Gelar Kaya dan Miskin Itu Menyesatkan!

Gelar Kaya dan Miskin Itu Menyesatkan!
©Liputan6

Gelar Kaya dan Miskin Itu Menyesatkan!

Siapa yang tidak ingin kaya raya dalam hidupnya, pun begitu siapa yang mau hidupnya miskin, susah, melarat, dan morat-marit. Namun jika kita berpikir lebih jauh, sebenarnya apa itu kemiskinan dan kekayaan. Sehingga di satu sisi orang mengejarnya dan di sisi lain orang ingin sekali menghindarinya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kekayaan dan kemiskinan. Silakan orang ingin punya cita-cita hidup kaya dan terhindar dari kemiskinan. Namun sekali lagi bagaimana mengukur dia miskin dan kaya serta bagaimana mendapatkan kekayaan dan bagaimana terhindar dari kemiskinan.

Ada banyak berbagai teori yang mengukur dan mendefinisikan mengenai kemiskinan dan kekayaan. Ukuran itu tidak jauh-jauh dari yang namanya nominal atau uang. Ada banyak orang yang bersusah payah siang malam bekerja demi mencapai kekayaan dan terhindar dari kemiskinan.

Berbagai cara dilakukan orang-orang demi bisa mendapatkan uang atau cuan sebanyak-banyaknya. Namun, terkadang cara-cara yang dilakukan telah merusak akal pikiran manusia sehingga lahir yang namanya serakah, rakus, korupsi, bahkan yang lebih parah melakukan pesugihan.

Dalam agama tidak dilarang untuk kaya raya, namun cara-cara yang digunakan juga harus baik, benar, dan bijak. Gelar kaya dan miskin sejatinya telah membuat orang menjadi sesat dan kehilangan akal sehatnya. Kaya dan miskin hari ini hanya diukur dari segi materi, tidak dari segi-segi kehidupan lainnya.

Di satu sisi dengan gelar kekayaannya orang mudah seenaknya berlaku sombong, congkak, dan mempunyai sifat menghina. Pun begitu dengan yang hidupnya kurang beruntung atau miskin merasa malu, merasa diri hina, merasa diri bukan manusia sepenuhnya.

Agar diri tidak terjebak rasa hina dan malu mereka rela melakukan berbagai cara demi bisa kaya, yakni dengan melakukan pembunuhan, perampokan, bersekutu dengan iblis, dan menipu. Pun begitu dengan si kaya, mereka rela mengeluarkan uangnya demi bisa eksis memenuhi gengsi hidupnya agar terlihat tetap mulia dan mampu.

Baca juga:

Padahal jangan-jangan keinginan kita untuk kaya atau untuk terlihat mewah itu sejatinya hanyalah nafsu. Sebagaimana dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, sesungguhnya sesuatu yang menarik hanya ada satu, tetapi muncul dalam bentuk yang bermacam-macam. Tidaklah sadar bahwa manusia dikuasai oleh ratusan keinginan yang berbeda-beda.

Keinginan yang berbeda-beda itu disebut “bilangan” dan bilangan ini merupakan sebuah fitnah, sebagaimana bunyi Surah al-Muddatsir: 31, “Dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu melainkan jadi fitnah (cobaan)” (Rumi, 2014).

Nafsu atau keinginan ini sejatinya adalah cobaan untuk menguji diri, apakah kita bisa menahan diri untuk tidak memperkaya diri, mengejar kekayaan atau gengsi dengan cara brutal, rakus, dan serakah. Pun sejatinya dengan hidup yang dianggap miskin mampukah kita hidup dengan rasa syukur dan bersabar.

Kekayaan dan kemiskinan hari ini hanya diukur dengan materi. Padahal kalau kita ingin berpikir jernih, kaya dan miskin tidak hanya diukur dengan materi, melainkan segala bentuk perilaku hidup kita yang mencakup hal-hal spiritual.

Orang kaya menganggap miskin karena tidak punya harta, pun begitu dengan si miskin menganggap si kaya karena banyak uang. Tapi yang si miskin dan si kaya tidak sadari adalah perilaku mereka berdua.

Di dunia ini ada banyak orang yang kaya, tetapi memiliki perilaku sombong, angkuh, dan congkak. Lihat saja salah satu contoh jika kita berada dijalan, orang dengan angkuhnya menggunakan mobil mewah berperilaku arogan.

Gelar atau identitas kekayaannya telah membuat seseorang lupa diri, namun ada orang yang tidak memiliki materi lebih, hidupnya diliputi kebaikan bahkan bisa membantu orang baik melalui, tenaga dan doanya serta mampu bersyukur dalam setiap keadaan hidupnya. Gelar kekurangan hidupnya dalam hal materi, mampu membuat dirinya lebih bersyukur masih bisa sehat, berbuat baik, legowo, pemaaf, dan ceria.

Terjebak pada gelar kaya dan miskin telah membuat orang lupa bahwa sejatinya yang dilihat dalam hidup itu adalah hatinya. Hati yang baik adalah kekayaan terbesar dalam hidup, orang boleh kaya secara materi tetapi hatinya miskin dan diliputi kotoran dengki, riya, ujub, dan sombong.

Baca juga:

Orang miskin atau kurang secara materi tetapi hatinya kaya, baik dan mulia. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw bahwa dalam diri manusia itu terdapat segumpal daging bila daging itu baik maka baik perilakunya, bila buruk maka buruk perilakunya, daging itu bernama hati atau qolbu.

Sehingga belum tentu kekayaan bisa membuat orang lebih mulia, pun begitu sebaliknya orang yang dianggap kekurangan secara materi atau miskin belum tentu hidupnya hina. Sejatinya kaya atau miskin adalah gelar yang lahir dari proses pikir manusia yang membeda-bedakan orang melalui kelas sosial.

Berusaha untuk hidup yang lebih baik tidak ada yang salah, namun harus diimbangi dengan hati yang bersih, jernih, dan baik serta tidak menggunakan cara-cara yang buruk, lebih-lebih merugikan orang lain.

Bersyukur dan bersabar lahir dari hati yang bersih dan mulia, kedua hal itu adalah kunci dalam menjalani hidup. Bersabar sambil terus berusaha dan berdoa dengan keyakinan kuat kepada Allah Swt, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan adalah karunia terbesar dalam hidup. Sehingga dengan bersyukur dan bersabar orang tidak mudah terjebak pada gelar fana, seperti kaya dan miskin yang justru membuat orang menjadi kehilangan jati diri kemanusiaannya dan akalnya.

Memang berat menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan bersabar, saya sendiri sebagaimana manusia pun mengalaminya. Namun, selagi kita berdoa dan yakin kepada sang pencipta semua akan baik-baik saja.

Daftar Pustaka

Rumi, J. (2014). Fihi Ma Fihi (Mengarungi Samudera Kebijaksaan). Yaogyakarta: Penerbit Forum.

Dimas Sigit Cahyokusumo
Latest posts by Dimas Sigit Cahyokusumo (see all)