Gim Internet Itu Serupa Kokaina

Gim Internet Itu Serupa Kokaina
©Wccftech

Membebaskan anak bermain gim internet serupa dengan memberi mereka kokaina.

Nalar Politik – Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurovaskuler di Klinik Memori dan Unit Stroke RSUP Sardjito, Abdul Gofir, mempertanyakan keberadaan gim internet yang hari ini seolah menjadi kebutuhan khusus anak-anak, utamanya bagi mereka yang masih berada di usia sekolah.

Dari sisi positif, Gofir menyebut bermain gim merupakan hal yang menyenangkan, baik bagi anak maupun orang dewasa. Format gim, menurutnya, tak hanya menimbulkan kesenangan, tetapi juga bisa meningkatkan keterampilan, pola pikir, ataupun kecepatan berpikir.

“Apalagi kini gim internet juga termasuk dalam electronic sport (e-sport). Tak heran ada banyak pelatihan buat gamer profesional,” tulis Gofir dalam artikelnya hari ini di Kompas (23/10).

Meski demikian, walau gim internet juga banyak dipakai untuk pembelajaran virtual (virtual learning), aplikasi ini ternyata pula dapat menimbulkan overdosis bagi pemakainya.

Memang, seiring berkembangnya koneksi internet di Indonesia, penggunaan gim di internet menjadi makin marak di kalangan anak hingga dewasa. Ditambah lagi akibat pandemi Covid-19 yang turut meningkatkan konsumsi gim karena mengharuskan tinggal di rumah sehingga remaja lebih sering menggunakan ponsel.

“Makin lama akan muncul sifat agresif, terutama jika diganggu saat bermain, tampak lesu saat tak ada sinyal atau mati lampu, bahkan sampai menuntut orang tua membelikan kuota atau ponsel yang lebih canggih.”

Lebih lanjut, Abdul Gofir menyebut kecanduan dan kegagalan anak dalam menekan impuls untuk bermain gim turut menyebabkan adanya gangguan tidur dan, parahnya, gangguan dalam berkegiatan di sekolah. Para orang tua bahkan sering mengeluhkan adanya penurunan dalam prestasi akademik anak-anaknya.

“Kajian tentang pengaruh gim internet pada kesehatan, terutama remaja, telah banyak diteliti. Gangguan akibat gim internet ini disebut dengan istilah internet gaming disorder (IGD).”

Oleh WHO (2018), kutip Dosen Prodi Neurologi FKKMK UGM itu, IGD didefinisikan sebagai pola perilaku terganggu dari perilaku bermain gim yang harus dinilai dalam jangka waktu 12 bulan dengan karakteristik:

  1. gangguan kontrol aktivitas bermain gim;
  2. prioritas yang meningkat hingga bermain gim lebih penting daripada hobi dan aktivitas harian yang lain; dan
  3. bermain gim yang berkelanjutan walau tak ada konsekuensi negatif dari bermain gim.

“Penderita IGD dicirikan dengan kegagalan suatu individu dalam mengontrol penggunaan internet/video gim dalam hidupnya. Ini dapat menimbulkan stres nyata dan gangguan fungsional dari kehidupan, seperti performa akademik, interaksi sosial, minat pekerjaan, dan masalah perilaku.”

Gofir melihat penderita IGD biasanya diawali dengan ajakan teman untuk bermain gim internet di ponsel. Apalagi gim jenis ini bisa dimainkan kapan dan di mana saja. Peningkatan durasinyalah yang akan menyebabkan kecanduan.

“Ketika seorang anak mampu menyelesaikan misi yang ditawarkan dalam suatu gim, akan terdapat kesenangan, suatu hal yang disebut reward-assertive. Ini akan berpengaruh terhadap dopamin dan serotonim, suatu zat kimia dalam otak yang berperan dalam proses berpikir.”

Selain itu, Gofir juga melihat terdapat perubahan dalam struktur otak secara keseluruhan. Anak dapat mengalami perubahan sikap seperti orang kecanduan. Anak dengan IGD bisa mengalami gangguan kognitif, gangguan psikopatologi, hingga gangguan tidur.

“Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara kejadian IGD dan kesehatan anak secara keseluruhan, seperti nyeri kepala, gangguan mata, hingga gangguan pada gelombang otak. Pemilihan jenis gim yang tak sesuai juga sering menyebabkan anak menirukan hal di gim dan berujung pada tindakan kekerasan, perjudian, ataupun pornografi.”

Di samping itu, kejadian IGD juga berpengaruh pada timbulnya gejala psikis, seperti cemas, depresi, perubahan kepribadian, trauma psikologi, hingga kecanduan alkohol. Semua ini, menurut Gofir, tentu memengaruhi aspek kehidupan dan masa depan anak.

“Hal yang sangat memprihatinkan, bukan?”

Upaya Penanganan

Abdul Gofir pun kemudian mengimbau agar para orang tua bisa secara aktif mendeteksi adanya IGD, memberikan perhatian penuh terhadap screen time anak, termasuk yang dimainkan dalam gim, pembatasan waktu bermain, hingga memberikan porsi waktu untuk kegiatan lain.

“Apabila ada indikasi perilaku mengarah ke IGD, perlu segera dikonsultasikan dengan pihak medis.”

Pemberian terapi secara CBT (cognitive behavioural therapy) dan simtomatis menjadi pilihan. Namun, ini pun tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan tak hanya kesabaran tinggi, tetapi juga komitmen tidak kenal lelah orang tua, anak, dan dokter.

“Sebagaimana pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati, pencegahan tentu menjadi hal yang fundamental.”

Baca juga:

Akibat prevalensi yang tinggi dan pengaruh kejadian IGD pada anak, menurut Gofir, dibutuhkan kerja sama yang baik dari segenap pihak, dari orang tua, guru, dokter, hingga pengambil kebijakan.

“Guru sekolah sebagai institusi pendidikan bisa memberikan edukasi pada anak terkait screen time. Penghentian mendadak terhadap pemakaian internet bukan solusi yang bijak mengingat pentingnya internet dalam menopang banyak hal, termasuk edukasi.”

Terlebih memang berapa gim internet bisa menjadi sarana edukasi serta melatih keterampilan dalam melakukan manajemen, ketepatan, peningkatan konsentrasi, hingga strategi. Maka hal yang bisa dilakukan adalah pengawasan terhadap anak saat melakukan permainan ini.

“Pengambil kebijakan hendaknya juga bisa memberikan perhatian dengan menyebarkan kewaspadaan terhadap IGD ini dalam bentuk sosialisasi yang lebih luas dan masif kepada masyarakat. Mari bergandengan tangan mencegah dan menyelamatkan generasi muda kita dari IGD.” [ko]