyarakat kita yang lebih dinamis dan pluralis, di mana suara-suara minoritas dan cerita dari berbagai latar belakang juga perlu didengarkan dan diakui.
Pada tataran praktis, kritik Darma terhadap formalism Rusia berakar pada bagaimana pendapat-pendapat tersebut berfungsi dalam cara masyarakat memahami sastra. Dalam dunia di mana ide-ide baru sering kali saling bertabrakan, penting bagi kita untuk tidak hanya berpegang pada satu perspektif. Konteks sosial dan budaya tidak hanya menentukan cara karya sastra ditulis, tetapi juga bagaimana kita menafsirkannya. Dalam hal ini, formalism bisa dilihat sebagai kaca yang memperlihatkan refleksi terbatas. Hanya melalui penggabungan pandangan yang lebih komprehensif—yang menghargai interaksi antara teks dan konteks—saja kita bisa menghargai multidimensionalitas sastra.
Namun, bukan berarti pendekatan formalism sepenuhnya cacat. Terdapat aspek-aspek dari analisis struktural yang tetap relevan. Misalnya, formalist yang menganalisis ritme dan teknik naratif dalam sebuah puisi akan menemukan keindahan dalam kekuatan estetika, yang mampu menyentuh perasaan pembaca meskipun tanpa konteks. Di sinilah letak ambivalensi antara formalism dan pandangan holistik yang diusung oleh Darma. Seolah dunia sastra adalah sebuah lukisan berlapis, di mana setiap lapisan memiliki warna dan makna tersendiri.
Pentingnya diskusi ini tidak bisa diabaikan. Di tengah ketidakpastian zaman yang terus berubah, keberadaan berbagai teori sastra memberikan kita alat untuk memahami kenyataan yang kompleks. Apakah kita lebih suka melihat sastra dari sudut pandang yang kaku seperti formalism, atau lebih memilih pendekatan yang menyambut segala aspek kehidupan yang terkandung dalam karya sastra yang dimaksud? Saat kita menjelajahi ide-ide ini, kita mulai mengerti bahwa sastra bukan sekadar karya, melainkan juga dialog, sebuah ruang bagi pemikir dan penikmat untuk mendiskusikan kehidupan.
Akhirnya, perdebatan ini adalah panggung tempat berpijak, di mana setiap teori mengambil bagian. Kita tidak bisa menyisihkan formalism begitu saja; tidak juga bisa mengabaikan apa yang disarankan Budi Darma. Menghidupkan karya sastra sebetulnya berfungsi untuk menelisik lebih dalam, menjadi pemandu untuk menjelajah kedalaman makna. Sastra, dalam semua keindahan, kompleksitas dan kedinamisan, membentangkan jendela ke dalam jiwa manusia. Dengan memahami dan menghargai setiap perspektif, kita tidak hanya menemukan kekaguman pada karya sastra, tetapi juga pada diri kita sendiri, sebagai pembaca yang menjelajahi perbendaharaan kata demi kata.






