Golfrid Siregar dan Suara di Terowongan

Golfrid Siregar dan Suara di Terowongan
©Wattpad

Terowongan Titi Kuning
saksi luka kematian
peminta tumbal di atas
aspal-aspal hitam.

darahmu duka
matimu tanya-tanya
tak terjawab.

Dalam Bayang-Bayang Penyair

terlalu bodohkah aku
mengenal 1000 penyair pemberontak?
tapi rumput, tanah, dan orang-orang rumah
tak kenal siapa mereka.

terlalu serakahkah aku
menghafal nama dewa-dewa mabuk di istana?
tapi sakit-perut-lapar, tangis-bayi peminta susu,
masih nyaring terdengar
dari gelap jembatan jalan kesunyian.

Palestina adalah derita darah.
Mahmoed Darwish Tuhannya
bersuara seperti guntur
tak lihat segala musim:
gugur,
semi,
dingin,
dan
panas,
tak lihat apa dan siapa. ia penyair buta:
Tuhan manusia tersiksa.

binatang-binatang ingin dibela
tanah terampas-terampok ingin dicari
dengan kata-kata seperti kopasus
lepas jabatan demi kemanusiaan
dan penghapus dosa-dosa.

Oh kata-kata-doa-doa
penyembah yang agung
sedang para penyair terkutuk
jadi budak dan pelayannya.

O Dewa Tuhan mereka dan aku
ke mana kau menangis?
ke mana kau berlari?
ke mana kau?
ke mana?

di sini masih banyak darah
mengalir dari tubuh perawan
di sini masih banyak darah
tumpah dari tubuh tertusuk pedang
di sini kamu hilang, padam
musnah, ditelan hari-hari gersang dan lapar.

O penyair, kaulah kehidupan
suara yang bangkit dari tubuh rakyat:
derita rakyat,
sakit rakyat,
tangis rakyat,
dan jerit darah yang dipaksa keluar
dengan peluru senjata para tentara
darah-darah tumpah
bercampur nanah yang ‘kan jadi susu
minuman dewa-dewa.

tubuh nelayan hitam
lahirkan dirinya: Adonis.
dengan balut bau pasir gersang: Arab.
terusir ke balik penjara
merampok segala derita keluarga:
tetangga, rakyat tercinta.
ia pikul segala beban
seorang diri. dengan kata-kata murahannya
mengancam kebusukan-kebusukan mereka.

Wahai Dewa yang Agung
Tuhan yang Murah Kasih
ke mana kau berkelana?
apakah kasihmu telah runtuh-gugur
semenjak musim panen jadi mimpi buruk para petani?
semenjak uang;
dan harta bertumpuk di bawah meja
dan kursi macet milik mereka?
apakah kasihmu telah dibarter
dengan pemimpin tirani-otoriter
dengan segala kekejiannya
masih dan ingin selalu dipuji.

O rakyat-rakyat kelaparan
terjebak dalam jurang kemiskinan
angkat senjatamu:
cangkulmu,      
kapakmu,
linggismu, dan
teko-teko hitam dapur
lalu kalian pukul sekeras-kerasnya
nyalakan api perlawanan
hidupkan lilin-lilin keberanian
yang terselip dalam lemari;
undang-undang, pasal-pasal,
dan ancaman pidana buatan mereka.

O penyair-penyair mabuk
pengambil jatah dewa-dewa
kalian seruput alkohol itu
karena kalian tahu, Tuhan takkan bersulang
dengan para penyair-penyair Tuhan rakyat.

Perampok Tanah

bagaimana jika tanah tempat darahmu
tumpah dari rahim ibu, dirampas?
bagaimana saudaraku?
bagaimana?
bagaimana jika rumah tempat tamanmu
bermain sejak kecil, digusur?
bagaimana saudaraku?
bagaimana?
dan ketika kau bilang: jangan!
mereka datang menggebukmu beramai-ramai;
dengan gagang senjata.
bagaimana saudaraku?
bagaimana?

pilu-luka ‘kan tetap menyala
bukan?
kau ‘kan taruh peci dan sajadahmu
kau ‘kan junjung cangkul dan pisau meja dapur
kau ‘kan mengamuk pada mereka
para perampok tanah-rumahmu.

jika begitu,
seharusnya kau juga marah
ketika;
saudara-saudaramu
tetangga-tetanggamu
teman sepekerja buruhmu
diperlakukan serupa
dengan tak manusia.
tapi, seperti sarang burung di pohon,
seenaknya;
RAMPAS
TEBAS
AMBIL.

kau harus merasa sedih
jika mereka menangis
kau harus merasa sakit
jika mereka terluka
kau harus merasa marah
jika mereka diperlakukan tak sewajarnya:
seperti binatang-seperti binatang.

kau harus rela
jika darah mereka tumpah
kau harus juga sama
kau harus berani
jika keringat mereka mengalir
saat melawan-memberontak
kau harus juga sama;
jadi terdepan mengawalnya.

jika kau masih sekolah
tuturkan pada gurumu
yang melarang
jika kau masih kuliah
bilang pada rektormu
yang mengancam
jika kau masih bekerja
katakan pada bos-juragan-majikanmu
yang ingin memecat
: bahwa ini tak bisa ditukar dengan surat ijazah,
gelar sarjana, dan uang gaji bulanan.

Kepada Tanah Kelahiran

masihkah basah dan subur tanahmu?
atau sudah kering
dengan mesin-mesin investor?
atau sudah bauk dan amis
dengan tumpahan limbah-limbah pabrik?
atau sudah tak ada bunga dan daun hijau?
karena tanah sudah tiada
diganti aspal dan tumpukan bebatuan
bantaran-bantaran sungai
dicongkel;
setiap meter
setiap lapis
setiap lipatan
itu!
hangus.

kuli-kuli batu mengamuki tebing-tebing
dengan palunya
memahat dengan keras.
menghabisi yang tersisa.
Sampai-sampai tinggal tanah tua
tinggal semak kering
pohon bambu yang mati
dan baju-baju tidur
menggantungi ranting-ranting pohon
akibat sungai yang marah
karena perisai tebingnya;
dicuri dan dirampok.

masihkah basah dan subur tanahmu?
atau sudah binasa
dengan cangkul yang mengamuki pemiliknya?
dengan pagar yang sudah tak makan tanaman lagi?
tapi sawah hijau
ladang kuning musim panen.

orang-orangan sawah
diganti dengan mayat
tali rafia berbalut nelon
tergantung,
melilit.
diganti kawat-kawat listrik
gubuk penantian petani
pertemuan dengan burung-burung pipit nakal
sudah tenggelam, dalam air mata tangis
hingga tumbuh rumah-rumah yang dikontrakkan.

TANAH PANAS,
TANAH KERING,
TANAH CADAS.

matahari menyerang
tanpa dilawan
dan dihadang
bagai luncuran bom atom. dibiarkan
memberantas Hirosima dan Nagasaki
sampai harus merepotngorbankan seorang bocah berdarah Jepang
(Sadako Sasaki);
demi perdamaian,
jadi impian sampai ke dalam kuburannya.

masihkah basah dan subur tanahmu?
atau sudah tak Indonesia lagi?
dengan para vandalisme-vandalisme
menjelma. jadi vampir setiap musim
(hujan maupun panas)
bagi gunung: berdaun mekar
bagi madu: gantung di pohon
bagi semak: banyak duri
bagi taman: berbunga
bagi danau: tempat ikan-ikan
bagi sungai: punya pasir
bagi laut: berombak dan biru.

masihkah basah dan subur tanahmu?
seperti di waktu aku
melihatmu di lumpur darah
mengucur dari rahim ibu.

Dari Sekolah

aku melihat ribuan pohon-pohon
daun pisang dan buah yang mentah
ada di sekitar sekolah itu.
satu pura indah
tempat berdoa
kepada Tuhannya:
(Sang Hyang Widhi Wasa)

lima belas orang anak
kelaparan pendidikan
dan delapan guru mabuk-muntah kurikulum-kurikulum
plin-plan. pindah atau menetap,
dengan menteri-menteri yang sibuk
mengurus uang-uang yang masuk.
dalam kantong dan ATM-nya.

selalu begitu!

pendidikan
yang
salah
tidak
akan
ubah
suatu
apa
pun
dari
tangan
anak
didiknya.
sedang
birokrasi
yang
keliru
hanya
akan
perpanjang
barisan
kebodohan.

Tetanggamu, Saudaramu

taktik-taktik busukmu kawan
masih kau praktikkan pada tetanggamu
sedang mereka sudah lapar
sudah sakit, sudah demam
dikoyak keras dan ganas kehidupan
gerombolanmu, adikmu, anak-binimu
sama! penindas.

obat pasar, toko-toko kecil
jadi mahal.

tetangga yang kau tindih itu
saudaramu, saudaramu.
saudara yang kau peras itu
tetanggamu, tetanggamu.

ketika kau bersama adik-anak-binimu
gonta-ganti mobil,
mereka;
naik angkot,
naik becak,
masih memikirkan isi gentong beras di rumah.
ketika kau bersama adik-anak-binimu
sibuk mengurus paspor ke luar negeri
mereka;
mengurus KTP,
mengurus Kartu Keluarga
yang mogok di meja Kepala Desa.

Gerimis Batu Bara

bangkai-bangkai batu bara
terapung di laut
jadi gerimis bagi binatang-binatang air
namun bukan seperti gerimis dari langit
diturunkan Tuhan
bagi bumi yang haus.
jadi segar:
bunga-bunga tumbuh sepanjang jalan
daun-daun hijau tampak menghias
kupu-kupu dan cabung mandi
rusa, kerbau, singa, monyet, landak, biawak
memburu bekas genang
layaknya mencari kolam arak, tuak, dan wiski.
sebagai suka, kepada-Nya yang batalkan
kematian mereka
sedang ragam ikan; tampak balapan
sepanjang arena dan medan paska tanah lapang; kering.
merpati-merpati betina tak jadi hilang suami.
sebab mencari air ke negeri seberang
sangat melelahkan
tak sedikit bawa pulang kabar kematian
dalam penerbangan memburu air
dititipkan pada paruh dan kantong-kantong plastik
di sayapnya. kadang kala juga ada yang ditawan
karena tak punya paspor yang lengkap.

bangkai-bangkai batu bara
jadi gerimis debu hitam
beracun:
picu sesak napas,
jantung rusak,
tangan-tangan pohon,
dan mekar kepala bunga-bunga kotor.

gerimis debu hitam batu bara
adalah maut pembunuh; berdarah dingin
tak seperti rudal balistik
cepat menyapa musuh
tapi pelan-pelan
namun mengerikan
bagi;
manusia,
binatang,
dan
alam.
bahkan bagi Tuhan dan jajarannya.

terkecuali
bagi; direktur
dan managernya
pendukung partai-partai gila itu
telah berpagar tembok, besi, dan baja
tempatnya. dengan tiupan mulut AC
jadikan kaca-kaca berkeringat dingin
gerimis dan debu hitam batu bara itu
hilang dimakan gelembung
air-air keringat kaca jendela
tak bisa masuk.
tak ganggu paru-paru dan jantungnya.
mereka aman!
tenteram!
menyambut senja yang cepat
jadi gelap.
menyambut fajar yang panik
karena sinarnya buram
terhalang kabut-kabut hitam cerobong pabrik
penelan batu-batu itu
muncahkan racun:
bagi langit dan bumi.

memaksa mahluk-mahluk menyantapnya
bukan seperti segar;
daging babi guling
lawar-lawar merah darah,
dan daging ayam petarung
mati tertikam taji musuh.
tapi;
seperti menghirup serbuk-serbuk besi
potongan linggis; dari tangan kuli tua.
seperti meneguk racun-racun cemara
yang lebih sederhana
dari yang ditelan filsuf Yunani
tapi bukan tidak membunuh
justru jadi lebih menyiksa

tenggelam dalam lumpur-lumpur
galian tanah;
tanah tambang
tanah lapar
TAMBANG LAPAR TANAH!

tanah ibu, tanah bapak
warisan leluhur.
agar;
berkebun mangga
berkebun jeruk
serta anggur dan apel
sebagai makanan-makanan bidadari
surga. agar;
menghasilkan sumber mata air
tumbuhkan rumput, pakan-pakan ternak
seperti halnya tanah surga yang subur
tempat pohon khuldi tumbuh
pohon pembebas manusia:
(Adam dan Hawa)
dari hipnotis Tuhan.
hingga mereka sadar, telanjang
di depan Tuhannya.
usai memakan buah lezat itu.
buah tanah yang subur
bukan tanah sakit sekitar PLTU
bukan tanah lumpur
bekas galian tambang
yang batal reklamasi.
jika para investor-investor
tak menempuk pundak anjing-anjing
liarnya: bukan dari Kintamani
tapi dari yang lain.
lebih berkualitas dan culas
memintal fakta.

gerimis batu bara
O gerimis hitam penyakit
berhentilah jadi racun bumi dan langit
biar mesin pabrik-pabrik pada mogok,
cerobong-cerobongnya sumbat,
dan tongkang-tongkang itu istirahat
merusak laut dan habitat di dalamnya.

sedang lumba-lumba, gurita, dan ikan-ikan
akan berpesta sambil memutar sloki
dengan air-air dari surga
perkosa perut mereka.
taman-taman ‘kan tercipta
rumput-rumput laut ‘kan tumbuh
layaknya musim gugur bertukar musim semi
dan cahaya matahari yang memanah
akan berwarna-warni dengan riak air
jadi lampu-lampu diskotek
pertemuan para putri duyung
dengan pangerannya.
bartender-bartender akan lagi punya kerja
selepas sampan
dan jaring dibuang
dan dibakar.
pelayan-pelayan hotel
akan sediakan mereka kamar
untuk bercinta satu malam.

taman-taman eden akan muncul dalam laut
laut kita. laut yang lahir dari tangan bapaknya.
bapak kita. bapak segala mahluk: jin dan manusia.

Mayat-mayat

mayat jadi kerabat//terlalu banyak untuk dilayat//sebab segampang membunuh/ribuan burung//satu peluru tendang kepala//mati jatuh/tergial dengan satu luka/akhiri hidupnya//bukan soal korban//tapi tentang manusia/yang tiada arti di tangan penguasa//mengalahkan si raja maut/peliharaan Tuhannya//ia telah dipecat//sebab sudah tiada guna untuk kematian//kematian semakin gampang/direncanakan//dengan senapan dan granat//juga perintah!//bisa jadi maut/bagi yang dicurigai//memang//sungguh//tak ada kematian yang musti ditakuti//cuma takut jika takdir lama berakhir//dengan nyawa yang setipis kulit anggur//menempel di dinding kulit/tak kunjung lepas/tak jadi kawin/dengan tanah kuburan dan batu nisan//begitulah!//ketika kulihat segerombolan manusia//membantai sesama manusia//dengan baju berbeda://tak ada pangkat di bahu//tak ada senjata di tangan//tak ada tenaga melawan//karena siksa terlalu kejam/dan murah//

Negara Katak

impian negara
muncul dalam malamku
ingat dengan cerita ibu:
kehidupan katak terbebas dari penjara
tiada ditahan bila makan tanaman
dan jentik-jentik selokan.
katak-katak bergerombol
tanpa ada dicurigai
saling tumpang punggung
rekat tangan bergotong

lalu ibu kembali bercerita:
mereka memang katak cergas
badannya hewan otaknya impor:
marxisme setiap hari jadi cemilan.
tak heran jika mereka
lebih mengerti tentang saudara dan kawan
kepentingan ditinggal berlalu
peduli
jadi  
utama
cinta
jadi
keluarga
jadi
Tuhan dan Nabi
mengulur tangan
tanpa dipinta.

bayangkan jika katak-katak
bernegara lebih manusia!

Seorang Deisme yang Ragu Mengatakan kepada Ibunya

sekarang dan seterusnya akan menjadi hari-hari serba bimbang. ketika seorang anak merasa sungkan mengungkap diri di depan pemilik darah kelahirannya.

sekarang dan seterusnya akan menjadi hari-hari penuh ragu. ketika seorang anak malu berkata jujur pada lembut sosok ibu.

sekarang dan seterusnya akan menjadi hari-hari gelap. ketika seorang anak tak berani terus-terang pada ibunya pengguna jilbab ketat.

mungkin, perlu dikubur
jati diri sedalam sumur
dan ditabur kata-katanya
pada luas samudra biru
perlu dikaramkan,
digantungkan pada dadung
dan kapal tongkang
yang ‘kan tenggelam.
pada batu-batu besar
sebelum dilepas dilaut dalam.

ibu ini aku
ini aku ibu
anakmu, yang ‘kan bertutur
pada gelap malam sunyi
tanpa lampu di kamar.
dengan lantang suara tetes air
dari kran kamar mandi.

ibu ini aku
ini aku ibu
anakmu, yang ‘kan bercerita
pada lantai warna putih
tanpa hangat selimut dan empuk bantal
dengan tangis kipas listrik
yang dipaksa terus berputar
tanpa istirahat.

pada mereka aku berkata:
“aku adalah anakmu

yang tak percaya dengan mitos agama
yang tak yakin dengan di dalamnya
yang mati rasa ingin tahu. ajaran-ajaran doktrinisasi
yang tak murni dari diri
yang tak tulus dari hati
yang tak mengabdi kepada para tokohnya
yang berkhotbah: antikebohongan. tapi pelaku kebohongan
yang berdakwah: antikejahatan. tapi pelaku kejahatan
yang berkata: harus berbuat baik. tapi perilaku tidak baik
yang bercerita: tentang berbagi. tapi perilaku tidak berbagi.”

B
A
J
I
N
G
A
N

ibu ini aku
ini aku ibu
anakmu,
yang
malu
malu
——
ragu
ragu
berkata
tentang
keyakinannya.

Menunggu

satu bungkus rokok habis
menunggu — membosankan
kau tahu waktu berlalu cepat
jadi sangat lambat
menunggu tak kunjung mendarat
sulit dipinta,
sulit disambut
sulit!

bukan waktu sebentar kau habiskan
di sini, aku dan kecewa
telah termangu
diam, bagai tanah-bagai tanah
kering merindukan hujan

lumut-lumut mati, tanaman paku teler
dan aku bertanya pada mereka:
“berapa tahun dikau begini?
berapa bulan dikau menati?
ia tak datang-datang
gadis culas, penelan waktu.”

maka sambutlah aku gadisku
atau dikau yang kusambut
dengan malumu?

satu jam dinding rusak
jarum hitam, masih terus mendesak
kabar-kabarmu dari barat.
bukan seperti kereta api
melaju dari Jakarta-Banyuwangi
tapi serupa, bekecot terhantam cangkangnya
oleh batu-batu ababil
begitu lunglai-lelet
dengan lendir dan kotoran
meraupi pundaknya.

aku masih menunggu
meski lampu-lampu jalan tahu
kadang membisikkan:
“ia hanya berpura-pura datang.” katanya.
tapi;
kubuang,
kutolak.

WAKTU MEMBUSUK DALAM PENANTIAN.

Cinta Berdarah jadi Abadi

apa pun yang terjadi/harus abadi//sebab kehidupan terlalu kejam/berhambur datang//seperti deras hujan larva panas//juga menyerupai gigitan taring binatang/merongrong ke dalam daging/sampai tulang pun retak//dengan cinta berdarah ini/ingin kugenggam dua belati/dan kutusukkan ke dada sendiri//berharap kau juga rasakan/deritanya: bagai sarang laba-laba/telah tinggal, bertelur-menetas-beranak-pinak//tak sembuh-sembuh lukaku//tak mati-mati ia//masih menyala terbakar/seperti api hitam — tak bisa padam/terus membakar//buat luka dalam dada//jadikan tulang-tulang arang/dan daging tipisku/jadi abu//itulah semua: aku//tak bisa dihalau dengan usia/atau napas yang ‘kan berhenti: jadi abadi//sebab ia tak pernah selesai/tak pernah berusia/tak pernah menua//ia hanya akan jadi banyangan hitam/tubuhku// selalu ikut; menyerupai ekor/sampai berselimut kain putih//

Kicau Burung

kicau suara burung pagi hari/semerdu desah subuhmu//tari lengan serupa sayapnya/dan paruh terbuka/seperti ketika julurkan lidah basahmu/ikuti lilit tangan/hangati perut menggigil//rapuh telinga itu/menahan ranting-ranting tanganmu/nakal// napas seperti sembulan cerobong kereta Belanda//juga setajam mata elang/tatapmu//mempesona//anjing-anjing di kandang//tak seliarmu di ranjang//bantal jadi rusak//berpisah kapuk dan urungan//gigi taring cengkeram//kecup bibir/merahkan kulit pucatku//

Studio Musik

sebuah studio merah
tempat sepi bertabrakan.
kendaraan-kendaraan besi
dalam pikiran. teriak benang-benang gitar
licin! terobos dinding-tembok

suara bas, menyayat jantung
mengiris telinga, menyelami daging
terdalam manusia-manusia muda

siapa tahu tangis-panik hatinya?
terbawa dari kamar-kamar
bangunan bata terluka.
tempelan pasir dan semen dan kerikil sungai
terampok dari ibu-ibu batu.
tangis-hilang jadi jerit piano,
melodi-melodi marah
mengambang di udara.

termakan mulut, tercium hidung, terdengar telinga,
teraba kulit, terlihat mata, dan menaiki
anak tangga rambut yang hitam.

suara serak lepas tanpa arah
melayang-membentang,
semua marah. mereka marah
dua wanita pun marah-marah.
aku larut dalam teriak
tanpa tuan. saksi lagu-lagu gila
yang rindu keadilan.

    B. B. Soegiono

    B. B. Soegiono lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, 11 November 1996. Kini mengembara di Singaraja, Bali — menjadi seorang penyair, juga menulis cerpen dan esai.
    B. B. Soegiono

    Latest posts by B. B. Soegiono (see all)