Gadis yang Lahir di Hari Kamis

Lahir di hari Kamis bagi perempuan di desa ini adalah musibah terbesar.

Hujan rasa gerimis menemani sore duka kami. Para jemaah terlihat mulai meninggalkan pusara kedua orang tua kami. Yang tersisa hanya isakan tangis istriku dengan segala penyesalan yang entah harus ke berapa kalinya aku terus menyalahkan Tuhan.

“Aku salah apa, mas? Kenapa harus aku? Kenapa tidak Mardiyah yang bejat itu?”

Bleddaaar…!!! Suara petir mengiringi pertanyaan istriku. Aku hanya bisa menjawab dengan belaian lembut di rambutnya yang lurus agak bergelombang itu.

“Ayo, le’[1], kita pulang. Baju kalian basah semua. Ini sudah mulai gelap.” Ibuku menepuk pundakku, mengingatkan bahwa sudah waktunya untuk pulang.

“Benar apa kata ibumu. Cepatlah berdiri, le’.” Mertuaku yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah dari istriku menegaskan perintah ibuku.

***

Orang-orang di desanya sering memanggilnya Zulaikha. Di desanya, tidak ada yang menandingi kecantikan wajah anggun nan ayunya. Paras itu seperti warisan langsung dari Ratu Cleopatra sekaligus Athena.

Hidung mancung membuat siluet bayang yang indah; mata lentik melambai-lambai; rambut hitam pekat agak bergelombang; terakhir, kulit yang khas tidak hitam dan tidak terlalu putih; kuning langsat yang tidak melupakan wajah perempuan Indonesia. Sebuah harmonisasi yang sempurna.

Jika ia berkumpul dengan gadis-gadis yang lain, orang-orang akan langsung mengetahuinya kalau itu adalah Zulaikha karena ia lebih tinggi daripada teman-teman yang lainnya, dan tentu lebih mencolok. Jika ia berjalan, tidak pernah lepas dari sorot mata para lelaki di desanya. Bahkan ketika makannya pun pelan-pelan; penuh keanggunan. Segala sesuatu yang ada pada dirinya selalu menjadi referensi ukuran cantik di desanya.

“Duh, nduk’[2]nduk’…. Bapak sudah tidak bisa menghitung lagi, nduk’. Sudah ke berapa kalinya para anak saudagar kaya itu datang dan pergi; gagal melamarmu.”

“Tidak apa-apa, pak. Kita sabar saja. Suatu saat nanti pasti ada lelaki yang mau hidup bersamamu.” Ibuku berusaha menenangkan kegelisahanku. Aku hanya terdiam membereskan makanan di meja bekas tamu tadi dan berjalan ke belakang tanpa sepatah kata pun.

***

Peristiwa itu terjadi sekitar 24 tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang tidak pernah diinginkan oleh semua orang di desa ini. Sebuah pilihan yang harus dipilih tanpa bisa kita memilih.

Pada hari itu, tepatnya hari Kamis, lahirlah bayi perempuan yang begitu manis dan cantik. Di bawah lampu temaram itu, sang ayah dari bayi tersebut meneteskan air mata. Tetesan karena bahagia bercampur dengan kesedihan.

“Maafkan ayah dan ibumu, nduk’, kamu telah ditakdirkan menjadi perempuan yang lahir di hari Kamis. Semoga kita semua bisa menjalani kehidupan ini.”

“Bagaimana ini, mas? Aku tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya anak kita lahir pada hari sial ini.”

“Tidak apa-apa, sayang. Bagaimanapun juga, ini adalah kado terindah dari Tuhan.”

***

Aku sebenarnya sudah tahu, dan sudah menjadi rahasia umum di desa ini bahwa perempuan yang lahir di hari Kamis dirinya akan dikutuk oleh hari itu. Selamanya dia tidak akan bisa menikah dengan lelaki mana pun.

Sesuai dengan adat yang berlaku di desa ini, dengan lantang dan tanpa bisa diganggu gugat, ia berteriak: “Siapa pun perempuan yang lahir di hari Kamis, maka jika ia menikah, salah satu dari kedua orang tuanya, baik dari laki-laki ataupun perempuan, akan mati.”

Lahir di hari Kamis bagi perempuan di desa ini adalah musibah terbesar. Tidak jarang banyak orang tua yang lebih memilih untuk membunuh anaknya sendiri daripada dirinya harus mati.

Jika para tetangganya menanyakan kelahiran bayinya, ia akan menjawab dengan enteng: keguguran. Ada juga perempuan yang memilih untuk bunuh diri ketika mengetahui kebenaran tentang kelahirannya. Ia tidak rela melihat kematian ibu atau bapaknya tepat di depan matanya.

Kecintaan ibu dan bapakku mengalahkan segalanya. Bahkan kedua nyawanya sekalipun. Mereka rela dipertaruhkan nyawanya demi kebahagiaan anak semata wayangnya. Tidak peduli ancaman yang akan datang, mereka tetap bertahan hidup bersama-sama.

Akhirnya, saat-saat menuju kesedihan itu datang juga. Siapa pun orangnya pasti menginginkan yang namanya pernikahan, begitu pula dengan diriku. Tapi, di sisi lain, aku tidak ingin salah satu dari orang tuaku menjadi tumbal hanya karena kebahagiaanku. Pernikahan adalah suatu hal yang membuat orang bahagia, bukannya malah dirundung duka seperti ini. Kalau seperti ini jadinya, lebih baik aku tidak menikah sama sekali.

Sudah hampir lima bulan aku menanti lelaki yang sudi untuk menikahiku dengan segala risiko dan akibatnya, tapi sampai sekarang tidak ada yang berani untuk menentukan tanggal pernikahan. Semua keluarga laki-laki itu saat datang ke rumah, pasti hal yang pertama ditanyakan adalah: “anakmu lahir hari apa?”

Setelah bapak menjawabnya dengan hari Kamis, seketika wajah mereka langsung kusut dan pamit mohon diri.

Bagaimana mungkin kegagalan pernikahan disebabkan karena masalah hari saja? Entah dari mana kutukan itu berasal, yang jelas terdengar kabar dari mulut ke mulut, bahwa memang di desa ini banyak yang memakai bantuan iblis di dalam usahanya untuk memuluskan kesuksesan. Mereka mengambil jalan pintas seperti itu.

Saking banyaknya yang menggunakan bantuan iblis, akhirnya iblis pun memberi kutukan pada desa ini: kelahiran dan juga kematian di hari Kamis.

***

“Akhirnya kita akan bertemu kembali Zulaikha. Sudah 15 tahun aku tidak permah melihatmu kembali. Adakah yang berubah dari dirimu? Masihkah kau ingat janji yang kita ikrarkan dulu?” Entah apa yang membuatku begitu visioner, anak belasan tahun sudah mengikrarkan janji untuk hidup bersama.

Setelah pulang dari rantauan, aku langsung mampir ke rumah Zulaikha, memastikan jika ia masih setia menungguku dan tidak bersama laki-laki lain.

Melihat posisinya sebagai kembang desa di desa ini, rasanya aku ragu jika ia masih sendiri. Aku yakin pasti sudah banyak laki-laki yang akan meminangnya. Mardiyah saja yang cantiknya nomor dua setelah Zulaikha sudah menikah dan mempunyai anak satu. Padahal buruk sekali perangainya, entah sudah berapa kali laki-laki yang pernah tidur bersamanya, apalagi kamu yang sopan, anggun, baik, dan jelita, tentunya sudah mempunyai dua anak seharusnya.

Tapi fakta yang akan membuktikan. Setelah aku sampai di rumahnya, kita akan melihat kebenarannya. Semoga saja ia masih setia.

Sore itu, terlihat Zulaikha sedang menyapu halaman di depan rumahnya. Sesuai dugaanku, tidak ada yang berubah dari dirimu selain bertambah besar dan tinggi tubuhmu.

Dia masih menghadap ke belakang dan masih tidak menyadari kehadiranku, aku mendekat dan …greepp!! Kututupi matanya dengan kedua telapak tanganku dari belakang. Spontanitas Zulaikha langsung menjatuhkan sapunya dan memegang kedua tanganku dengan kuat.

“Siapa ini?”

“……”

“Aku bilang, siapa? Kalau tidak mau mengaku, aku akan teriak!”

“Apa kamu lupa dengan janji kita, Laikha?”

“Janji? Jangan-jangan….”

Kulepaskan kedua tanganku dari matanya, bersamaan dengan itu ia berkata: “Mas Darto?!!!”

Ia berbalik dan langsung memelukku. “Kenapa lama sekali, mas?”

“Nanti akan kuceritakan semuanya setelah kita menikah. Besok, aku akan ke sini lagi bertemu dengan keluargamu untuk membicarakan pernikahan kita.”

“Apa?!! Besok, mas? Sebentar, mas…”

“Kenapa? Apa yang kamu tunggu? Kamu tidak mau menikah denganku?”

“Bukan begitu, mas, tapi…tapi….”

“Pokoknya sampai ketemu besok.”

***

Tepat matahari baru muncul dari peraduannya dan menyisakan bayangan satu tombak, keluarga Mas Darto berduyun-duyun datang ke rumah. Aku masih berdiam diri di dalam kamar memikirkan apa yang akan terjadi. Apakah Mas Darto tetap ingin menikahiku ataukah malah berpaling demi keselamatan keluarganya. Perasaan-perasaan itu terus berkecamuk dalam pikiranku sampai kemudian.

Nduk’…nduk’, sini keluar sebentar.” Bapak memanggilku.

Nggih,[3] Pak.”

Aku langsung duduk di samping bapak dan berusaha tersenyum kepada semua keluarga dari Mas Darto.

“Uwalah, ayuuune cah iki.[4] Ibunya Mas Darto memujiku dan aku balas dengan senyuman.

“Jadi begini, pak…” Bapakku sepertinya ingin memulai pembicaraan yang lebih serius, “Apakah benar Den Darto bersedia menikah dengan putri saya?”

“Siap, pak. Memang apa syaratnya?” Bapak Mas Darto menjawab dengan mantap tanpa ragu.

Bapakku menghembuskan napas panjang, “Sebenarnya sudah banyak laki-laki yang datang ke rumah ini untuk menikahi putri saya. Tapi setelah mendengar syarat dari pernikahan ini, mereka langsung membatalkan rencana pernikahan itu.”

“Emang apa syaratnya? Kenapa bisa sampai tidak jadi seperti itu?” Terlihat kekhawatiran di wajah ayahnya Mas Darto.

“Syaratnya adalah salah satu dari kita harus ada yang mati!”

“Apa?!!!” Ayah Mas Darto terlihat terdiam sejenak sambil memejamkan mata, kemudian menanyakan kembali kesiapannya pada putranya Darto. “Apa kau benar-benar mencintai Zulaikha dan siap menanggung dengan segala risikonya, Darto?”

“Siap, pak. Saya sangat mencintai Zulaikha.”

“Baiklah kalau begitu. Bulan depan kita akan mengadakan acara pernikahan itu.” Dengan mantap Bapak Mas Darto menyanggupi demi kebahagiaan anaknya.

“Benar, pak?!”

“Iya.”

“Kalau begitu, terima kasih banyak, pak, akhirnya ada yang mau menikahi putriku.”

Entah kenapa air mataku tiba-tiba jatuh membasahi pipi membentuk aliran garis ke bawah. Aku masih tak percaya dengan kejadian yang barusan terjadi. Keluarga dari Mas Darto dengan berani menerima risiko yang mengancam keluarganya itu.

Terima kasih, Tuhan. Ternyata kesetiaanku tidak sia-sia. Tapi apakah mungkin aku tega melihat kematian ibu atau bapaknya Mas Darto?

***

Keduanya masih dipenuhi kegelisahan. Dalam pikiran mereka hanya ada tentang kematian ayah atau ibu mereka. Siapa yang tahu? Yang memilih langsung adalah sang iblis. Yang bisa mereka lakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya. Biasanya kematian itu dibayar tiga hari sebelum hari pernikahan. Tak dapat dibayangkan bagaimana rasanya menikah sekaligus digabung dengan berkabung.

Darto mencintai ibu dan bapaknya, begitu juga dengan Zulaikha. Orang tua yang merawat mereka sejak kecil, memberikan kasih sayang tanpa batas, harus menerima kematian yang sudah ditentukan oleh iblis.

Namun, sesuatu hal yang tak bisa dipercaya terjadi begitu saja. Kejadian yang akan menjadi sejarah di desanya dan mungkin mereka akan dikutuk selamanya.

Kecintaan pada Zulaikha membuat Darto tidak tega melihat orang tuanya mati. Akhirnya dia nekat membunuh bapaknya sendiri.

Tepat tiga hari sebelum pernikahan, dia mencabut sendiri nyawa bapaknya dengan menggunakan racun yang ia taruh di sapu tangan kemudian mendekap bapaknya dari belakang dengan sangat kuat. Kejadian itu tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh ibunya sendiri. Darto langsung membawa mayat bapaknya sendiri dengan air mata yang terus mengalir. Tidak lama kemudian, Darto langsung memanggil ibunya.

“Buuu!!!” Dengan sisa air mata itu, ia yakin bisa meyakinkan ibunya jika bapaknyalah yang dipilih oleh iblis. Melihat suaminya terbaring, ibunya Darto langsung menangis sejadi-jadinya kemudian langsung pingsan tak sadarkan diri.

“Maafkan aku, pak,” lirih Darto dalam hati.

***

Di atas bumi yang lain, Zulaikha masih bimbang dengan apa yang akan dilakukannya. Ia tidak tega membunuh ibunya sendiri, apalagi seorang ibu dengan anaknya pasti mempunyai hubungan yang sangat kuat. Tapi ia harus tetap melakukannya.

Sama seperti Darto, ia tidak ingin melihat Darto dalam kesedihan. Selain itu, ia tidak sudi jika nyawa orang tuanya ditentukan oleh tangan iblis yang kotor itu. Ia merasa dirinya lebih berhak dan lebih baik daripada iblis.

Pada jam yang sama dengan pembunuhan Darto kepada bapaknya, Zulaikha juga melakukan pembunuhan itu. Ia membuatkan teh untuk ibunya, kemudian ditaburkanlah racun di atasnya. Mungkin rasa manis dari teh itu sudah tidak terlalu kentara, karena sudah banyak air mata yang menetes pada teh itu. Zulaikha mengusap wajahnya dan membersihkan sisa-sisa air mata kemudian mendekati ibunya yang sedang duduk di belakang rumah sambil menyulam.

“Lhoh…lhoh…, kenapa matamu itu, nduk’? Kok bisa sembab begitu?”

“Engga kok, ma. Ini Zulaikha terharu saja akhirnya bisa menikah.”

“Oh gitu to. Yaudah, Ibu minum ya tehnya. Kok agak asin ya, nduk’?”

Aku hanya bisa melihatnya dengan linangan deras air mata yang tidak bisa kubendung lagi, melihat detik-detik terakhir dari napas ibu tercintaku.


[1] Panggilan untuk laki-laki yang lebih muda dari si pemanggil, berasal dari kata Tol: yang berati kelamin laki-laki dan le: yang berarti anak. Jadi Tole itu maksudnya anak yang mempunyai kelamin laki-laki.

[2] Panggilan untuk perempuan yang lebih muda dari si pemanggil, berasal dari kata Blendukan yang artinya rahim.

[3] Iya.

[4] “Uwalah, cantiknya anak ini.”

Latest posts by Muhamad Firdaus (see all)