Gagal ke Gereja

Gagal ke Gereja
Foto: Tempo

Nalar Warga24 Desember lalu, saya memutuskan untuk ke gereja, ikut ibadah malam natal. Saya memilih untuk ke GKJ Palihan di Kulon Progo, lokasinya ada di proyek bandara NYIA Kulonprogo.

Sekitar jam 1 siang, saya sudah mandi, pakai kemeja dan sepatu. Tak lupa bawa persembahan lalu menembus jalanan Jogja yang sedang panas-panasnya.

Perjalanan dari rumah saya ke sana sekitar satu setengah jam perjalanan dengan motor. Jalanan masih lenggang, belum ada kemacetan seperti biasanya ketika libur panjang di Jogja. Hanya truk-truk besar yang bikin jengkel sepanjang jalan karena susah mendahuluinya.

Sampai di daerah Temon, saya lihat pagar-pagar kawat besi di sepanjang proyek pembangunan bandara NYIA. Saya sempat lihat ada plang GKJ Temon. Saya kira itu gerejanya, ternyata bukan.

Saya lalu membuka google map, mencari lokasi gereja. Menurut panduan google map, saya masih harus jalan ke barat, lalu belok ke selatan tembus ke jalan raya Deandles, lalu jalan sedikit ke timur. Lokasi gereja ada di utara jalan, hanya berjarak 150 meter dari Masjid Al-Hidayah.

Sampai di sana, saya kebingungan mencari GKJ Palihan. Di lokasi yang ditunjukan peta Google, tidak ada bangunan di sana. Satu-satunya bangunan yang mencolok mata adalah Masjid Al-Hidayah, karena cat hijau yang ngejreng. Saya lalu mampir ke masjid dan tanya orang di sana.

Saya jadi kecewa, setelah diberitahu gereja itu sudah dirobohkan. Lebih sedih lagi ketika dapat cerita bahwa itu dirobohkan Angkasa Pura I untuk bandara, warga jemaat tampak berfoto ria, seperti gembira. Informasinya, pihaknya setuju relokasi dan menyerahkan tanahnya untuk pembangunan bandara NYIA.

Dan saya pun gagal ke gereja, karena gerejanya sudah tidak ada. Yang terdekat ada di sebelah barat, itu pun Katolik.

Sebenarnya tidak ke sana pada malam natal tidak membuat saya sedih-sedih banget, toh saya juga jarang sekali ke sana. Yang bikin saya sedih justru tahu ada warga yang mempertahankan haknya, lalu diperlakukan sewenang-wenang oleh negara, rumahnya dirobohkan, ladangnya dirusak, dan gereja tidak berbuat apa-apa.

Miris lagi ketika saya dapat cerita ada warga gereja yang tadinya menolak menjual tanahnya untuk bandara NYIA, berubah pikiran, setelah gereja memutuskan mendukung pembangunan bandara dengan menyerahkan tanahnya.

Lalu saya putuskan malam natal di Masjid Al-Hidayah saja. Kapan-kapan saja ke gerejanya. Malah dapat oleh-oleh cerita untuk kantor.

*Kresna

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)