Generasi Pasca-Manusia

Generasi Pasca-Manusia
©Getty

Pada mulanya adalah kaki,
lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
Pada mulanya adalah hati,
lalu perjuangan dari ragu ke ragu

—Hasan Aspahani

Kemarin saya merayakan hari ulang tahun kelahiran. Siapa saja yang membaca tulisan ini, dan tentu saja karena ia sudah lahir, memikul tanggung jawab yang sama seperti saya.

Kita memberikan beban sosial, ekonomi, dan politik pada usia. Ada usia produktif di samping usia non-produktif. Ada usia lanjut dan usia kanak-kanak.

Kita, manusia, bertumbuh dengan membuat klasifikasi, pembedaan, bahkan eliminansi. Sejahat atau semulia apa pun alasan yang kita gunakan.

Atas nama pembangunan, kita membajak usia. Padahal, usia hanyalah angka. Ia bergeming di hadapan kita yang berubah serbacepat dan nyaris tak terkendali. Itulah mengapa pertambahan usia tak berjalan sejajar dengan kemajuan karakter dan kecerdasan. Kita mempunyai rumah yang besar dengan dimensi kekeluargaan yang sedikit. Kita memiliki jalan yang lebar namun minim rasa sabar. Kita mempunyai sistem kesehatan yang makin canggih tapi virus dan penyakit makin banyak dan kompleks.

Di satu sisi, kita dengan mudah menemukan seorang anak yang berani memukul ayahnya. Atau seorang anak kecil yang kemampuan matematikanya jauh lebih canggih daripada orang dewasa, dan seterusnya, dan seterusnya. Namun di lain sisi, kita juga menemukan bahwa tempat bagi norma dan nilai dapat dengan mudah digantikan oleh uang dan kekuasaan.

Inilah dunia yang tak pernah kita prediksi sebelumnya. Sebuah dunia dengan batas-batas yang sengaja dibuat cair dan kabur. Batas-batas geografis melempem dalam moda transportasi dan aplikasi 𝘨𝘰𝘰𝘨𝘭𝘦 𝘮𝘢𝘱. Batas antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa roboh di hadapan situs film porno. Batas antara orang pintar dan orang bodoh ambruk di hadapan 𝘞𝘪𝘬𝘪𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 dan praktik jual beli ijazah. Batas antara orang beragama dan ateis dibuat tidak relevan di hadapan fanatisme Euro 2021, dan daftar ini bisa dibuat panjang.

Tidak berhenti di situ. Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dibentuk batas-batas usia baru berdasarkan kluster usia produktif dan usia non-produktif, generasi milenial dan generasi X, dan seterusnya. Kita, manusia, bertumbuh dengan membuat klasifikasi, pembedaan, bahkan eliminansi. Sejahat apa pun itu. Semulia apa pun alasan yang kita gunakan.

Hingga hari ini, pada 2021, kita menggenapi apa yang diusulkan oleh John Walker pada tahun 1988 yang ia namakan sebagai proyek “Pintu masuk ke dalam cyberspace” dengan motto: 𝘙𝘦𝘢𝘭𝘪𝘵𝘺 𝘪𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘦𝘯𝘰𝘶𝘨𝘩 𝘢𝘯𝘺𝘮𝘰𝘳𝘦. Sekejap saja, tanpa membuat pertimbangan yang matang, semua negara di dunia sepakat menerjemahkan proyek itu ke dalam apa yang hari ini kita namakan revolusi industri.

Inilah sebuah dunia di mana kita membangun relasi dan intimasi berdasarkan logika yang tidak berbeda jauh dengan koneksi virtual 𝘸𝘰𝘳𝘭𝘥 𝘸𝘪𝘥𝘦 𝘸𝘦𝘣 (www). Sementara itu, dalam rangka mencari sumber semangat hidup, kita menyembah URL (𝘶𝘯𝘪𝘧𝘰𝘳𝘮 𝘳𝘦𝘴𝘰𝘶𝘳𝘤𝘦 𝘭𝘰𝘤𝘢𝘵𝘰𝘳) sebagai kata kuncinya. Inilah dunia yang disebut oleh Baudrillard sebagai “imagology” dan “McDonaldisasi dunia” versi Ritzer, atau dalam kosakata Giddens, sebuah “dunia tunggang langgang”.

𝗠𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝘀 𝗪𝗮𝗸𝘁𝘂, 𝗠𝗲𝗹𝗶𝗽𝗮𝘁 𝗝𝗮𝗿𝗮𝗸

Pablo Neruda dalam 𝘛𝘩𝘦 𝘉𝘰𝘰𝘬 𝘰𝘧 𝘘𝘶𝘦𝘴𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴 (TBoQ) XXIII menulis salah satu puisi dengan penggalan yang berbunyi demikian:

𝐻𝑜𝑤 𝑚𝑎𝑛𝑦 𝑤𝑒𝑒𝑘𝑠 𝑎𝑟𝑒 𝑖𝑛 𝑎 𝑑𝑎𝑦?
𝑎𝑛𝑑 ℎ𝑜𝑤 𝑚𝑎𝑛𝑦 𝑦𝑒𝑎𝑟𝑠 𝑖𝑛 𝑎 𝑚𝑜𝑛𝑡ℎ?

Sebagai bagian dari masyarakat teknokratis, kita berutang maaf pada generasi di masa mendatang karena ulah kita meringkus waktu; membuatnya menjadi begitu tertentu.

Dalam rangka mendukung kemajuan peradaban dan kebudayaan spesies kita, waktu dikuantifisir, dikalkulasi, dan ditetapkan sebagai durasi dalam parameter linearitas. Itulah mengapa tanpa kalender, Hari Raya Natal dan Hari Proklamasi tidak bisa direncanakan.

Di Indonesia, sejak kolonialisme, kita meringkus waktu ke dalam tiga kategori (WIB, WITA, WIT) dalam rangka menunjang akomodasi transportasi penerbangan. Kita mengklasifikasikan waktu ke dalam jam kerja, hari libur nasional, hari sekolah, hari agama, dan seterusnya.

Tepat di situ, waktu menjadi begitu asing. Kita melepaskan pengalaman historis kita dari waktu. Antara waktu dan eksistensi kita, terdapat jurang yang tak terseberangi melalui seperangkat undang-undang dan peraturan pemerintah. Akibatnya, hati kita sulit tersentuh dengan problem sosial politik bangsa di masa lampau; seolah-olah kisah-kisah historis itu terjadi di benua bahkan planet lain.

Kita melihat sejarah tanpa pemahaman apa-apa selain sebagai sebuah catatan historis yang cukup dihafal sebelum itu diuji. Dengan sedikit banyak sentuhan rezim Orde Baru, secara cepat, bangsa ini telah sama sekali melupakan Soekarno.

Pengaruh jahat itu melebar ke dalam cara kita melipat, baik jarak fisik maupun jarak konseptual dan pelbagai dimensinya. Di hadapan platform semisal zoom dan protokol webinar yang makin menjamur, definisi jarak memendar.

Dengan sedikit sentuhan globalisasi, kita dengan cepat kehilangan orientasi. Jarak antara dunia privat dan publik dibuat tak terbagi, siapa saja dapat menjadi korban sekaligus pelaku kejahatan, orang paling religius serentak pecundang nomor wahid di muka bumi. Atas nama 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑐-𝑝𝑟𝑖𝑣𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑟𝑡𝑛𝑒𝑟𝑠ℎ𝑖𝑝, jalanan dibuat makin licin dan menggelincirkan. Siapa saja pernah terpeleset di sana tapi segera dibuat tak sadar oleh bantuan langsung tunai melalui slogan: orang miskin hanya tergelincir dan bukannya jatuh.

𝐴𝑛𝑑 𝑤ℎ𝑎𝑡 𝑖𝑠 𝑡ℎ𝑒 𝑛𝑎𝑚𝑒 𝑜𝑓 𝑡ℎ𝑒 𝑚𝑜𝑛𝑡ℎ
𝑡ℎ𝑎𝑡 𝑓𝑎𝑙𝑙𝑠 𝑏𝑒𝑡𝑤𝑒𝑒𝑛 𝐷𝑒𝑐𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑎𝑛𝑑 𝐽𝑎𝑛𝑢𝑎𝑟𝑦?
𝐵𝑦 𝑤ℎ𝑎𝑡 𝑎𝑢𝑡ℎ𝑜𝑟𝑖𝑡𝑦 𝑑𝑖𝑑 𝑡ℎ𝑒𝑦 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟
𝑡ℎ𝑒 𝑡𝑤𝑒𝑙𝑣𝑒 𝑔𝑟𝑎𝑝𝑒𝑠 𝑜𝑓 𝑡ℎ𝑒 𝑐𝑙𝑢𝑠𝑡𝑒𝑟?
𝑊ℎ𝑦 𝑑𝑖𝑑𝑛’𝑡 𝑡ℎ𝑒𝑦 𝑔𝑖𝑣𝑒 𝑢𝑠 𝑙𝑜𝑛𝑔𝑒𝑟
𝑚𝑜𝑛𝑡ℎ𝑠 𝑡ℎ𝑎𝑡 𝑙𝑎𝑠𝑡 𝑎𝑙𝑙 𝑦𝑒𝑎𝑟?

(Neruda, TBoQ, XLVI)

Waktu bergulir begitu lincah mengikuti kecepatan pengorganisasian masyarakat. Takut terlambat kereta, khawatir terjebak macet, dan kosakata deadline dan ‘saya tidak punya waktu’ adalah eksperimentasi konkret dari bagaimana otoritas sosial politik membentuk asosiasi kita terhadap waktu, di mana-mana, setiap hari.

Secara cepat, kita kehilangan bukan hanya konsep waktu melainkan pengalaman kita terhadap waktu. Dengan meminjam hukum fisika, Paul Virilio membangun teorinya tentang percepatan dalam bukunya 𝑆𝑝𝑒𝑒𝑑 & 𝑃𝑜𝑙𝑖𝑡𝑖𝑐𝑠. Jika pada Foucault kekuasaan bersumber dari pengetahuan, Virilo berargumen, bukan pengetahuan, kecepatan, itulah sumber kekuasaan. Akibatnya, kita berkompetisi menjadi siapa yang paling cepat mendapat informasi terbaru, mengantisipasi harga saham, bahkan sampai pada level cepat menikah.

Seperti jalanan Jakarta, di hadapan nafsu berkompetisi, pikiran kita mendadak macet: terlalu banyak keinginan yang minta didahulukan sementara terlalu sedikit kesabaran yang kita miliki.

Kita kehilangan diri kita sendiri sebagai manusia.

Di bidang kesusasteraan, banyak puisi dan prosa ditulis tanpa mengatakan apa-apa selain narsisme. Tidak berbeda jauh dengan tidak sedikit politisi kita yang gemar memamerkan harapan yang gincu. Sesuatu yang menarik namun lekas pudar.

Demikian pula di bidang pendidikan tinggi. Masing-masing mahasiswa berkompetisi menjadi yang paling penting di mata birokrasi kampus. Sementara itu, kampus dibuat makin jauh dari masyarakat. Banyak pusat perbelanjaan, kantin, ATM, dan berbagai jenis fasilitas umum dibuat terpusat dalam jangkauan kampus sekaligus membatasi interaksi mahasiswa dengan warga sekitar: pedagang angkringan, warung rakyat, petugas parkir, tukang ojek, petani, dan lain-lain.

Tidak heran jika mahasiwa hari ini merupakan gambaran dekat dari “people affected by strong feelings of love and anger for their world but unable to give voice to the anger for fear of “saying the wrong thing”, tulis Lemert (2004:23).

Hingga pada titik tertentu, mungkin di masa depan yang nyaris tak kelihatan itu, kita mungkin mengungkapkan pernyataan yang cenderung gagal menjadi kalimat tanya,

“Tuhan, mengapa Engkau memberikan manusia, usia”?

Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)