Generation Gap, Masalah yang Tak Disadari

Generation Gap, Masalah yang Tak Disadari
©HS

Kesenjangan generasi (generation gap) diidentikkan dengan perbedaan pandangan.

Perkembangan peradaban manusia makin menunjukkan masalah yang begitu kompleks. Walaupun dalam perkembangan peradaban banyak membantu kemajuan umat manusia, dalam setiap perubahan peradaban manusia tentunya akan memajukan suatu sisi kehidupan dan mengikis kehidupan lainnya. Peradaban merupakan hasil kecerdasan manusia yang berupa perilaku (Pramanto, 2020).

Salah satu peradaban yang menakjubkan di abad 21 ini ialah perkembangan teknologi yang tidak lagi terbendung. Perkembangan industri 4.0 yang baru saja dibicarakan banyak kalangan kini akan melompat pada industri 5.0 yang sudah diperkenalkan oleh Jepang. Kemajuan ini menandakan bahwa peradaban manusia selalu dinamis, berkembang maju mengikuti perubahan zaman yang telah dibuat oleh kecerdasan manusia saat ini.

Setiap peradaban pula tentunya memiliki generasi yang lahir dan besar di zaman tersebut. Kita bahkan sering melihat atau mendengar adanya pembagian kelompok generasi. Kita mengenal adanya generasi Baby Boomer adalah generasi yang lahir pada 1946 hingga 1964.

Selanjutnya generasi X yang lahir pada 1965 sampai 1980-an. Generasi ini lahir pada era di mana teknologi sedang beranjak maju. Generasi ini juga disebut generasi mandiri, pekerja keras, dan sebagainya. Sedangkan generasi Y atau milenial diidentikkan dengan generasi yang lahir pada awal 2000-an, namun ada juga yang mengatakan bahwa generasi ini lahir tahun 90-an.

Ternyata tanpa kita sadari, ada benturan generasi di realitas kehidupan sosial masyarakat saat ini. Hal demikian sering terjadinya perbedaan pendapat antara yang muda dan yang tua. Atau adanya persepsi yang saling membenarkan argumen dari kedua generasi ini.

Itulah yang kemudian yang disebut sebagai generation gap atau adanya kesenjangan antar-generasi yang saling menyalahkan satu sama lain. Kesenjangan generasi (generation gap) diidentikkan dengan perbedaan pandangan, opini antar-generasi terkait dengan politik atau nilai kehidupan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini, tanpa kita sadari, menjadi awal perpecahan terhadap kaum muda dan tua.

Mengapa dua generasi ini yang menjadi tolok ukur? Sebab generasi inilah yang menjadi bagian dari peradaban saat ini.

Hal ini banyak terjadi di tempat kerja, keluarga, politik, dan lainnya. Generasi tua sering memaksakan kehendak dengan memberikan argumen bahwa apa yang ia lakukan di masanya sangatlah efektif dalam memecahkan suatu persoalan. Sedangkan generasi sekarang melihat persoalan tersebut dengan menggunakan pendekatan perkembangan zaman yang ada saat ini.

Dengan kata lain, generasi X atau generasi Baby Boomber sering dikatakan junior, yang tidak boleh melewati seniornya. Misalkan dalam sebuah rapat hadir tiga generasi sekaligus, yaitu generasi baby bomber, generasi X, dan generasi milenial. Apa yang dikatakan oleh generasi milenial kadang mengejutkan generasi pendahulunya. Padahal pengamatan generasi milenial terkait perkembangan zaman ini sangat berbeda dengan generasi pendahulunya. Sebab generasi pendahulunya belum berada pada peradaban yang begitu maju dan kompleks dalam kehidupan sosial.

Contoh lain ialah persoalan teknologi. Generasi Baby Boombers dan X harus berimigarsi terlebih dahulu kegenerasi milenial untuk bisa memahami penggunaan teknologi yang begitu canggih. Sementara itu, generasi milenial, tanpa harus bermigrasi terlebih dahulu, mereka sudah memahami dan menyatu terhadap zaman. Karena mereka lahir dan besar di zaman tersebut.

Saling Memahami Antar-Generasi

Menurut Thomas Saueressig, seorang chief information officer (CIO) asal Jerman, perlunya transformasi pola pikir yang selama ini ada. Kesenjangan generasi ini perlu membangun jembatan yang menghubungkan keduanya, agar tidak selalu menjadi perdebatan dan perbedaan dalam setiap pandangan dengan klaim kebenaran masing-masing.

Menurut Saueressig yang dirilis oleh Kompas, adanya kesenjangan generasi, selain usia, disebabkan pula karena era kelahiran yang berbeda. Hal demikianlah yang menyebabkan perbedaan cara pikir.

Baca juga:

Generasi X perlu memahami bahwa generasi milenial yang identik dnegan peradaban yang maju dengan teknologi memiliki cara pandang yang lain dengan generasi pendahulunya. Pandangan itu lebih mengarah cara berpikir kreatif, inovatif, dan dibarengi dengan kerja yang produktif. Bukan berarti generasi X ini tidak memiliki kinerja yang baik, melainkan cara pikir yang hierarki menjadikan generasi X tidak mau menerima pandangan baru.

Hal demikian dilandaskan dengan alasan pengalaman yang lebih dibandingkan generasi milenial. Padahal perbedaan generasi dan peradaban yang lebih berbeda menjadikan semua situasi ikut berbeda pula. Maka hal yang harus dilakukan ialah bagaimana keduanya bisa bekerja sama.

Generasi X perlu menekan ego dan generasi milenial menghormati yang lebih dulu. Serta menyatukan persepsi dalam setiap tindakan dengan asas etika moral yang selama ini dijunjung bangsa kita.

Dengan saling menghormati satu sama lain, justru akan membuat perbedaan tersebut menjadi sebuah anugerah yang sangat indah. Bagaimana miyak dan air yang tidak bisa menyatuh, namun mereka bisa berdampingan dan menghasilkan suatu masakan yang luar biasa enaknya. Justru generasi X dan milenial perlu seperti ini agar tidak adanya generation gap yang begitu jauh.

    Asman