Gerimis di Atas Kertas: Merebut Ruang Muda

Gerimis di Atas Kertas: Merebut Ruang Muda
Buku "Gerimis di Atas Kertas"

Buku ‘Gerimis di Atas Kertas’ terdiri dari tiga cerita yang panjang. Ketiganya mengambil setting tempat di Lombok; tepatnya di Kota Mataram dan Kota Tua Ampenan.

Kita mengenal sosok intelektual generalis. Ia tidak merampungkan kuliah, tapi mendapat banyak sekali gelar doctor honoris causa dari berbagai universitas dunia. Sempat pula menjadi rektor Universitas PBB di Jepang. Soedjatmoko nama intelektual itu.

Soedjatmoko adalah sosok yang begitu giat mengobarkan ‘visi memihak rakyat’ di forum-forum ilmiah. Berpihak pada rakyat (tertindas) serupa suara kebenaran. Berada di sisi mereka merupakan kebajikan. Memperjuangkan hak-hak mereka adalah suatu penegakan keadilan.

Di tengah carut marut persoalan yang melanda negeri, ekspresi pembebasan dan keberpihakan biasanya terbagi menjadi tiga. Pertama, mereka yang yakin bahwa dengan mengubah sistem-lah, maka perubahan bisa terjadi. Ganti seluruhnya dengan revolusi: semua ini sudah salah secara mendasar. Ini perjuangan politik tingkat tinggi.

Kedua, perjuangan mengubah dan memelihara regulasi sajalah yang bisa membawa pada perubahan. Sistem kita sudah baik, hanya perlu ditambal bolong-bolongnya, dan ditegakkan. Persoalan kita adalah penegakan hukum. Ini perjuangan politik sebagaimana umumnya yang kita kenal hari ini.

Ketiga, mereka yang menempuh jalan panjang politik kebudayaan untuk menyiapkan manusia. Sistem apa saja, regulasi segala rupa, kalau individu yang mengisinya tidak punya kecakapan dan visi keberpihakan, maka percuma. “Menyiapkan manusia” memang bukan perkara gampang nan sebentar, tapi tetap harus dilakukan.

Soedjatmoko pun menyarankan demikian: silakan saja cendekiawan bergelut dalam dunia politik praktis (dua perjuangan di atas), tapi harus ada cendekiawan yang tinggal di luar untuk memperkuat dan memelihara pranata-pranata kecendikiaan dan organisasi sukarela, juga, untuk menjadi ‘penyeimbang’ permainan penguasa.

Maka, kalangan terpelajar idealis dari lingkungan kesenian, pendidik, aktivis, pegiat komunitas, dan masih banyak lagi, mengekspresikan visi pembebasan dan keberpihakan mereka lewat jalan ketiga tersebut.

Pun begitu kisah-kisah yang tertera di dalam buku Gerimis di Atas Kertas.

***

Buku “Gerimis di Atas Kertas” terdiri dari tiga cerita yang panjang. Ketiganya mengambil setting tempat di Lombok; tepatnya di Kota Mataram dan Kota Tua Ampenan.

Ketiganya masih bernuansa populer. Sama sekali bukan buku sastra dengan kerumitannya yang khas; ini buku yang disenangi bahkan oleh anak-anak SMP dan SMA dengan ciri khas mengambil “cinta” sebagai inti cerita—tapi bukan cinta yang tidak serius dan dewasa karena semuanya berujung pada pernikahan.

Tapi, meski disebut “inti”, porsinya sangat sedikit. Justru kisah anak-anak muda yang mengisi masa-masa jomblonya dengan bergerak bersama rakyatlah yang menjadi inti cerita ketiganya.

Gairah pengabdian yang ditunjukkan “aku” dan Fajar di kisah pertama dan kedua, serta pencarian dan perenungan eksistensi diri yang ditunjukkan “kamu” di kisah ketiga, semua dikemas dalam cerita yang sederhana, bisa dipahami pembaca dari kalangan mana saja.

Selain karena memang tidak begitu suka gaya bercerita yang sukar dimengerti, penulis memang sengaja mengambil gaya populer agar “gagasan-gagasan rumit nan penting mengenai liberasi” tersampaikan secara persuasif ke ruang-ruang publik.

Penulis ingin ‘merebut’ ruang muda era kekinian, mengisinya dengan gagasan penting yang tidak boleh hilang dari kesadaran mereka, tapi dengan gaya yang mereka sukai; tentu saja tanpa harus kehilangan bobot-bobot pemikirannya.

Teladan yang ditunjukkan oleh “aku”, Fajar, dan “kamu” dalam Gerimis di Atas Kertas, cocok dinikmati oleh para pelajar dan anak-anak muda. Buku yang baik sebagai kado bagi orang-orang yang kita sayangi, yang kita ingin mereka berproses di lingkungan yang baik.

Judul buku: Gerimis di atas Kertas
Genre buku: Fiksi
Penerbit: Basabasi Muda (Jogjakarta)
Bulan/Tahun Terbit: Agustus 2017
Pengarang: AS Rosyid

*AS Rosyid, Guru di Madrasah Alam Sayang Ibu (Lombok Barat). Saat ini menjadi mahasiswa magister di UIN Maliki Malang, prodi Islamic Studies. Pustakawan di Djendela, perpustakaan komunitas literasi di Kota Mataram.

___________________

Artikel Terkait: