Gus Dur, Boen Hian Tong, dan Hidup Bertoleransi di Semarang

Gus Dur, Boen Hian Tong, dan Hidup Bertoleransi di Semarang
Solidarity Tour PSI di Semarang

Ulasan Pers – Dalam rangkaian Solidarity Tour di Semarang, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany beserta rombongan bersilaturahmi ke perkumpulan sosial Tionghoa tertua di Semarang,  yaitu Yayasan Rasa Dharma atau Boen Hian Tong.

Dalam sambutan di gedung perkumpulan yang berdiri pada 1876 itu, Tsamara menjelaskan kunjungan PSI ini dilakukan untuk melihat sendiri bagaimana nilai-nilai pluralisme diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat.

“Lihat misalnya Humas Yayasan Rasa Dharma, Mbak Asrida Ulinuha, merupakan seorang muslimah berhijab. Saya gembira di Kota Semarang, etnis yang berbeda bisa hidup rukun penuh rasa toleransi sedemikian harmonis,” kata dia.

Tsamara kemudian mengungkapkan harapannya agar semangat persaudaraan yang sama juga dapat dicontoh daerah-daerah lain di Indonesia.

“Indonesia merupakan negara yang dibangun oleh bermacam-macam suku bangsa. Mari kita kembali kepada hakikat negara kita yang pluralis itu,” ujar Tsamara.

Senada dengan Tsamara, Asrida Ulinuha menceritakan cendekiawan muslim yang juga merupakan presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sangat dihormati masyarakat Tionghoa Semarang.

“Sosok Gus Dur demikian melekat di hati warga Tionghoa sampai-sampai di altar gedung kami dibuatkan papan penghormatan atau sinci bertuliskan nama beliau untuk didoakan,” ujar Asrida.

Almarhum Gus Dur dinobatkan sebagai Bapak Tionghoa oleh Komunitas Boen Hian Tong pada Agustus 2014. Sejak saat itu Sinci Gus Dur dipasang.

PSI dijadwalkan mengunjungi 6 kota dalam Solidarity Tour di Jawa Tengah, yaitu Semarang, Karanganyar, Wonosobo, Purwokerto, Tegal, dan Kudus.

Rilis Media DPP PSI
Narahubung: Shendy 08778302537