Hati

Hati
©Islampos

Hati yang bisu
Dingin yang membeku
Pikiran tak menentu
Dengan sesuatu yang dituju
Hati mulai berbicara

Dengan kalimat tak bermakna
Berangan-angan untuk bersamanya
Di setiap saat selalu bersama
Tapi hati ini menyadari

Dengan hal yang tak bisa dimungkiri
Dengan apa yang terjadi
Yang tidak sesuai dengan kata hati
Hati hanya bisa bersabar dalam diamnya
Berdoa dengan jiwanya

Tetaplah di Sini

Di sudut kota yang dingin
Berkelana di hati yang sepi
Menikmati rintikan hujan
Dan berpikir semuanya telah usai

Perlahan-lahan semua titik hujan semakin besar
Membuat hati tak berdaya
Untuk memaknai setiap tetesan hujan

Yang menemani kesepian
Berharap hujan itu selalu hadir
Entah di mana dan kapan pun itu
Untuk menemani sepi yang mendalam

Aku

Adalah kapas yang beterbangan tak pernah berhenti menyisir dunia yang kelam ini

Aku

Adalah secercah warna gelap yang mencoba mencari sinar dunia untuk bisa bertahan hidup

Aku

Tak bisa memberi warna indah seperti pelangi yang mempunyai beribu ultraviolet, tapi aku hanya bisa memberi warna putih untuk menghiasi dunia

Aku

Tak berdaya memutihkan dunia, hanya saja kasih sayang Tuhan terhadapku mampu menggerakan raga ini untuk menggoreskan warna putih dalam jiwa ini

Kepada Rintik Gerimis maupun Derasnya Hujan yang Malam Ini Tak Kunjung Datang

Malam ini kembali kurebahkan diriku dalam pelukan bumi, bukan untuk menetap, hanya sekedar untuk menikmati harumnya bau tanah sembari melantunkan harap yang kubiarkan saja melangit

Lalu, sayup lantunan suara angin menyapu lembut mukaku, menyapaku, seolah mengajakku untuk tinggal sejenak dalam pelukan sang bumi malam ini. Aku, sama seperti yang lain, jika katanya, kalau lagi rindu bakalan tumbuh jerawat, sayangnya mukaku tetap mulus tak berjerawat, hanya saja jiwakulah yang hanyut terombang ambing dalam lautan rindu. Lautan yang membawaku menyelam semakin dalam tanpa pernah ingin terapung di permukaan

Seketika setelah sang angin malam menyapa, sejenak ku pejamkan mataku serta lirih kujawab sapaannya

“Apakah malam ini dia akan datang?”

Dan tiba-tiba suasana menjadi pengap

Pertanda jika sang angin malam pergi, seolah memberi jawaban jelas malam ini tak bersahabat denganku

Dia, sosok yang aku rindukan, sepertinya tak akan datang

Padahal, dalam segala harap yang ku biarkan saja melangit, selalu saja ada dia yang kuinginkan datang bersama hembusan angin malam yang selalu menyapa setiap malam

Kabarnya saja bahkan tak terdengar, seolah bumi telah melahapnya dalam-dalam karena tak ingin aku mendua atas dirinya

Bagiku, sekarang bumi tak lagi sama. Harum tanahnya tak lagi semerbak. Gersang, panas dan entah akan seperti apa nantinya, terlebih lagi tanpa kedatangannya. Baik pagi dan sang fajar. Siang dan surya. Sore dan sang senja. Malam dan sang bintang. Bumi tetap gersang, dan tugas angin kini hanyalah menjadi penyejuk bagi insan-insan lelap yang kepanasan.

Mungkin, engkau bertanya, sebenarnya siapa yang sedang aku tunggu kedatangannya malam ini. Jika aku tak menjawab, coba saja bertanya pada angin yang berhembus

“Kenapa bau tanah tak seharum kemarin?”

Atau cobalah bertanya pada bintang-bintang yang gemerlap indah menghiasi langit malam ini. Siapa tahu kau akan menemukan jawabannya. Siapa yang sedang aku rindukan bahkan aku tunggu kedatangannya

Memeluk erat terlelap bersama sang bumi

Semesta pun Mengetahuinya

Di tengah ambang kegundahan jiwa terdalam
Aku menemukan embun penuh kesejukan dalam diam
Dengan saksama aku pun mengamatinya dalam diam
Aku tak ubahnya seperti anak kecil
Yang baru pertama kali  melihat pelangi

Menatap lama-lama di balik kastil
Hingga rasa ingin tahu merasuk dalam diri
Yang pada akhirnya
Aku terkesima akan ketenangan jiwanya
Aku terpukau akan keteduhan wajahnya
Aku pun terpesona akan kemuliaan akhlaknya

Pada semburat sinar mentari mencumbu badan
Gemercik air disela-sela bebatuan
Bisikan angin menyentuh dedaunan
Aroma tanah tandus tersapu air hujan
Bahkan pada debur ombak memecah keheningan

Malam Rindu

Duhai hati yang memendam rindu
Semburat merah langit senja
Dan indahnya fajar ufuk timur
Tak mampu melerai beban yang kau pikul
Temaram lampu jalan kala kau pulang

Serta sendu angin malam sekedar kolase
Bingkai lusuh yang merekam jeritmu
Yang kian hari melengking melangit
Kau cumbu lagi dan lagi sepi
Padahal kau tahu ia bagai pisau tajam

Selembut apa pun kau kecup akan tetap menyayat bibir hatimu
Cukup lama kau bertahan
Tertambat dalam perasingan
Sajak mesra tak bertuan

Semakin mesra di sudut ruang
Sementara waktu bergulir
Hati terbungkus khawatir
Ramai gunjing tak tentu hilir
Perdebatan takdir yang sudah terukir

Cukup sudah, sadarlah ini bukan hal yang bisa dipaksakan
Sekarang terbanglah..!!
Terbang bersama sepoi angin malam
Di antara sela gerimis yang menitik
Terbanglah bersama parau heningnya malam di sudut kota

Secuil Tulisan Malam

Lagi-lagi menulis
Lagi-lagi aku mengukir kertas putih ini
Lagi-lagi otakku diperas oleh rangkaian kata
Yang akan terangkum menjadi bait penggambar hati
Dan lagi-lagi aku bercerita tentang diri ini

Bagaimana tidak senyumku semakin curah terpaksa
Tawaku semakin misteri senada
Apa lagi tatapanku penuh hasrat dusta
Kadang aku bertanya
Ada apa dengan diriku?

Apa iya ingin berkata tereleminasi dari kehidupan
Atau mungkin iya tak sanggup berada di antara nafas-nafas lemah kehidupan
Angin malam ini menyejukkan
Sayangnya tak senada dengan kehidupan yang kini terasa menyedihkan
Diriku adalah aku yang kini merasa tercampakkan

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)