Gempa dan Rindu yang Keras Kepala

Gempa dan Rindu yang Keras Kepala
©Liputan6

Hanya berdering. Kucoba lagi, tetap sama; “Nomor yang Anda tuju tidak menjawab” sebanyak 10 kali panggilan tak terjawab. Ketakutan bercampur rindu membuncah, sedikit meruyak emosi. Berselang beberapa menit, BMKG mengupdate info bencana gempa.

“Gempa kembali mengguncang Kabupaten Majene dengan kekuatan 5,2 Magnitudo dengan kedalaman 18 Km (16.34 Wita/Rabu/ 03/02/2021)”.

Kutelepon ibu, ternyata sebagian dari pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. “Karena gempa tadi cukup besar, warga kembali berduyun-duyun ke tenda, nak,” ungkap ibu.

“Berdoa, nak, semoga bencana usai, dan semua diberi keselamatan,” tambahnya.

Sebelumnya BMKG merilis titik gempa berada di lautan sekitar Deking Kecamatan Malunda. Salah satu kawan mengonfirmasi melalui WhatsApp, ternyata titik gempa masih berada di daratan dengan kordinat 2,99 LS, 188.86 BT II 17 KM.

Harusnya, BMKG secepat mungkin mengklarifikasi kepada publik, agar tidak terjadi kepanikan. Sekalipun tidak berpotensi tsunami, namun pikiran awam seperti saya akan sangat ketakutan bila mengetahui gempa terjadi di dasar lautan.

Terhitung dari 14 Januari 2021, kurang lebih 37 kali gempa mengguncang Kabupaten Majene dan sekitarnya dengan kekuatan variatif.  Adapun jika dihitung, gempa kedualah yang lebih kuat, yaitu magnitudo 6,2 pada Jumat, 15 Januari 2021, pukul 01.28 WIB.

Teleponku berdering, dia menelepon, “Karena tertidur hpku tadi ketinggalan,” ungkapnya. Napasnya tersengal-sengal, dia ketakutan. “Aku kira gempa tidak akan datang lagi,” sambungnya terbata-bata.

Sudah dua minggu ini tidurnya tak nyenyak. Matanya merona, sedikit getaran saja ia akan terbangun. Aku tahu dia kesepian, amat membutuhkanku saat ini. Ingin pulang, tapi juga dilarang olehnya.

Rinduku menua, aku benar-benar kewalahan. Makin hari makin keras kepala saja. Aku tidak tahu harus seperti apa. Kadang terlampau egois, bahkan penuh curiga. Tidak, ia tak mungkin ke lain hati. Hanya perlu memastikan kalau dia aman-aman saja. Tapi selalu ada rasa curiga. Sial.

Tapi sudahlah, curigaku mesti kubunuh. Aku sudah memberinya hal amat berkesan dan tak mungkin ia lupakan. Hal yang tidak pernah diberikan oleh laki-laki yang pernah singgah di hatinya. Tempat jadian kami pun amat istimewa, suatu tempat yang tidak akan dikunjungi oleh barisan anak manja. Ya, kami jadian di hutan.

Beberapa bulan lalu, kami terlibat pada perjalanan yang cukup panjang. Dua minggu lamanya kami berjalan dengan jarak kurang lebih 200 Km. Setiap perjalanan dari kampung satu ke kampung lain, tanganku tak henti-henti menjunjungnya. Tak pernah meninggalkannya, kuperlakukan ia ibarat ratu dan aku adalah dayangnya.

Untuk kisah ini, akan kutuliskan secara khusus. Sebab aku tak mau, cerita itu kuulas dengan sederhana. Juga, itu bukan hanya kisahku dan dia, melainkan ratap tangis orang-orang pedalaman di penghujung Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Dia adalah suara parau, yang butuh untuk didengarkan. Butuh diperjuangkan.

Begitulah kisah kami dimulai. Perjalanan Asmara yang menyibak kuntum perlawanan, membongkar sengkarut pemerintahan.

Sekarang kampung-kampung itu terdampak gempa. Ratusan rumah hancur, jalan tertutup akibat longsor. Berhari-hari tinggal di pengungsian sederhana. Tanpa bantuan logistik, selimut, tenda, dan lainya.

Setelah menunggu, alat berat pun dikerahkan. Mereka tak manja, dengan bermodalkan peralatan sederhana, sebagian warga dan relawan tangguh berinisiatif membuka beberapa titik jalan yang tertutup longsor. Kendaraan roda sudah dapat menjangkau kampung-kampung tersebut. Sekalipun terbeber video di media sosial, motor warga terpaksa dipikul di beberapa titik.

Sebelum gempa terjadi, jalan Ulumanda yang menghubungkan antara Kabupaten Majene dan Mamasa ini punya kisah pelik tersendiri. Jangankan roda dua, kuda pun akan ngos-ngosan menapaki jalan tersebut.

Bermula 28 Oktober 2012, momentum Sumpah Pemuda disambut warga dengan melakukan demonstrasi, menuntut pemerintah provinsi Sulbar agar segera mempercepat perbaikan jalan. Hampir tiap tahun mereka bersuara, hasilnya beberapa Km jalan telah diperbaiki.

Bagaimana tidak, jalan ini bukan hanya menyusahkan warga untuk menjual hasil kebun mereka, tapi juga jika ada warga Ulumanda yang meninggal di pesisir, mereka akan menandunya dengan jarak yang jauh, melewati ratusan tanjakan yang dipenuhi lumpur.

Sudah tak terhitung jumlahnya warga bernasib demikian. Beberapa hari sebelum gempa, tepatnya 9 Januari 2021, mayat warga desa Ulumanda ditandu dengan jarak kurang lebih 50 Km. Pihak puskesmas Ulumanda menyatakan, mereka tidak mengizinkan menggunakan ambulans karena kendaraan tersebut diperuntukkan pada pasien.

Sungguh miris mendengarnya. Saya pun tak tahu, apa pihak puskesmas tersebut tidak punya nurani? Mengedepankan aturan di depan jenasah adalah perbuatan paling biadab yang kukenal.

Sebagian warga merantau, mayoritas memilih Kalimantan Timur sebagai tempat mengadu nasib. 2019 lalu, saya mengadakan survei kecil-kecilan dengan responden 100 orang. 65% dari mereka memilih merantau karena alasan “biaya pendidikan mahal”, 10% untuk meningkatkan taraf hidup. 20% karena di kampung tak ada pekerjaan. 5 % karena kebanyakan keluarga sudah menetap di sana (coba-coba). Dan kisah ini pernah saya tulis dalam cerpen “Saat Ongkos Pendidikan Membunuh Petani“.

Bagaimana dengan pelayan pendidikan tingkat dasar? 2 Mei 2018, sejumlah mahasiswa dan pemuda Ulumanda longmarch dari pelataran Unsulbar menuju Dinas Pendidikan Kabupaten Majene. Mereka menuntut pelayanan pendidikan agar berjalan dengan semestinya.

Bagaimana tidak, siswa kelas enam SD yang mereka temukan tidak tahu baca tulis. “Hanya 6 kali pertemuan dalam satu tahun,: ungkap warga setempat.

Di sektor agraria pun mereka kehilangan hak milik dan ruang hidup. Buntut dari negara mencatut tanah mereka dengan dalih kawasan hutan. Ratusan hektare lahan produktif yang dikelola secara turun-temurun masuk dalam kawasan hutan produksi dan lindung. Bahkan 3 perkampungan berada dalam lingkar setan itu; Dusun Rura dan Dusun Katumbangan di Desa Sambabo serta Dusun Ba,ba Lombi di Desa Popenga.

Karena ketidakjelasan batas-batas lahan, akhirnya pun mencuat beberapa konflik antarwarga. Kejadian ini berulang-ulang. Mereka memperebutkan lahan yang telah dicatut oleh negara. Ancaman besar pun menanti, ibarat bom waktu. Pemodal besar punya akses yang begitu lebar untuk diberikan HGU dan semacamnya oleh negara.

Itulah sedikit kisahnya, tentang perjalanan kami. Saya tak perlu umbar bagaimana korupnya para pejabat lokal. Yang sering datang mengatasnamakan bantuan; perikanan atau pertanian; bibit kakao, kopi, dan yang terakhir bantuan bawang putih yang dibuang warga karena sudah membusuk.

Entah berapa anggaran yang hangus percuma karena program-program ngawur seperti itu. Saya lupa, karena sudah sangat sering.

Nalar pejabat tak ubahnya seperti kontraktor. Mikirnya hanya profit, rakyat yang jadi tumbal. Setelah itu, mereka datang lagi dengan iming-iming sejahtera, seperti perhelatan Pilkada Majene November lalu.

Begitulah secuil tentang Ulumanda. Derita yang mengendap bertahun-tahun. Menjadi asa yang tek pernah sampai.

Semoga kalian semua masih dalam lindungannya.

Syam