Hasrat Seksual Pria yang ‘to the Point’

Hasrat Seksual Pria yang ‘to the Point’
Ilustrasi: liputan6.com

Perkara seks atau hasrat seksual itu tidak ada hubungan secara langsung dengan budaya patriarki. Ia lebih merupakan hubungan tak langsung yang membentuk struktur sosial dalam relasi antara laki-laki dan perempuan.

Dalam semua tradisi agama-agama di dunia, persoalan patriarki ini menjadi satu masalah serius yang harus dipecahkan, khususnya ketika perempuan-perempuan Barat menyadari betapa lemahnya posisi mereka di ruang publik di mana gerakan emansipasi mereka kemudian berpengaruh ke hampir semua tradisi orang-orang beragama di seluruh dunia, termasuk Islam.

Kita sering mendengar satu pernyataan bahwa hasrat seks laki-laki dan perempuan itu satu banding sembilan. Ini bukan pernyataan omong kosong. Bahwa di dalam diri laki-laki—secara biologis—mengandung unsur genderang libido yang jauh lebih tipis daripada perempuan. Itulah kenapa hasrat seks laki-laki bersifat to the point atau mudah terangsang oleh segala sesuatu yang memicunya dari luar.

Ini berbeda dengan perempuan yang cenderung dapat menahan hasrat seks karena genderang libido mereka jauh lebih tebal. Hasrat seks perempuan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tertentu dan konteks. Perempuan lebih banyak mempertimbangkan unsur-unsur emosional dalam perkara seks.

Itu artinya bahwa laki-laki dapat terangsang kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja yang mempengaruhinya. Perempuan cenderung bisa terangsang atau bergairah ketika didahului oleh suasana-suasana yang mengenakkan, seperti kencan romantis, ditemani bunga-bunga, dan kedekatan dengan laki-laki tertentu sangat mempengaruhi hasrat seksual mereka.

Bukan suatu yang rahasia jika hasrat perempuan lebih banyak dipengaruhi unsur psikologis. Ini sangat menentukan apakah mereka akan berhubungan intim dengan laki-laki atau tidak.

Faktanya, laki-laki jauh lebih sering melakukan onani ketimbang perempuan melakukan masturbasi. Karena, kebutuhan seksual laki-laki dan perempuan sangat jauh berbeda. Sementara persoalan patriarki—sebagai konstruksi sosial—lebih merupakan persoalan kebutuhan biologis semata.

Menurut analisis Megawangi, keadaan biologis manusia dianggap dapat mempengaruhi perilaku manusia. Pengaruh ini dapat disebabkan oleh kondisi fisik atau fisiologis manusia.

Di samping itu, perbedaan fisik akan memberikan implikasi yang signifikan pada kehidupan publik perempuan, sehingga perempuan lebih sedikit perannya dibanding laki-laki. Jadi, patriarki itu lebih pada persoalan perbedaan biologis ketimbang seks (ini bukan berarti penulis mengabaikan bagaimana pengaruh agama, budaya, dan politik dalam sistem patriarki).

Di tambah hal yang tidak terjadi dalam diri perempuan adalah laki-laki sering membayangkan tentang seks. Penelitian menunjukkan bahwa di usia kurang dari 60 tahun, paling tidak laki-laki memikirkan seks satu kali dalam sehari, sementara pada wanita jumlahnya hanya seperempat di banding laki-laki.

Penelitian dari Florida State University menunjukkan bahwa hasrat seksual laki-laki bersifat spontan (jadi ngaceng-an itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja) dan fantasi seks laki-laki sangat bervariasi.

Karena onani atau berhubungan intim itu adalah suatu kebutuhan seksual dan bukan biologis, laki-laki lebih mudah mencari pelampiasan hasratnya dibanding perempuan. Mimpi basah, misalnya, pasti terjadi ketika laki-laki jarang melakukan onani.

Itu artinya bahwa otak dan hormon laki-laki memang diciptakan secara berbeda oleh Tuhan (kalau memang Tuhan itu ada). Rangsangan yang to the point juga memudahkan laki-laki dalam memecahkan masalah disfungsi seksual ketimbang perempuan.

Penting juga dikatakan bahwa hasrat seksual perempuan sangat dipengaruhi oleh iklim sosial dan budaya. Misalnya, perempuan yang tampak religius akan cenderung menutup diri terhadap perkara seks, sementara laki-laki sikapnya lebih sekuler dengan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara sikap religius dengan hasrat seks.

Itulah kenapa ada penelitian yang menunjukkan bahwa 95% laki-laki pernah melakukan onani. Karena ini soal kebutuhan seksual yang elementer.

Ada juga pendekatan sosio-biologis yang menunjukkan secara genetik bahwa perempuan diprogram untuk tidak terlalu mengumbar dan selalu bersikap hati-hati, karena mereka termasuk pihak yang menanggung beban hubungan seksual, seperti hamil atau mengurus anak. Meskipun ada sikap yang terlalu fanatik dari kaum feminis bahwa ikatan pernikahan itu termasuk salah satu budaya yang melanggengkan sistem patriarki, meski ini tidak cukup beralasan.

Coba kita perhatikan, khususnya dalam hubungan cinta dan pernikahan, perempuan sering jauh lebih peka terhadap kualitas hubungan dan cenderung memilih pria yang mampu mencari nafkah secara memadai. Ini karena dan salah satu faktornya adalah perempuan ketika hamil dan saat melahirkan, mereka dalam kondisi yang terbatas gerak-geriknya. Bukan persoalan ditindas atau menindas secara patriarki.

Dan lagi, yang amat berbeda dengan laki-laki soal seks adalah perempuan lebih sulit membangkitkan gairah seksual. Kadang-kadang perempuan juga tidak tahu cara bagaimana membangkitkan gairah seks itu.

Itulah kenapa laki-laki sangat mudah terangsang ketika menonton film porno dan perempuan cenderung menghindarinya sebagai satu bentuk sikap perlawanan terhadap harga diri wanita tersebut.

Masalah seksual sering kali muncul, seperti pada laki-laki ejakulasi dini, dan pada keduanya soal gairah seks yang menurun atau nafsu yang hilang begitu saja. Laki-laki cenderung mudah mengatasinya, misalnya, dengan obat-obatan, makan buah atau makanan alami.

Sementara, bagi perempuan sangat berbeda. Masalah ini sering kali lebih pada persoalan psikologis dan mental. Makanya, cara mengatasinya juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Tulisan ini hanya ingin mengatakan bahwa beda antara kebutuhan biologis dengan seksual, khususnya pada laki-laki dan perempuan. Sehingga mereka sering kali menunjukkan sikap dan tindakan-tindakan yang jauh berbeda satu sama lain.

Dalam kasus tertentu, laki-laki tidak mempermasalahkan hasrat seksual mereka dengan soal moral. Sementara perempuan lebih memahaminya sebagai tindakan baik atau buruk, layak atau tidak layak.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)