Gus Yaqut: Agama sebagai Inspirasi dan Humanisasi

Gus Yaqut: Agama sebagai Inspirasi dan Humanisasi
©GP Ansor

Reshuffle kabinet Indonesia Maju Era Presiden Joko Widodo menunjuk Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama menggantikan Fachrur Razi. Pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini lahir di Rembang, 4 Januari 1975 dan merupakan anak dari kiai ternama, K. H. Muhammad Cholil Bisri.

Digambarkan oleh majalah TIME, Gus Yaqut merupakan salah satu pemimpin yang paling berpengaruh di Indonesia. Ia menjabat sebagai Dewan Agama dan Pluralisme Amerika Serikat-Indonesia, dan memainkan peran kunci dalam pendirian Observatorium Wina untuk Penelitian Terapan Tentang Terorisme dan Ekstrimisme.

Gus Yaqut juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Rembang dan akhirnya terpilih menjadi Wakil Bupati Rembang periode 2005-2010. Pada tahun 2019, Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dan mewakili bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Paus Fransiskus merupakan petinggi dari Agama Katholik.

Pada pertemuannya itu, Gus Yaqut beserta jajarannya menyampaikan dokumen Ansor Declaration on Humanitarian Islam. Dokumen tersebut berisi seruan mencegah agama yang sering kali dijadikan sebagai senjata politik dan alat kampanye, khususnya Islam.

Perbedaan yang lebar antara ortodoksi Islam yang kaku dan konteks yang berubah dari realitas hidup umat Islam merupakan pertanyaan non-Muslim yang tinggal dalam masyarakat mayoritas Muslim. Penerapan hukum Islam klasik yang tidak lagi sesuai dengan konteks menyebabkan adanya ketidakstabilan aspek sosial dan politik, bahkan terjadinya kekerasan.

Bersamaan dengan hal tersebut, beberapa cendekiawan muda dan aktivis Nahdlatul Ulama, termasuk Gus Yaqut, memulai proyek untuk menyusun ortodoksi Islam alternatif di bawah rubrik Humanitarian Islam.

Humanitarian Islam merupakan sebuah gerakan mengatasi kontekstualisasi ajaran Islam. Umat Muslim harus dapat mengidentifikasi masalah dalam ajaran ortodoks Islam, termasuk seruan kampanye sosial-budaya, politik, agama, dan pendidikan berjangka panjang untuk mengubah pemahaman Muslim tentang kewajiban agama mereka.

Gerakan Humanitarian Islam resmi dimulai pada pertemuan ulama internasional tanggal 21-22 Mei yang dihadiri oleh ulama dari Asia Selatan, Asia Tenggara, Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Gus Yaqut mengatakan, gerakan seperti al-Qaeda, ISIS, dan kelompok lain yang sejenis adalah hasil dari Wahabisme dan aliran fundamentalis Islam, bukan hanya sekadar mewakili penyimpangan ajaran Islam.

Humanitarian Islam juga mempunyai misi untuk mempupus maraknya kebencian komunal demi ditegakkannya kesetaraan hak dan martabat manusia. Disampaikan juga bahwa GP Ansor turut berkontribusi menjaga kegiatan keagamaan di Indonesia.

Kehadiran Gus Yaqut sebagai Menteri Agama memberi harapan baru bagi kelompok Muslim minoritas. Jemaat Muslim Ahmadiyah menyambut dengan optimis keberagamaan yang lebih damai, toleran, dan harmoni di tangan Menteri baru.

Pasalnya, menurut juru bicara Ahmadiyah, Yendra Budiana, Gus Yaqut adalah sosok yang toleran dan antidiskriminasi sehingga membawa harapan pada kelompok pegiat kebebasan beragama. Sikap dan keberanian Gus Yaqut dalam menghadapi kelompok radikal intoleran yang sering kali mengatasnamakan agama sebagai bentuk legitimasi atas tindakannya, serta keberanian membela kelompok yang termarginalkan seperti Syiah, Ahmadiyah, dan kelompok lainnya, membuat nama Gus Yaqut makin besar.

Gus Yaqut dalam pidatonya mengutip pernyataan dari Ali bin Abi Thalib, yang mengatakan, “Mereka yang berbeda dalam keyakinan adalah saudara dalam kemanusiaan.” Jauh sebelum menjabat menjadi Menteri Agama, Gus Yaqut kerap kali melakukan kolaborasi dengan beberapa kelompok gerakan sosial kemanusiaan sebagai usaha untuk memajukan agama menjadi sumber inspirasi perdamaian.

Gerakan Gus Yaqut merupakan sebuah bentuk transformasi sosial yang tidak hanya melakukan perubahan, namun dipandu oleh nilai-nilai dan etika profetik. Istilah profetik adalah wujud dari manusia yang bertindak, berpikir, ataupun berperilaku dengan Nabi Muhammad SAW. sebagai role model. Gus Yaqut menjunjung tinggi kemanusiaan tetapi tidak melupakan Ketuhanan. Hal ini sejalan dengan teori Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo, yang menekankan humanisasi berlandaskan unsur transendensi, atau disebut dengan humanisme teosentris.

Ilmu Sosial Profetik adalah bentuk integrasi antara ilmu pengetahuan dengan agama. Profetik sendiri memiliki manka sifat yang menyerupai nabi, karena Nabi memiliki sikap transformative. Intelektual profetik diharapkan dapat membawa transformasi atau perubahan pada masyarakat.

Gus Yaqut berkeinginan untuk menjadikan agama sebagai sumber inspirasi, bukan aspirasi. Pilar-pilar humanisasi yang dilakukan Gus Yaqut mendorong pada kebaikan dengan mengangkat derajat dan hak kemanusiaan seseorang ataupun kelompok.

“Menteri agama adalah Menteri dari semua agama,” tuturnya.

Keberanian Gus Yaqut dalam melawan gerakan radikal merupakan sebuah usaha untuk membebaskan manusia dari kekejaman dan penindasan. Sebuah sikap perwujudan al-ma’ruf, yaitu mencegah terjadinya sesuatu yang berlawanan dengan kemanusiaan. Tujuannya untuk menjadikan agama sebagai sumber inspirasi.

“Setelah resmi menjadi Menag, yang pertama ingin saya lakukan yaitu bagaimana menjadikan agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi.” (22/12/20)

Menurutnya, agama seharusnya tidak dijadikan alat politik untuk menentang pemerintah, merebut sebuah kekuasaan, ataupun alat legitimasi kepentingan-kepentingan pribadi. Sebaliknya, agama haruslah dijadikan sebagai inspirasi yang membawa kebaikan, ketentraman, kedamaian dalam hidup berbangsa dan bernegara, bukan malah menjadi sumber konflik.

Dalam mewujudkan kehidupan bernegara yang damai, penting untuk kembali membangkitkan ukhuwah wathaniyah, mengingat di Indonesia tidak hanya dihuni oleh umat Islam, melainkan ada Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, yang sama-sama memiliki hak sebagai warga negara.

Dalam transformasi di bidang kemanusiaan, Gus Yaqut terinspirasi dari sosok Gus Dur yang senantiasa berada di garis depan untuk membela kemanusiaan. Gus Dur merupakan tokoh ormas Nahdlatul Ulama yang sangat menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan. Bagi Gus Dur, jika seorang manusia beragama kehilangan kemanusiaan, maka manusia itu tidaklah ada artinya, karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat terhadap kemanusiaan.

Sama halnya dengan prinsip kemanusiaan Gus Yaqut, Gus Dur juga melakukan pembelaan terhadap manusia tetapi tidak melupakan Tuhan. Malah, Gus Dur sendiri memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang agama Islam.

Sebagai seorang pimpinan, Gus Yaqut menerapkan pandangan dan sikap Gus Dur dalam kehidupan sehari-harinya, demi tercapainya Islam yang rahmatan lil’alamin. Gus Dur selalu meyakinkan bahwa manifestasi pembelaan terhadap Tuhan yang paling luhur adalah menebar kasih sayang kepada semua makhluk-Nya.

Transformasi sosial yang dilakukan oleh tokoh-tokoh agama, secara sengaja mengandung nilai dan cita-cita perubahan yang diimpikan masyarakatnya. Sesuai dengan misi Islam yang terdapat pada ayat 110 Q.S. Ali Imran (03) yang berbunyi, “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman pada Allah”.

Tindakan kemanusiaan adalah elemen penting dari praktik keagamaan, dan banyak didefinisikan oleh teks-teks Al-Qur’an maupun hadist. Bantuan kemanusiaan terbuka bagi sesama manusia, tidak terbatas oleh agama sekalipun. Aksi kemanusiaan tidak hanya pada bantuan kemanusiaan, tetapi memiliki arti lebih luas sebagai bentuk kesejahteraan sosial maupun bantuan darurat dan pembangunan berkelanjutan.

Referensi
    Inggriana Sahara Bintang
    Latest posts by Inggriana Sahara Bintang (see all)