Hantu Laut

Hantu Laut
©Phinemo

Hantu Laut

Jauh di luar dugaan, peristiswa-peristiwa yang tak biasa terjadi itu menjadi isyarat bahwa dia akan berpulang untuk selamanya menuju Sang Khalik. Ayah dan ibunya bahkan tak sempat menerjemahkan isyarat itu bakal menjadi tragedi yang meruntuhkan tawa ria yang membingkai hari-hari hidup berumah tangga. Mustahil jika Tuhan sekejam itu. Ia tak mungkin mengambil satu-satunya harta yang kumiliki, sang Ibu membatin.

Sembari duduk menikmati teh pagi, sang Ibu memandang lekat-lekat putra semata wayangnya, Naldy yang sibuk sendiri mencuci seragam sekolahanya. Naldy memang anak yang rajin. Ia selalu melakukan segala pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada kedua orangtuanya. Itulah mengapa ia menjadi anak yang sangat dibanggakan.

Hampir tidak pernah sekalipun ia membantah omongan orantuanya. Dikala anak seusianya lebih memilih untuk menghabiskan waktu bercengkrama dengan android, Naldy malah lebih memilih untuk membantu pekerjaan kedua orangtuanya selepas sekolah. Mencari kayu bakar di perkebunan kopi pinggir kampung. Mencuci piring bahkan memasak. Semuanya itu dilakukan dengan penuh tanggungjawab.

Rasa penasaran sempat menggelayuti naluri sang Ibu ketika melihat Naldy yang sibuk sendiri mencuci seragam sekolahnya sudah sejak pagi hari. Padahal hari itu baru hari Sabtu. Biasanya Naldy baru akan mencuci seragam sekolah pada hari Minggu. Lebih tepatnya sehari sebelum masuk sekolah. Bukan hanya itu. Pakian yang biasa dikenakan untuk bermain bersama teman sekolahnya pun dibasuh.

Bahkan lantai kamarnya dipel   hingga nyaris tak sedikitpun noda hitam yang menempel pada setiap keramik putih. Kaca jendela dilap sebersih mungkin. Kasur busa tempatnya berbaring dikeluarkan untuk dijemur meski matahari belum nongol di balik Gunung Lewotobi, dua gunung berapi yang menurut warga setempat berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Digerogoti oleh gelombang penasaran yang tak kuasa diarungi, sang Ibu lantas melontarkan pertanyaan. “No, hari ini kan masih hari Sabtu. Kenapa sudah mencuci seragam sekolah?” tanya Ibu penuh kelembutan. “Sebentar sore saya mau pergi memanah ikan Bu,” sahut Naldy.

Jawaban singkat dari sang anak sontak menghilangkan rasa penasaran yang berkecamuk di benak sang Ibu. Membenamkan prasangka negatif yang semula sempat berkeluyuran di pikiran sang Ibu. Ia kembali menyeruput teh panas bersama sang Suami yang asyik menikmati sebatang rokok dan segelas kopi hokeng. Keduanya melewati pagi itu sambil melempar canda dan senyum bahagia dianugerahi anak yang berbakti.

***

Matahari sudah mulai tenggelam ketika kedua sahabat itu tiba di bibir pantai. Hari berangsur kelam. Bulan yang pucat mulai nampak dengan beberapa biji bintang. Air laut perlahan-lahan mulai surut. Menjauh dari pepohonan bakau yang berbaris tak beraturan di pinggir pantai. Naldy mulai menanggalkan bajunya. Cukup baginya untuk mengenakan celana pendek sehingga memudahkannya meliuk-liuk di dalam air laut. Senter yang sudah dicas berjam-jam kemudian diikatkan di kepalanya.

Sejurus kemudian, ia mulai turun ke laut. Sementara temannya menyaksikan dengan seksama dari bibir pantai. Hampir tak ada percakapan sebelum Naldy menceburkan diri ke laut untuk memanah ikan. Sahabatnya Werner mengumpulkan kayu bakar untuk membakar ikan hasil tangkapan sambil sesekali memantau pergerakan sahabatnya. Kedua sahabat itu memang memiliki kesamaan hobi. Berburu di daratan maupun di lautan.Hanya saja Werner tak pandai berenang. Itulah mengapa Werner ditugaskan untuk menyiapkan kayu bakar oleh Naldy.

Setelah berhasil menghidupkan api, Werner kembali mengalihkan pandangan menuju ke laut. Ia melihat senter yang digunakan oleh Naldy semakin bertolak ke tempat yang lebih dalam. Semula ia beranggapan bahwa sahabat karibnya itu beranjak ke tempat yang dalam karena disanalah sarangnya ikan-ikan berukuran besar. Ia kembali mengatur api. Lama kelamaan, senter semakin menjauh. Ia mencoba untuk meneriaki sahabatnya. Tak berbalas.

Merasa seperti ada sesuatu yang aneh, Werner kemudian meminta tolong beberapa warga yang sedang asyik memancing tak jauh dari tempatnya. Menaiki sebuah perahu, warga menghampiri lampu senter yang bernyala. Sementara malam semakin menua.

Betapa kagetnya mereka mendapati senter itu tak lagi bertuan. Werner mulai gelisah. Sekali lagi ia meminta tolong seorang warga yang lihai berenang. Setelah sejam berputar-putar mencari, ternyata tidak membuahkan hasil. Mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke bibir pantai dan mengajak lebih banyak orang sehingga mempermudah pencarian.

Saat perahu hendak ditambatkan, Werner tak sengaja menangkap sesuatu yang tidak asing baginya. Ia sangat kenal dengan celana yang dikenakan sahabatnya saat menceburkan diri ke laut sebelumnya. Dan ternyata benar. Setelah didekati, mereka mendapati tubuh Naldy di dasar laut yang dangkal itu. Dengan sigap mereka membopong tubuh Naldy yang nampak terkulai lemas.

***

Waktu menunjuk pukul 22.00 saat kabar tentang tenggelamnya Naldy sampai ke telinga ayah dan ibunya melalui telepon seluler. Sesegera mungkin sang ayah beranjak dari tempat tidurnya. Menghidupkan motor buntut dan segera menyusuli sang anak ke pantai yang hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari rumanya. Ia memacu motor buntut secepat mungkin dengan asa bisa menolong anak semata wayangnya. Sementara sang istri mematung di kamar tamu dengan hati bergolak tak tentu. Pikirannya luntang lantung kesana kemari penuh curiga menunggu kepastian kabar sang anak.

Setibanya di pinggir pantai, sang Ayah mendapati banyak orang yang berkerumun di tengah kegelapan malam. Ia berusaha menerobos kerumunan itu dan langsung memeluk anaknya sambil sesekali memanggil nama. Berharap yang dipanggil mendengar suaranya dan membuka mata. Harapannya itu tak bersambut. Mata sang anak tetap tertutup. Wajahnya pucat pasi.

Sementara dari mulutnya keluar busa seperti orang kena overdosis obat-obatan terlarang. Perutnya tidak membuncit, meski diberitakan tenggelam. Berbekal latihan pertolongan pertama pada kecelakaan di desa, sang Ayah berusaha membuat napas buatan.

Usaha itu tidak membantu. Dengan sigap sang Ayah menggendong, mengarahkan kepalanya ke bawah dan kakinya ke atas sambil menggoyang-goyangkan tubuh anaknya. Lagi-lagi gagal. Tak patah semangat sang Ayah lantas membawanya menuju ke puskesmas terdekat dibantu oleh beberapa warga yang menaruh simpati pada apa yang dialami oleh sang ayah. Setelah memeriksa singkat, dokter akhirnya harus pasrah bahwa anak itu tidak bisa tertolong. Nadinya tak lagi berdenyut. Ia telah menghembuskan nafas terakhir beberapa jam yang lalu.

Berita kematian itu menjalar dengan cepat ke segala penjuru kampung. Maklumlah, kemajuan teknologi menembus jarak sehingga mempermudah penyaluran informasi. Peristiwa yang terjadi di luar negeri sekalipun dengan cepat diketahui oleh khalayak di belahan bumi yang jauh. Para tetangga yang mendapat kabar duka segera berduyun-duyun mendatangi rumah duka.

Bergotong royong membangun tenda sembari menanti kedatangan jenasah dengan seribu tanya yang berkecamuk tentang sebab kepergian Naldy. Beberapa orang menyangkan tragedi itu mengingat Naldy baru berusia 15 tahun. Masih begitu muda untuk takaran umur manusia pada umumnya. Nafas hidup yang bakal dihirup tentu masih panjang. Tapi apa boleh dikata? Misteri hidup tak satupun manusia yang mampu membongkarnya.

Tangis sang Ibu memecah di kesunyian malam tatkala jenazah anaknya diturunkan dari mobil ambulance dan diarak masuk ke dalam rumah sebelum dibuatkan upacara adat singkat tepat di depan rumahnya. Seturut adat istiadat, kematian Naldy adalah peristiwa yang tidak wajar. Oleh sebab itu perlu dilakukan upacara pemulihan sehingga peristiwa serupa tidak dialami oleh anggota keluarga yang lain. Sesudah upacara itu barulah jenazah boleh masuk rumah.

Hati sang Ibu hancur berkeping-keping memandang anaknya yang terbaring kaku.  Ia berteriak histeris sambil sesekali membelai wajah anaknya saat satu persatu teman sekelasnya melayat. Sungguh ia tak rela mengecap peristiwa yang begitu pilu dalam hidupnya. Kebahagiaan yang selama ini membingkai kehidupan rumah tangganya seolah runtuh seketika.

Hampir tak ada secuil pun sisa kebahagiaan. Yang ada hanyalah ratap tangis dan kertak gigi. Hidup tanpa sang buah hati serasa hampa Rasa-rasanya ia ingin pergi bersama sang anak. Sesekali ia mendongakan kepala, memandang lagit-langit rumah sembari berujar, “Tuhan..kenapa Engkau merampas kebahagiaanku?”

***

Tiga hari setelah kematiannya, diadakanlah ibadah malam nebo menurut kepercayaan dan kebudayaan kampung. Seusai ibadah, Werner yang duduk di bagian paling depan barisan terjungkal dari kursi. Orang-orang sekitar mengira dia pingsan. Ternyata tidak. Ia kena bloding. Dan memang benar. Yang menjadi aneh adalah suara yang keluar dari mulut Werner bukanlah warna suaranya yang asli melainkan suara Naldy. Momen itu menjadi temu kangen antara orangtua dan anak.

“No..apa yang membuatmu pergi begitu cepat?” tanya sang Ibu dengan memelas.

“Saya dipatuk oleh ular tepat di dada, Bu,”

Mendengar jawaban itu pikiran san Ibu langsung menggali beberapa peristiwa aneh yang terjadi seminggu belakangan. Mulai dari ikan goreng yang mengeluarkan aroma tak sedap. Padahal ikan tersebut masih segar. Baru ditangkap dari laut. Sampai kepada tabiat yang tak lazim terjadi pada diri anaknya. Ternyata sederet kejadian itu menjadi isyarat akan kepergian anaknya.

Menurut keyakinan warga seputaran pantai, ular itu memang tidak seperti ular biasa. Warnanya hitam putih seperti zebra cross. Ukurannya pun tidak sepanjang ular-ular pada umumnya. Hanya sekitar 5 centimeter. Ular tersebut adalah jelmaan dari hantu laut. Wilayah dimana Naldy menembak ikan adalah istana kerajaannya. Memang selama ini Naldy sering memanen ikan hasil panahan yang banyak. Ternyata itu adalah pemberian yang berujung pada barter. Nyawa manusia  akhirnya menjadi tebusan untuk menggantikan ikan-ikan yang selama ini menjadi korban mata panah.

Segala misteri tentang kematian Naldy yang abu-abu kini menjadi terang benderang. Kata-kata Naldy yang merasuki Werner menjadi semacam petunjuk bagi kedua orantua Naldy untuk mengiklaskan kepergian sang buah hati mereka.

“Ayah dan Ibu tidak usah bersedih lagi, yah! Badan saya boleh pergi tetapi jiwa saya tetap ada di antara kalian. Saya mencintai kalian semua.”

Setelah berkata demikian, Werner siuman. Perlahan-lahan ia membuka mata. Samar-samar dipandangnya sekerumunan orang dengan mata sembab. Ia lantas meminta sepiring nasi karena merasa sangat lapar setelah berkelana ke dunia lain yang ia sendiri tak mengenalinya.

***

Keterangan:

  • No: Panggilan saying untuk anak laki-laki pada masyarakat Flores Timur
  • Bloding: Kerasukan orang roh orang yang telah meninggal menurut kepercayaan masyarakat Flores Timur
Jetho Lawet
Latest posts by Jetho Lawet (see all)