Hati-Hati dengan Nasionalisme

Hati-Hati dengan Nasionalisme
©Economy Journal

Nalar Politik – Warganet berakun @Mentimoen mengimbau agar hati-hati dengan nasionalisme, dalam memaknai atau menerapkannya. Sebab penggunaannya yang keliru akan berimbas pada potensi lahirnya perpecahan.

Menurut post-theist freethinker ini, nasionalisme itu bagus jika diarahkan pada perbaikan nasib bangsa yang bersangkutan; dilakukan untuk merangkul, mengentalkan kadar inklusi. Sebaliknya, menjadi momok jahat kalau diarahkan untuk mengekslusi, dijadikan sebagai alat kekuasaan.

“Karena itu, hati-hati dengan nasionalisme. Selalu kita pelihara untuk meningkatkan nasib rakyat, nasib bangsa, untuk merangkul, untuk nation-building. Tetapi jangan untuk mengekslusi, menghantam pihak lain. Hasilnya, kekerasan atau perang,” kicaunya, Rabu (27/11).

Lantaran bangsa terdiri dari manusia, maka nasionalisme yang melepaskan faktor manusia dan fokus pada kekuasaan negara, lanjut @Mentimoen, jelas bukan nasionalisme, melainkan fasisme.

“Kemampuan berhubungan dengan manusia lain adalah soal empati. Apakah bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan manusia lain?”

Seseorang, baginya, tidak bisa mengeklaim mampu bernasionalisme secara makro jika tidak mampu berempati dengan tetangganya. Ia tidak bisa berbuat demikian jika belum mampu mengerti kepedihan yang diarahkan manusia lainnya.

“Nasionalisme itu rasa memiliki bersama. Kalau kamu sakit, saya juga merasakan sakitnya.”

Pada akhirnya, nasionalisme yang benar, menurutnya, adalah yang mempersatukan dan inklusif.

“Ketika ‘nasionalisme’ dipakai untuk mengeksklusi pihak lain dengan menggunakan faktor-faktor primordial, maka itu bukan nasionalisme, tetapi tribalisme. Tribalisme mendorong perpecahan. Jangan pernah samakan nasionalisme dengan tribalisme.” [tw]

Baca juga: