Generasi Z vs Generasi Stroberi

Generasi Z vs Generasi Stroberi
©Pexels

Genenerasi Z atau umumnya biasa disebut sebagai iGeneration atau generasi internet. Sebutan ini bukan hanya sebuah sebutan melainkan label pada generasi ini. Pelabelan ini dilandaskan pada awal perluasan internet. Seperti halnya setiap generasi, Gen Z juga diambil berdasarkan cara mereka tumbuh.

Di ambil dari laman kemendikbud, Gen Z merupakan generasi yang lahir pada antara tahun 1997 sampai 2012. Pada hasil sensus tahun 2020, Gen Z menduduki peringkat pertama pada populasi di Indonesia (27,94%) yang diikuti oleh generasi milenial (25,87%). Ini artinya, Gen Z memegang peranan penting dalam memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan nanti.

Generasi Stroberi

Jika kita lihat secara historisnya, istilah generasi stroberi pertama kali muncul di negara Taiwan untuk menggambarakan generasi muda yang lahir setelah tahun 1981(post-80) dan mengalami kesulitan dalam menghadapi tekanan sosial tak seperti orang tua mereka samasa muda.

Strawberry generation atau generasi stroberi merupakan istilah yang merujuk pada generasi muda, terutama anak-anak remaja yang orang anggap mudah terpengaruh, sensitif, serta kurang tangguh menghadapi tekanan dan tantangan.

Sesuai dengan namanya, generasi stroberi teranalogikan sebagai buah yang mudah rusak, lembut, dan sensitif terhadap tekanan luar. Terkadang anggapan pada generasi stroberi sering orang anggap tidak memiliki ketahanan mental yang kuat dan sulit menghadapi tantangan kehidupan.

Seperti yang telah Rhenald Kasali (guru besar bidang ilmu manajemen) sebutkan pada bukunya Strawberry Generation (2017), generasi ini merupakan generasi yang memiliki banyak ide cemerlang serta kreativitas yang tinggi. Tapi sayangnya, mereka mudah sekali untuk menyerah, mudah sakit hati, lamban, egois, serta pesimis terhadap masa depan.

Label Gen Z

Prediksi yang akan datang negara kita, yakni negara Indonesia akan mengalami sebuah bonus demokrasi. Bonus demografi ialah kondisi yang terjadi saat sebuah negara memiliki jumlah penduduk usia produktif yang lebih tinggi daripada penduduk usia non-produktif.

Bonus demografi yang berkaitan dengan munculnya suatu kesempatan yang kita sebut dengan jendela peluang (windows of opportunity) yang dapat termanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Adioetomo, 2012).

Baca juga:

Pada tahun 2030-2040, Indonesia terprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Yaitu jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar daripada penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif terprediksi akan mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang terproyeksikan sebesar 297 juta jiwa (Bappenas, 2017).

Hal ini berarti bahwa Gen Z merupakan generasi yang akan menjadi poros akan terjadinya bonus demokrasi. Informasi ini bisa menjadi berita baik karena akan adanya kemungkinan Negara Indonesia menjadi negara maju atau justru menjadi berita buruk jika Gen Z ini gagal dalam memajukan bangsa ini.

Kekhawatiran ini ada karena Gen Z kebanyakan telah mendapat label menjadi generasi stroberi. Pelabelan ini tidak serta-merta ada. Melainkan dari kebiasaan serta dukungan lingkungan yang serbainstan, mudah, cepat tanpa melihat sisi proses hal tersebut.

Problem yang perlu kita tindak lanjuti ialah menekankan kepada Gen Z bahwa sebuah hasil yang sukses tidak lepas dari sebuah perjuangan. Dari sini nanti akan keluar statement bahwa akan adanya penurunan impian, rendahnya mimpi anak-anak bangsa.

Hal ini perlu kita luruskan bahwa bukan menafikan sebuah mimpi, akan tetapi fundamental dari terwujudnya sebuah impian yang tinggi tidak lepas dari adanya perjuangan yang berat.

Terkadang di tengah-tengah sebuah perjuangan terdapat sebuah kesulitan entah dari mana datangnya. Dari hal itu, yang ingin saya soroti ialah respons dari anak muda yang menyikapinya sebagai sebuah siksaan. Akhirnya, dari hal tersebut, ialah sebuah kegiatan menyenangkan diri atau biasa kita sebut dengan healing.

Bukan menjadi sebuah masalah bila seseorang healing untuk merehatkan diri sejenak, akan tetapi anggapan dari tantangan dalam sebuah perjuangan perlu tersingkirkan. Jika anggapan ini terus berlanjut, keputusasaanlah yang akan datang dan tidak selamanya healing menjadi solusi.

Peran berat bagi Gen Z tidak lepas pada hal itu saja, akan tetapi ada musuh baru yang menjadi saingan dari Gen Z tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa Gen Z ini tumbuh dan berkembang bersamaan dengan teknologi.

Halaman selanjutnya >>>
Nada Bilhaqi
Latest posts by Nada Bilhaqi (see all)