Gugur Bunga Sakura

Gugur Bunga Sakura
©Pixabay

: buat Tetsu Nakamura

Bagram Airfield masih menanti
Tubuh itu datang
Namun tak tiba-tiba
Wangi sakura tiada tercium
Sedikitpun tidak!
Ke mana perginya?

Jalan aspal bercampur becek darah
Duka bumi Jepang
Duka kemanusiaan
Duka landa semesta
Tinggal enam jazad dan bekas peluru
Terkapar ditaburi guguran bunga sakura
Yang tumbuh, yang besar, yang mati
di tanah Afganistan

Dari negeri seberang
Menggadai hidup di tengah perang
Nyawa regang
Tinggal sejarah jasa

Ke pangku Tuhan kau pergi
Setelah senyum rekah
Pada kasaukasau wajah santapan senjata api
Taman bidadari tempatmu kini
Obati lukamu; luka kami yang terbagi
Terima kasih pahlawan
Selamat jalan!
Selamat jalan!

Tragedi Bangun Pagi

Bagaimana jika kau terbangun dari tidur malam nyenyak
Kau dapati tubuh jadi hutan gundul tanpa sedikit rerumput
Tumbuh di permukaan tanah gersang bekas lalap api?
Bagaimana kawanku?

Sedihkah jika rumah tak lagi terima bau badan
Wajah penuh luka lubang galian tambang
Tempat para selir-selir dewa berkubang?
Bagaimana kawanku?

Rasakan harta dirampas paksa
Emas, batu bara, kayu, dikeruk membabi buta
Sedang tangan-kaki dipasung
Uang sumpal mulut orang-orang
Pandai buka gembok pegang kunci-kuncinya
Bagaimana kawanku?

Siapa sadar ada tangis perut bumi
Belalai mesin berat cambuk berkali-kali
Kau tak bisa apa-apa
Selain meratap tunggu Tuhan datangkan kiamat!

Maka sebelum bangun pagi jadi tragedi
Mari turun dan berkumpul
Bila kau pelajar pikir bagaimana baca buku
Tak sekadar harap nilai bagus
Bila kau pengusaha sisihkan selembar rupiah
Untuk isi bakul warga terlantar

Siapkah kawanku?
Setelah sudah kau rasa alam rusak
Jadi kubur bangkai binatang bawah puisi usang
Terbengkalai tanpa tanggung jawab
Biaya modal dan moral para pelaku
Saat bangun dari tidurmu yang nyenyak
Bagaimana kawanku?
Bagaimana?

Secarik Ode untuk Riani

Jika luka datang bersama pagi
yang terbit dari timur setiap hari
suam di tubuh siang pasti memohon
pada detak waktu; untuk lebih cepat berlalu
agar bintang-bintang lekas bersimbur
menghantar wajahmu mekar dalam tidur

Ketika itu, kau dengar
kicau merdu burung-burung
jadi nyanyian rinduku pada malam
tempat senyum-mu bersemayam

Tetaplah di sini; Riani!
di peluk kenangan kusam
di hati yang biru lebam
suatu hari kau kan temukan
bait-bait puisi harapan
dari rasa yang tak bisa berhenti
berucap: AKU MENCINTAIMU

Membaca Mimpi

setiap bumi terpejam
dinding kamarmu jadi malam
wajah langit gelap—tidur panjang
lempar bau tubuhmu ke atas ranjang

dari barat, dari timur
bintang-bintang lari tergopoh
membelalak binar ke pangkuanku
menjelma kertas dan pena
terjerat ‘genggam sebuah puisi rindu

mimpi kita merajah diksi
meminang rintik hujan, menikahi anak sunyi
sebelum akhirnya memasuk lorong-lorong
tempat persemayaman kisah cinta; terpotong
penuh suara anjing liar melolong

Monolog Layang-Layang

Aku lihat punggung waktu
Tiada terlihat lagi lilit benang rindu
Yang mendekap badan kaleng susu
Layang-layang terbang lepas
Tanpa arah tujuan
Pada siapa ia gantung hari-hari
Penuh duka dan air mata?
Sedang anak-anak sudah pandai
Mengarang syair cinta

Harapan terlalu terjal
Untuk tetap ditapaki
Apakah akan ada benang baru
Singgah di bekas putus layang-layangku?

Pemandangan Bantarbolang-Pekalongan

Bantarbolang awal cerita
jalan semen saksi kedua
setelah mata disuguh bukit-bukit
tandus, gersang, gundul!
hasil karya palu para pekerja

di hijau rerumput
burung-burung bernyanyi maskumambang
dengan iring angin panas dari ladang
dan tangis air sungai keruh, kotor!

tak ada yang tersisa
selain kidung duka dari robohan
batang kayu jati tua.

Pemalang kota permai
Pekalongan arah tujuan
batu-batu kali merintih
pasir-pasir terperangkap sekop
dan berakhir di tangan para penambang

siapa yang buta? siapa yang tuli?
pada siapa pantas bertanya
sedang longsor tak mengenal cinta

Bahasa Luka

Pada sudut paling gelap sorga
ada sebuah pematang luas bernama indonesia
tanahnya subur dihias beribu bahasa
bahasa tangis, bahasa sengsara, bahasa luka!
dari para rakyat yang melulu ubun diduduki
agama partai dan para pemeluknya

Linang air menggenangi ceruk mata
segala nasib bermuara di cekung derita
siapa pemilik dataran indah ini bagi kita?
kaum kusam dengan syair dan nada
sedang puisi juga suara gitar di bungkam paksa
tembok bintang jabatan di dada-pundaknya

hingga hari menakar senja
dan kail-kail magrib bergelantungan
di antara temaram dan mega
tak ada yang bisa meredam
kobar api di tungku mulut penguasa

hanya kita, mari lestarikan
teriakan dengan lantang
bahasa persatuan; bahasa perlawanan!

Negeri Temaram

negeri temaram
Sejarahnnya kelam
Langit mendung
hukumnya abu-abu

dasi dan kemeja di cuci
bersih di kotori gincu lagi
cangkul dan caping di represi
Perut lapar di maki-maki

O, dewa. O, dewi
Langit ini penuh petir
Kapan akan benar-benar kau usir?

O, bapa. O, mama
Apa kau masih berharap
Pada anakmu yang tumbuh
di negeri leluka ini?

Duka Akhir Tahun

: buat Damiri Mahmud

Berpulang sudah;
Bersemayam di pangku Tuhan
Kata-kata penuh makna
Dalam bait-bait sajaknya

Untaian kata, hangat di peluk buku-buku
Segala luka dan cerita
Mengantarmu ke nirwana

O, Tuanku dikau pergi tak kembali
Tersenyum legit dalam puisi
Sedang jazad lenyap ditelan bumi
Nan jiwamu tetap abadi

Hembus nafas masih terasa
Dalam setiap kucur diksi-diksi
Tak akan terlupa sebuah peristiwa
Yang terselip di akhir empat angka

Kambing Hitam

andai saja, kau menyukai warna
selain hitam pada kambing-kambing
di antara sorban, cangkul, dan jala.
pasti kita sudah berlayar di laut lepas
menunggang kapal kokoh, tanpa takut
bocor lantai-lantai juga dindingnya.

tapi kau masih tak mau,
menerima warna lain, selain hitam
pada kambing-kambing tak berdosa
yang mukanya kau tuding-tuding
yang telinganya kau maki maki
yang makanannya kau rampas paksa
yang tubuhnya kau jadikan topeng
untuk sembunyi dari koran dan televisi

mau sampai kapan luka-luka
dibiar menganga begitu saja?
dan kambing-kambing itu telah binasa
tak ada lagi harapan selamat
piring-piring, garpu, sendok, belum dicuci!
kau sudah harus makan pentung lagi

rerumput tumbuh; hijau kembali
di pelataran nasib berbiak akal sehat
kau tertangkap!
tak lama setelah main tangan di istana dewa-dewi

Latest posts by RM Maulana Khoerun (see all)