Gerakan Dakwah yang Humanis dalam Menangkal Radikalisasi

Gerakan Dakwah yang Humanis dalam Menangkal Radikalisasi
©Jalan Damai

Gerakan dakwah sebagai agen perubahan sosial akan dihadapkan pada berbagai persoalan sesuai dengan tuntutan era kekinian. Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia yang makin maju dan beradab, kebutuhan hidup suatu masyarakat makin hari makin dirasakan makin sulit, ditambah dengan terjadinya kesenjangan sosial antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya.

Mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu menghadirkan konsep dakwah yang tetap relevan dengan perkembangan zaman, maka dakwah harus tampil dalam kemasan nyata agar mampu memberi solusi atas seluruh problematika hidup, sehingga perlu adanya verifikasi dan evaluasi secara nyata secara menyeluruh dalam rangka terwujudnya kontruksi gerakan dakwah secara objektif dan proporsional.

Pada awal abad ke-21, terjadi pengaruh arus globalisasi yang begitu deras sehingga melahirkan tuntutan baru terhadap agama, agar agama melakukan adaptasi dengan globalisasi. Ini disebabkan karena dakwah sering mengalami kegagalan ketika berhadapan dengan kondisi sosial.

Islam adalah agama dakwah, baik secara teoritis maupun praktis. Sebagai agama dakwah, Islam mengharuskan para pemeluknya untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain bahkan kepada diri sendiri.

Dengan demikian, eksistensi sebagai agen perubahan dalam kehidupan umat muslim memiliki semangat transformasi pesan-pesan ilahiah kepada umat manusia. Tidak diragukan lagi bahwa Islam adalah agama moderat yang selalu mengajak pada keseimbangan dalam segala hal.

Dalam melaksanakan dakwah, setiap umat muslim wajib menyampaikan kebaikan yang berorientasi pada kebenaran. Mahasiswa merupakan salah satu yang dapat menggerakkan dakwah sebagai solusi dari perubahan dan perkembangan zaman di era ini.

Hadirnya mahasiswa sangat memengaruhi dinamika kehidupan sosial karena memiliki fungsi sebagai sosial of control. Gerakan dakwah tidak hanya dilakukan oleh sekelompok orang tertentu saja, seperti ustadz, kiai ataupun kelompok ormas. Namun dapat dilakukan siapa saja, termasuk mahasiswa.

Mahasiswa yang dikenal sebagai agent of change sebagai orang yang berpendidikan dianggap dapat memberi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa. Mahasiswa sebagai pelajar juga sebagai harus mampu menganalisis permasalahan masyarakat, terlebih pada masalah pemahaman tentang kondisi zaman. Karena, dalam perkembangannya, akan terus dihadapkan oleh kondisi sosial yang terus maju.

Maka mahasiswa dituntut untuk mempunyai gerakan dakwah kreatif dan inovatif yang dapat menyentuh dan menyampaikan pesan ilahiah kepada masyarakat dengan yang sistematis namun tidak provokatif. Karena pada kenyataannya masih sering terjadi, baik dari dai yang melakukan dakwah secara monoton, yaitu proses dakwah dengan segala loyalitasnya masih cenderung berandai-andai tentang masa lalu yang kurang relevan dengan kondisi umat sekarang.

Konsekuensi logis dari gerakan dakwah ke masa depan harus dilakukan tidak hanya berfokus pada bentuk pelaksaanan dakwah di atas mimbar, akan tetapi harus juga dikonsepkan agar dakwah mudah diterima oleh masrayakat (mad’u) tanpa merasa dihakimi oleh para dai.

Baca juga:

Sejak awal tahun 1980-an, terjadi perkembangan dakwah di Indonesia. Banyak gerakan dakwah yang lahir dari berbagai elemen, namun tidak semua gerakan dakwah yang dilakukan pada saat itu dapat diterima oleh masyarakat. Karena banyaknya gerakan dakwah yang tendensius pada kekerasan.

Kelompok- kelompok radikal Islam ini cenderung melakukan gerakan dakwah dengan berkonflik dan emosional. Mereka yang mengubah teologi Islam menjadi ideologi politik, dengan mengabaikan dimensi sejarah dan kebudayaaannya.

Meskipun mereka menganggap bahwa ajaran Islam mencakup semua aspek kehidupan. Namun, kelompok radikal Islam mencari jawaban politis untuk mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat. Menurut mereka, permasalahan yang dihadapi umat Islam diakibatkan oleh tindakan non-muslim, baik umat Yahudi ataupun Kristen.

Menurut Harun Yahya, pengikut radikal Islam merupakan ancaman terhadap aktivitas perdamaian, maka kelompok ini sangat berbahaya dalam melakukan gerakan dakwah karena tidak sesuai dengan ajaran Alquran yang salah satunya harus memiliki karakter yang dapat mengendalikan amarah dan tidak menggunakan kekerasan dalam melakukan gerakan dakwah.

Mahasiswa sebagai agent of change dituntut untuk memahami masalah-masalah kemanusiaan tanpa menghilangkan harkat dan martabatnya. Dapat memberikan dakwah yang sejuk serta damai, gerakan dakwah radikal Islam ini seharusnya dapat diminimalisasi dengan pemahaman dakwah humanis yang senantiasa berorientasi untuk  mengembalikan manusia pada fitrahnya, yakni sebagai makhluk yang mulia, unggul, terhormat serta bermartabat.

Menyadari bahwa gerakan dakwah radikal masih tetap ada sampai hari ini, maka gerakan dakwah secara humanis harus masif juga dilantangkan oleh pada dai  dan mahasiswa secara moderat. Begitu mahasiswa senantiasa menyadari akan tantangan yang dihadapi umat makin berat, maka dakwah Islam ke depan harus dirancang dan dikelola secara profesional melalui berbagai rancangan topik dakwah yang kontekstual namun tidak radikal.

Artinya, pesan-pesan dakwah harus mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan umat pada setiap lini dan strata sosial dengan dakwah yang disajikan secara humanis, rasional, dan profesional.

    Ibnu Azka