Fungsi Liberal Televisi Regional

Fungsi Liberal Televisi Regional
©DenikN

Televisi lokal ataupun televisi regional sudah saatnya tampil sebagai penyeimbang pengisian konten-konten yang mahaluas.

Pergeseran televisi analog dengan kanal terbatas ke televisi digital yang multikanal mengakibatkan fungsi sosial televisi berbelok menjadi perpanjangan bisnis yang menggurita. Ketersedian kanal penyiaran yang melimpah dari televisi digital menjadikan pemirsa tak lebih menjadi bulan-bulanan iklan dan provokasi ekonomi lainnya.

Masyarakat menjadi target utama produk televisi beserta pernik-pernik teknologinya. Konten-konten yang disajikan terkadang kurang berkualitas dan setengah matang demi kejar tayang.

Berjilid-jilid tanpa kenal ampun dan saling baku tembak dengan kepentingan bisnis tertentu. Untuk membagi segmen yang mahaluas ini, diperlukan konten-konten yang bermutu, agar televisi cukup menopang fungsi sosialnya terhadap kebutuhan informasi dan hiburan masyarakat.

Jika kita menyerahkan konten-konten penyiaran hanya kepada televisi penyiaran digital yang multikanal tersebut, sudah dipastikan keterpenuhan fungsi sosialnya akan termakan oleh irisan tajam bisnis korporat tertentu.

Untuk itu, televisi lokal ataupun televisi regional sudah saatnya tampil sebagai penyeimbang pengisian konten-konten yang mahaluas tersebut. Segmentasi konten yang bisa dibagi kepada televisi lokal atau daerah biasanya yang berhubungan dengan kemampuan untuk mengelolah berita regional atau daerah ataupun hiburan yang berbasis muatan lokal setempat.

Hal terpenting lainnya adalah memaksimalkan kemampuan lokal untuk membangun, produksi, meyiarkan, dan memilih konten (materi) dan talenta (pelakunya). Budaya audio-visual dari sebuah telivisi digital multikanal merupakan garapan penting bagi televisi regional ataupun lokal untuk mengembalikan fungsi televisi sebagai alat komunikasi dan hiburan bagi masyarakat.

Kehebatan televisi sebagai media komunikasi massa adalah dapat menguasai ruang dan waktu. Siaran-siaran jenis langsung, tunda, hingga ulang merupakan bentuk-bentuk keunggulan digital yang belum tentu dimiliki oleh media lain. Jangkauan siar yang luas dan cepat merupakan keunggulan televisi dalam hal mengatasi masalah jarak dan waktu.

Televisi juga mampu menyajikan perpaduan unggul antara gambar dan suara yang dikemas dalam satuan hidup, sinkron bergerak, dan bahkan gratis. Di sisi lain, untuk itu semua, diperlukan biaya yang tak sedikit untuk sebuah mata acara.

Dengan melihat sisi kegratisannya, di sinilah titik penting untuk mengembangkan televisi sebagai media perlawanan dan kebebasan yang efektif. Model penyiaran yang berbasis SSU (Saluran Siaran Umum) yang gratis diharapkan mampu meredam dominasi siaran berbayar SST (Saluran Siaran Terbatas) yang full bussiness oriented.

Televisi regional dengan idealisme lokalnya diharapkan mampu menegakkan perlawanan terhadap beringasnya gurita bisnis televisi-telivisi mainstream. Televisi regional harus mampu menjadi institusi tersendiri yang tidak didekte oleh institusi ataupun pemodal mana pun.

Televisi regional harus mampu menyaingi kekuatan-kekuatan dominasi penyiaran penguasa (acta diurna) ataupun dominasi kebijakan dewan (acta senata). Tidak serta-merta menjilat-jilat penguasa untuk sebuah acara seragam dan wajib. Televisi regional mempunyai kebebasan dan perlawann jika mendapatkan ketimpangan pemberitaan yang berbasis dominasi sepihak.

Sebagaimana dominasi TVRI yang pernah menjadi pemain tunggal selama 35 tahun, akhirnya diruntuhkan oleh televisi-televisi swasta nasional seperti RCTI dan lainnya. Pun, begitu selanjutnya, televisi-televisi swasta nasional yang bermunculan juga tak kalah dominannya untuk urusan perang pariwara dan produk.

Hingga tibalah masa sekarang yang dapat Anda lihat serta rasakan. Televisi-televisi swasta nasional tersebut akan terus bergulat dengan kepentingan ekonomi dan politik penguasa. Masyarakat menjadi target penyiaran (audience target).

Udara dan atmosfer sebagai tunggangan gelombang elektromagnetik yang bebas adalah dasar-dasar frekuensi penyiaran liberal yang tak boleh dibatasi siapa pun. Segmen-segmen frekuensi tidak boleh dimonopoli atas dasar jual-beli udara bebas sebagai sarana penyiaran. Silakan berebut secara bebas atas khalayak dan pemirsa.

Izin penyiaran cukuplah berbasis pembagian frekuensi agar tidak saling-silang. Dan, bukan sebaliknya. Menjadikannya sebuah monopoli atas survei-survei lembaga konyol yang menjadi malaikat penilai sebuah penyiaran seperti VNU corporate yang mengoperasikan skala-skala AC Nielsen yang cenderung mengesampingkan peran-peran minor televisi regional.

Televisi regional juga harus diberi kebebasan untuk memperluas sistem penyiarannya yang tak terbatas pada model SSU (Saluran Siaran Umum) saja. Mereka juga berhak atas model penyiaran lain seperti model penyiaran kanal tak terbatas atau teknologi satelit. Dengan begitu, perkembangan konten dan talenta televisi regional mampu menampung semua kebebasan yang seharusnya bebas.

Termasuk urusan kebebasan izin dalam konvergensi penyiaran lintas perangkat atau multilayer. Konvergensi media ini membuat kemudahan akses bagi penggunanya ketika siaran televisi bisa diakses lewat perangkat telepon pintar.

Dengan konvergensi untuk keragaman siaran mutlak diperlukan bagi televisi regional untuk menggarap konten-konten lokal. Konvergensi yang masih bersifat sentralistis di Jakarta belum menjadi kebutuhan bagi penonton di daerah.

Negara sebagai penguasa spektrum frekuensi seharusnya mendukung perkembangan televisi regional yang mempunyai corak dan khas penyiaran menurut visi dan misi mereka yang bebas. Negara akan lebih bijak jika hanya sebagai pengatur spektrum frekuensi saja agar tidak saling tumpang-tindih di udara.

Televisi regional bisa berbentuk sebagai lembaga penyiaran swasta ataupun lembaga penyiaran komunitas yang independen dan bebas merdeka. Sedang kehadiran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) bagi kebebasan televisi regional, cukuplah sebagai wasit saja. Tak perlu masuk terlalu dalam. Jika ada yang “nakal”, dicubit lembut saja.

Karya televisi yang mendatangkan kesenangan, kemuliaan, dan kebajikan bagi khalayaknya tidak akan lahir dari sebuah aturan-aturan sangat ketat yang tak perlu itu. Yang terpenting, televisi regional mampu fokus produksi, visi tajam, punya pengetahuan dan skill, serta dukungan teknologi yang tepat.

Fungsi liberal televisi regional juga tergantung pada pola muara produksinya. Produser yang masih dibatasi oleh visi pemodal tak akan pernah berhasil menghasilkan siaran bermutu yang berbasis kebebasan.

Fungsi liberal televisi regional juga harus mampu menunjukkan kemampuan meredam segala bentuk pemaksaan dan kekerasan konten. Penyusunan suatu deskripsi normatif mengenai media televisi, paling tidak, melibatkan diskursus tiga pihak, yaitu negara, publik, dan pasar.

Interelasi antar-tiga posisi tersebut akan menentukan fakta riil mengenai posisi televisi swasta pada saat ini. Ini merupakan suatu titik penting, di mana tercapai suatu keseimbangan antara kapitalis dan intervensi publik (konteks liberal). Demikian pula dengan posisi negara dalam keseimbangan tersebut.

Dalam konteks ekonomi politik, yang lebih penting adalah bagaimana posisi normatif (teoritis) yang harus dikonseptualisasikan untuk mencapai suatu posisi ideal eksistensi televisi regional. Jangan sampai kepemilikan saham di media televisi regional tersebut menjadi bentuk hegemoni baru dari penguasa bersifat konsumtif, hedonis, dan barangkali apolitis.

Televisi regional ataupun swasta yang berbasis komunitas jangan sampai menjadi bentuk baru dari “monopoli” kebijakan negara atas media sebelumnya. Demokratisasi dalam penyiaran selalu bertumpu pada dua pilar utama.

Pertama, apakah benar demokrasi sebagai jaminan tidak adanya intervensi pada muatan isi dan perbincangan di media penyiaran dalam bentuk apa pun, termasuk intervensi melalui badan kontrol yang sejatinya berasal dari kehendak masyarakat?

Kedua, apakah sudah ada keterbukaan bagi partisipasi semua pihak secara setara dan independen, di mana media siaran adalah ruang publik yang dapat diakses setiap lapisan masyarakat melalui dua bentuk, yaitu kepemilikan dan investasi?

Artiya, televisi regional ataupun lokal harus siap sebagai pelopor liberalisme atau sebaliknya, menjadi musuh demokrasi.

Baca juga:
Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)