Hasrat Seksual Pria yang ‘to the Point’

Hasrat Seksual Pria yang ‘to the Point’
©Pinterest

Perkara seks atau hasrat seksual itu tidak ada hubungan secara langsung dengan budaya patriarki. Ia lebih merupakan hubungan tak langsung yang membentuk struktur sosial dalam relasi antara laki-laki dan perempuan.

Dalam semua tradisi agama-agama di dunia, persoalan patriarki ini menjadi satu masalah serius yang harus kita pecahkan. Khususnya ketika perempuan-perempuan Barat menyadari betapa lemahnya posisi mereka di ruang publik di mana gerakan emansipasi mereka kemudian berpengaruh ke hampir semua tradisi orang-orang beragama di seluruh dunia, termasuk Islam.

Kita sering mendengar satu pernyataan bahwa hasrat seks laki-laki dan perempuan itu satu banding sembilan. Ini bukan pernyataan omong kosong. Bahwa di dalam diri laki-laki—secara biologis—mengandung unsur genderang libido yang jauh lebih tipis daripada perempuan. Itulah kenapa hasrat seks laki-laki bersifat to the point atau mudah terangsang oleh segala sesuatu yang memicunya dari luar.

Ini berbeda dengan perempuan yang cenderung dapat menahan hasrat seks karena genderang libido mereka jauh lebih tebal. Kondisi-kondisi tertentu dan konteks lebih banyak memengaruhi hasrat seks perempuan. Perempuan lebih banyak mempertimbangkan unsur-unsur emosional dalam perkara seks.

Itu artinya bahwa laki-laki dapat terangsang kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja yang memengaruhinya. Perempuan cenderung bisa terangsang atau bergairah ketika suasana-suasana yang mengenakkan mendahuluinya, seperti kencan romantis bertabur bunga-bunga. Kedekatan dengan laki-laki tertentu juga sangat memengaruhi hasrat seksual mereka.

Bukan suatu yang rahasia jika unsur psikologis lebih banyak memengaruhi hasrat perempuan. Ini sangat menentukan apakah mereka akan berhubungan intim dengan laki-laki atau tidak.

Faktanya, laki-laki jauh lebih sering melakukan onani ketimbang perempuan melakukan masturbasi. Karena, kebutuhan seksual laki-laki dan perempuan sangat jauh berbeda. Sementara persoalan patriarki—sebagai konstruksi sosial—lebih merupakan persoalan kebutuhan biologis semata.

Menurut analisis Megawangi, keadaan biologis manusia dapat mempengaruhi perilaku manusia. Kondisi fisik atau fisiologis manusia dapat menyebabkan pengaruh ini.

Baca juga:

Di samping itu, perbedaan fisik akan memberikan implikasi yang signifikan pada kehidupan publik perempuan, sehingga perempuan lebih sedikit perannya daripada laki-laki. Jadi, patriarki itu lebih pada persoalan perbedaan biologis ketimbang seks (ini bukan berarti penulis mengabaikan bagaimana pengaruh agama, budaya, dan politik dalam sistem patriarki).

Ditambah hal yang tidak terjadi dalam diri perempuan adalah laki-laki sering membayangkan tentang seks. Penelitian menunjukkan bahwa di usia kurang dari 60 tahun, paling tidak laki-laki memikirkan seks satu kali dalam sehari. Sementara pada wanita jumlahnya hanya seperempat ketimbang laki-laki.

Penelitian dari Florida State University menunjukkan bahwa hasrat seksual laki-laki bersifat spontan (jadi ngaceng-an itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja) dan fantasi seks laki-laki sangat bervariasi.

Karena onani atau berhubungan intim itu adalah suatu kebutuhan seksual dan bukan biologis, laki-laki lebih mudah mencari pelampiasan hasratnya daripada perempuan. Mimpi basah, misalnya, pasti terjadi ketika laki-laki jarang melakukan onani.

Itu artinya bahwa Tuhan memang menciptakan otak dan hormon laki-laki secara berbeda (kalau memang Tuhan itu ada). Rangsangan yang to the point juga memudahkan laki-laki dalam memecahkan masalah disfungsi seksual ketimbang perempuan.

Penting juga kita katakan bahwa iklim sosial dan budaya sangat memengaruhi hasrat seksual perempuan. Misalnya, perempuan yang tampak religius akan cenderung menutup diri terhadap perkara seks. Sementara laki-laki sikapnya lebih sekuler dengan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara sikap religius dengan hasrat seks.

Itulah kenapa ada penelitian yang menunjukkan bahwa 95 persen laki-laki pernah melakukan onani. Karena ini soal kebutuhan seksual yang elementer.

Halaman selanjutnya >>>
    Rohmatul Izad
    Latest posts by Rohmatul Izad (see all)