Formalisme Rusia dan Kritik atas “Pengantar Teori Sastra” Budi Darma

Formalisme Rusia dan Kritik atas “Pengantar Teori Sastra” Budi Darma
©Bukalapak

Syahdan, saya harus menganalisis karya sastra Indonesia menggunakan teori Formalisme Rusia. Saya mencari beberapa buku 10 tahun terakhir yang merupakan referensi teori tersebut dari iPusnas. Hélas. Tidak dapat.

Karena deadline cukup ketat, akhirnya saya memutuskan mencari sumber asli tentang Formalisme Rusia. Jadul yo ben, pikir saya.

Saya membaca satu per satu esai Jakobson, Eichenbaum, Shklovsky.

Aliran Formalisme Rusia ini marak sekitar tahun 1910-an hingga 1930-an dengan tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Viktor Shklovsky, Roman Jakobson, Boris Eichenbaum, Yuri Tynianov, Vladimir Propp, Boris Tomashevsky, Grigory Gukovsky, dan beberapa nama lain. Formalisme Rusia menentang Pendekatan Biografis dan Simbolis abad ke-19 yang memahami karya sastra dari hubungannya dengan pengarang, pembaca, dan latar belakang sejarah.

Intinya, konsep kesastraan atau literariness Formalisme Rusia menekankan pentingnya defamiliarisasi. Defamiliarisasi adalah keganjilan dan/atau kekhasan dalam karya sastra yang membuatnya menjadi berbeda dari bahasa sehari-hari. Melalui konsep yang diperjuangkan Kaum Formalis Rusia, karya sastra dikaji sebagai suatu objek mandiri.

Analisis teks dilakukan secara internal, pada unsur intrinsiknya dan strukturnya, serta memisahkan teks dari unsur ekstrinsik. Berfokus pada teknik, perangkat, dan fungsinya. Memisahkan antara “fabula” atau cerita dengan “sjuzet” atau alur cerita. Di Rusia sendiri, Formalisme telah menjadi inspirasi aliran Futuris (1912 – 1917) yang juga memusuhi Simbolisme.

Secara garis besar, hal ini juga dilakukan aliran Strukturalisme. Tetapi hubungan Formalisme Rusia dengan Strukturalisme Ferdinand de Saussure merupakan hubungan yang kompleks.

Dari esai Roman Jakobson berjudul “Linguistics and Poetics” (1963), dapat ditelusuri bahwa ia mengawali kariernya di OPOJAZ (jurnal kaum formalis Rusia) lalu pindah ke Praha, Cekoslowakia di mana ia bergabung dengan lingkaran linguistik, yang dalam berbagai cara terbukti menjadi asal mula apa yang disebut strukturalisme.

Baca juga:

Melalui korespondensi, Jakobson memengaruhi Claude Levi-Strauss (seorang antropolog). Sehingga dikenal dengan teori Antropologi Struktural sekitar tahun 1940.

Lalu metode strukturalis banyak diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk antropologi, sosiologi, psikologi, kritik sastra, ekonomi, dan arsitektur. Selain Lévi-Strauss, pemikir paling terkemuka yang terkait dengan strukturalisme adalah psikoanalis Jacques Lacan dan strukturalisme genetik Lucien Goldmann.

Satu bulan setelah invasi Hitler ke Cekoslowakia pada tahun 1939, Jakobson (yang lahir sebagai seorang Yahudi; pada tahun 1975, ia masuk Kristen Ortodoks) meninggalkan Praha menuju Skandinavia; pada tahun 1941, dia mencapai Kota New York. Sejak tahun 1943, dia mengajar di Universitas Columbia, dan pada tahun 1949 diangkat menjadi ketua di Universitas Harvard.

Di Amerika sendiri, sekitar tahun 1940-an, lahir aliran New Critics. New Critics, meskipun tidak pernah merupakan kelompok formal, ia tercipta dari pengajaran John Crowe Ransom di Kenyon College, yang murid-muridnya Allen Tate, Cleanth Brooks, dan Robert Penn Warren kemudian mengembangkan estetika tersebut dan dikenal sebagai Kritik Baru atau New Critics.

Akan tetapi, secara tidak sengaja saya membaca buku “Pengantar Teori Sastra” tulisan Budi Darma (2019), diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dalam koleksi iPusnas. Dan saya menemukan hal ganjil yang ingin saya sampaikan.

Buku Budi Darma ini sebenarnya asyik karena merupakan sintesis aliran-aliran sastra dari yang jadul hinga mutakhir. Mirip buku “Theory of Literature”-nya Wellek and Warren dan ditambah dengan sastra Indonesia sebagai contohnya. Bagus dan bisa jadi sangat membantu.

Tapi satu hal yang sangat membuat saya tidak nyaman: Budi Darma menyebut beberapa kali dalam bukunya bahwa New Critics telah memengaruhi Formalisme Rusia.

How come? Wong New Critics lebih muda dari Formalisme Rusia. (ini seperti kasus saat saya membaca sebuah esai yang mengatakan Rimbaud telah memengaruhi Baudelaire: tahun 1867 Baudelaire meninggal, Rimbaud masih 13 tahun tapi sudah bisa memengaruhi)

Halaman selanjutnya >>>
Naning Scheid
Latest posts by Naning Scheid (see all)