Generasi Tua yang Rentan Sebaiknya Rebah dari Kursi Kekuasaan

Generasi Tua yang Rentan Sebaiknya Rebah dari Kursi Kekuasaan
┬ęSindo

Tepat enam hari yang lalu, sahabat terdekat saya menghubungi via telepon. “Bro! Ada yang tersinggung sama ucapanmu. Bicara hati-hati ya, Bro. Terkadang manusia semakin tua semakin rentan untuk tersinggung.”

Lebih kurang begitulah kalimat yang mengusik sendunya sore saya bersama kopi dan sebatang rokok. Membuat saya mempertanyakan, apa benar usia semakin menurunkan imunitas kita dalam bercanda dan bicara?

***

Dari ucapan sahabat saya itu, saya memaksa otak saya untuk kembali mengingat memori beberapa hari yang lalu. Keganasan macam apa yang telah keluar dari mulut saya? Jika ada pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu”, maka taring macam apa yang telah saya keluarkan sehingga hati seseorang merasa tercabik-cabik dan hancur berkeping-keping?

Setelah berulang menghirup secangkir kopi, saya kembali teringat kalimat yang pernah saya lontarkan, saya pikir itulah kalimat yang membuat Sang Tetangga merasa tersinggung. Itu bukan ucapan makian atau kalimat vulgar semacamnya, karena saat itu tepat perayaan momentum lebaran. Hanya sekadar ucapan “Jangan datang ke situ, di rumah itu suasananya tidak kayak lebaran. Gak ada kue.”

Dan kalimat yang dipandang provokatif itu pun saya tutup dengan tawa. Kebetulan pada saat itu saya dan beberapa rekan sedang mengunjungi beberapa rumah tetangga lainnya yang berdekatan dengan rumahnya itu.

Ternyata Sang Tuan rumah yang mendengar pun merasa tersinggung alias baper, lalu menyampaikan ketersinggungannya itu kepada sahabat saya. Padahal Sang Tuan rumah bukanlah orang lain, melainkan orang tua sekaligus rekan kerja dalam departemen yang sama juga.

Lebaran Iduladha memang euforianya tidak sama seperti lebaran Idulfitri. Biasanya jika di kampung itu, tetangga di sekitar rumah saya jarang yang ada membuat kue lebaran. Kalaupun ada hanya sekadar untuk disantap ketika pagi lebaran bersama keluarga. Itu saja. Mungkin fenomena serupa juga terjadi di daerah mana pun.

Bahkan ada kawan-kawan terkadang sempat mengatakan, “Jangan bertamu ke rumahkulah. Mamakku gak ada bikin kue, lho. Bro!” Kata-kata provokatif semacam itu sudah sering saya dengarkan. Nah, bercandaan yang serupa tidak bisa saya hindari ketika momentum lebaran Iduladha tiba. Sampai terbawa-bawa di lingkungan perumahan tempat saya bekerja.

Semuanya ucapan saya waktu itu murni hanya sebatas bercanda. Toh! Beberapa rekan saya sebagian juga datang ke rumah Sang Tuan rumah yang tersinggung itu. Menikmati teh hangat dan kerupuk-kerupuk gurih dan lezat.

***

Soal ketersinggungan memang pekara yang sulit kita tafsirkan. Karena apa yang menurut kita becanda, belum tentu menurut orang lain sebercanda itu. Dan bahkan bisa dianggap menghina atau delik. Untung saja saya tidak terkena pasal-pasal penghinaan. Amit-amit dah!

Sebenarnya yang membuat saya cukup tidak habis pikir dan terusik bukan pekara bercandaan saya itu. Karena saya sudah meminta maaf. Yang masih jadi buah pikiran, apa benar usia bisa membuat seseorang semakin rentan untuk diajak bercanda? Seperti yang diucapkan kawan saya diawal pembicaraan tadi.

Padahal menurut hemat saya sendiri, dengan bertambahnya usia, maka bertambah pula pengalaman dan semakin luasnya pergaulan seseorang. Atau bisa kita sebut semakin tinggi pula trackrecord orang tersebut. Sehingga mentalitas dalam menghadapi berbagai gejolak dalam kehidupan sehari-hari sudah bisa dan bisa jadi pekara remeh-temeh tidak terlalu menjadi hal yang bisa menyakiti hati.

Ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar. Masih banyak generasi tua yang mentalitasnya rentan, mudah baperan dan hal-hal bercandaan pun dianggap hinaan yang membuat hatinya tersinggung berkepanjangan. Bagi saya itu fenomena yang cukup mengherankan.

Sehingga persepi-persepi buruk mulai berkeliaran dipikiran saya sendiri. Oh, mungkin jam terbangnya belum terlalu jauh. Oh, ini orangnya kurang aktif dalam pergaulan semasa mudanya. Oh, ini orang terlalu menghayati film-film Azab di FTV.

Buah pikiran saya ini sebenarnya sangat didukung oleh riset para ahli (baca: Mbah Google) yang menyatakan, memang hal ini (tersinggung) umum terjadi pada seseorang yang sudah memasuki fase lanjut usia (lansia). Meski begitu, bukan berarti semua orang yang memasuki masa tua akan mengalaminya.

Mudah tersinggung sangat berhubungan dengan kepribadian seseorang. Jika seseorang memiliki kepribadian yang luwes, supel dan mudah bergaul, ia tidak akan mudah tersinggung tentunya. Sebaliknya, kalau karakternya memang agak keras, kaku, kurang fleksibel, ada kecenderungan ketika lanjut usia dia akan sensitif.

Halaman selanjutnya >>>
    Mahadir Mohammed
    Latest posts by Mahadir Mohammed (see all)