Generasi Muda Bidik Fantasi Society 5.0

Generasi Muda Bidik Fantasi Society 5.0
©Yoursay

Society 5.0 sebagai komplemen dari Revolusi Industri 4.0 perlu kita bidikkan kepada para generasi muda bangsa.

Teknologi hakikatnya lahir untuk membantu hajat hidup orang banyak. Berbagai macam alat tercipta untuk memudahkan pekerjaan manusia.

Dulu manusia masih menggunakan peralatan yang terbuat dari batu dan tulang belulang untuk berburu dan bertahan hidup. Saat ini, manusia telah menciptakan pelbagai peralatan canggih yang bahkan terasa berada di luar akal sehat.

Perkembangan teknologi saat ini telah mengakar di berbagai macam lini kehidupan. Teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi. Ibarat kata, teknologi telah menyatu dengan bagian tubuh manusia mengingat perkembangan teknologi saat ini telah mencapai pada era Revolusi Industri 4.0, di mana berbagai peralatan canggih telah mengerjakan hampir semua pekerjaan manusia.

Namun adanya Revolusi Industri 4.0 malah menciptakan keresahan bagi masyarakat. Pada era ini, manusia berada pada fase pendekatan dengan teknologi. Yang menjadi ketakutan adalah keberadaan manusia akan tergantikan oleh teknologi. Dengan kata lain, semua pekerjaan manusia akan dialih-fungsikan kepada peralatan canggih atau robot.

Melihat situasi seperti itu, pada saat ajang CeBTT di Kota Hannover, Jerman pada 2017 lalu, mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe merumuskan sebuah konsep memanusiakan manusia dengan teknologi. Beliau menamainya dengan Society 5.0. Hadirnya konsep ini merupakan penyelesaian akan masalah yang timbul dari kekhawatiran masyarakat mengenai Revolusi Industri 4.0.

Melihat akan sejarah, Society 1.0 (Hunting and Gathering) dimulai pada era manusia masih berada pada masa berburu dan mengenal seni tulis-menulis. Lalu Society 2.0 (Agricultural) memperkenalkan manusia akan cara bercocok tanam.

Pada Society 3.0 (Industrial), manusia telah memasuki era industri dan sudah menggunakan mesin untuk membantu pekerjaannya. Dan kini, Society 4.0 (Information), laju perkembangan teknologi dan informasi telah berkembang pesat dan semua pekerjaan dilakukan dengan proses digitalisasi.

Pada Society 5.0, sejumlah informasi dari sensor di ruang fisik nantinya akan terakumulasi di dunia maya. Dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), semua data akan teranalisis lalu diumpan-balikkan lagi ke manusia dalam ruang fisik yang bermacam-macam. Nantinya, pada era Society 5.0, Internet of Things (IoT), AI, dan manusia akan menjadi sebuah komponen yang saling terintergrasi.

Baca juga:

Pemerintahan Jepang menyebut Society 5.0 sebagai ruang maya dan ruang fisik sudah saling terintergrasi. Nantinya gaya hidup masyarakat akan bertransformasi dengan teknologi tanpa menimbulkan kesenjangan dan rasa kekhawatiran terhadap teknologi.

Dalam membidik fantasi Society 5.0, Indonesia harus optimistis bisa mencapai society 5.0. Karena tanpa kita sadari Indonesia sudah hampir melengkapi berbagai komponen dalam menempuh society 5.0. Namun sayangnya eksitensi transformasi teknologi di Indonesia masih abu-abu lantaran masih kurangnya kesadaran dan edukasi.

Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang tidak bisa mengoptimalkan akan adanya teknologi. Nyatanya, sedikit masyarakat yang bisa merasakan akan adanya teknologi. Kondisi tersebut merupakan tugas bagi seluruh elemen masyarakat untuk menyadarkan publik akan kesadaran pendidikan teknologi.

Maka dari itu, kita perlu para generasi muda sebagai tonggak dalam menyadarkan masyarakat bahwa edukasi tentang teknologi sangat penting agar tidak terjadi pendiskreditkan oleh kemajuan teknologi dan tidak mengakibatkan transformasi digital malah menggiring masyarakat berada di bawah kendali teknologi.

Society 5.0 sebagai komplemen dari Revolusi Industri 4.0 perlu kita bidikkan kepada para generasi muda bangsa. Karena hakikatnya generasi muda memiliki perilaku kreatif dan inspiratif, cenderung memiliki pola rasa berpikir yang rasional dengan berpegang teguh pada prinsipnya.

Selain itu, generasi muda perlu kita persiapkan dengan baik. Di antaranya dengan penanaman cara berpikir yang kritis dan kreatif yang kita sebut juga dengan Higher Order Thinking Skills (HOTS). HOTS akan menjadikan para generasi muda dapat berpikir secara kompleks dan sistematis.

Untuk menunjang hal tersebut, kita perlu bantuan dari dunia pendidikan dan berbagai elemen penunjang, karena tidak cukup hanya bergantung pada sarana pendidikan formal saja. Para generasi muda membutuhkan ruang gerak agar mereka dapat mengembangkan kemampuan dan skill. Mengenai hal itu, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mencetuskan gagasan “Merdeka Belajar”.

Melalui Merdeka Belajar, para generasi muda bangsa dapat leluasa dalam mengembangkan skill mereka, tidak hanya monoton belajar ilmu di sekolah. Dengan Merdeka Belajar juga cara berpikir generasi muda menemukan porsi yang sesuai dan tidak harus terpaku pada materi umum sekolah.

Baca juga:

Berbagai bantuan dari berbagai elemen penunjang tersebut akan menunjang para generasi muda bangsa untuk dapat membidik tepat fantasi era Society 5.0. Karena nantinya pada Society 5.0 yang menjadi pengendali utama adalah manusia bukannya teknologi.

Sesuai dengan pidato Bung Karno yang berbunyi, “Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia.” Dengan generasi muda, kemajuan suatu bangsa dapat terlaksana.

    Muhammad Syahrul Fajar
    Latest posts by Muhammad Syahrul Fajar (see all)