Hacker dan Kekuasaan

Hacker dan Kekuasaan
©Giwangkara

Saat ini jagat kehidupan manusia sedang dicemaskan oleh adanya pembocoran data yang dilakukan oleh hacker. Tak pelak kecemasan tersebut telah membuat sebagian orang menjadi panik, utamanya adalah pemerintah yang menurut beberapa sumber berita menjadi target pembocoran data.

Kepanikan itu tampaknya bukan saja menimpa pemerintah tetapi kita semua sebagai bagian dari masyarakat digital. Hari ini media sosial atau internet yang sebagian besarnya ada data kita bukan lagi sekadar sebagai hiburan semata tetapi sudah menjadi denyut nadi kehidupan kita.

Pasalnya, saat ini hidup kita tidak bisa lepas dari yang namanya internet yang dipenuhi data-data. Bahkan segala aktivitas manusia sebagian besarnya bergantung pada kehidupan online, seperti pemesanan makanan, berkendara, dan ajang silaturahmi.

Media sosial atau data yang tersimpan melalui internet sudah layaknya seperti rumah. Maka wajar jika kehadiran hacker menjadi momok dalam kehidupan online. Bagaimana tidak menjadi momok, sebab kehadiran hacker ibarat kehadiran seorang pencuri di dalam rumah kita.

Fenomena hacker sebenarnya bukan fenomena baru, khususnya bagi negara Indonesia. Sejak pemerintahan Orde Baru, aktivitas hacker sudah sedemikian merajarela hanya saja intensitasnya belum segemparkan seperti saat ini.

Pada akhir kekuasaan Soeharto, beberapa situs pernah juga diacak-acak. Waktu itu tuntutan yang disuarakan adalah penurunan harga minyak dan bensin, pelepasan tahanan politik, dan penggantian presiden.

Namun, penyusupan pesan politik bukanlah alasan tunggal hacker. Sebab keisengan murni menjadi penyulut utama. Yang jelas kehadiran mereka merupakan fenomena yang nyata.

Pada 1996, situs Departemen Luar Negeri RI pernah diacak-acak oleh hacker Portugal yang bersimpati pada Timor Timur. Saat itu, halaman depan situs ini diganti dengan gambar Menteri Ali Alatas yang sudah diganti dalam tampilan yang melecehkan.

Melihat bangsanya direndahkan, anak-anak muda Indonesia yang ahli pemrograman komputer mendirikan kelompok bernama “Kecoak Elektronik” untuk menandingi para hacker dari luar tersebut. Kelompok ini dimotori oleh Chiko Terremendes, Lithium Error, dan Jirokul. Nama-nama ini merupakan nama samaran di dunia maya.

Di kemudian hari, grup “Kecoak Elektronik” ini tidak lagi “membela” pemerintah, melainkan melakukan apa yang disebut “hacktivism”. Seiring dengan matangnya gerakan reformasi, mereka membongkar situs yang lekat dengan kepentingan pemerintah seperti situs Golkar, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pemda Jakarta, serta menyerukan kecaman pada Soeharto dan kroni-kroninya. Tetapi seiring turunnya Soeharto, aktivitas “Kecoak Elektronik” pun cenderung meredup (Tempo, 2019).

Terlepas dari banyaknya pro dan kontra yang melihat fenomena hacker sebagai fenomena pengalihan isu dari kasus-kasus besar negeri ini, sejatinya penting juga melihat motivasi dari para hacker tersebut melakukan aktivtias “ilegal”-nya dalam dunia maya.

Penelitian Joana Gaia yang melakukan penelitian bertajuk Psychological Profiling of Hacking Potensial mengkategorikan hacker menjadi tiga, yakni 1). Hacker White Hat, 2). Black Hat, 3). Grey Hat.

Adapun hacker White Hat, yang kerap disebut sebagai peretas etis adalah kelompok peretas (hacker) yang membantu pemilik sistem dalam mendeteksi dan memperbaiki kerentanan sistem keamanan. Disebut sebagai peretas etis karena mereka tidak melanggar undang-undang, meski cara yang digunakan sama oleh Black Hat dan Grey Hat.

Sedangkan Black Hat atau yang disebut sebagai cracker adalah peretas yang biasanya termotivasi oleh keuntungan pribadi yang mereka terima dari pelanggaran sistem komputer secara ilegal, meskipun mereka juga mungkin membuat kerusakan sosial dari sensasi serangan, untuk membalas dendam, atau untuk mencari ketenaran.

Sementara itu, Grey Hat adalah kelompok peretas yang memiliki motivasi ideologis yang diterjemahkan menjadi serangan peretasan terhadap posisi politik yang berlawanan, kebijakan perusahaan yang mereka tidak setujui, atau bahkan negara-bangsa. Mereka juga sering disebut sebagai hacktivist (Gunawan, 2022).

Meski beberapa perusahan teknologi berbasis internet makin menunjukkan kejayaannya, tetap saja keberadaan para hacker juga memperlihatkan bahwa ada dunia lain yang tidak kalah besar. Kehadirannya pun sangat meresahkan dan mengerikan karena selain menimbulkan kerugma, juga menggerogoti nilai-nilai ekonomi. Dari kenyataan ini kemudian timbul pertanyaan yang menarik, yaitu siapa sesungguhnya penguasa dunia internet?

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo
Latest posts by Dimas Sigit Cahyokusumo (see all)