Hayek untuk Indonesia

Hayek untuk Indonesia
©Singgasana Kata

Ulasan Buku – Buku The Constitution of Liberty dianggap sebagai karya terpenting Friedrich August Hayek (1899-1992), pemikir masyhur asal Austria yang pernah memenangkan Hadiah Nobel pada 1974 di bidang ekonomi itu.

Tema pokok buku ini ialah mengenai pentingnya kebebasan bagi pertumbuhan peradaban manusia, dan kenapa kebebasan itu harus dirawat terus. Hayek mencoba merumuskan argumentasi yang sejernih mungkin untuk membela ide kebebasan, dengan bahasa yang sebisa mungkin jauh dari “obskurantisme” dunia akademis atau filsafat yang biasanya susah ditembus oleh kaum awam.

Buku yang hadir ke hadapan Anda ini bukan terjemahan langsung atas buku Hayek tersebut. Freedom Institute akan mengusahakan terjemahan utuh atas karya Hayek itu tahun depan, yakni 2013. Yang Anda baca sekarang ini ialah semacam ringkasan atas karya tersebut yang dikerjakan oleh Prof. Eugene F. Miller, seorang profesor ilmu politik yang mengajar di University of Georgia, AS, dan pernah berguru pada Hayek di Universitas Chicago.

Pertanyaannya: kenapa buku ini kami terbitkan ke dalam bahasa Indonesia? Jawabannya bisa sederhana: menerjemahkan buku apa pun (tentu saja buku yang berguna, meski “berguna” bisa dimaknai secara berbeda dari satu orang ke orang yang lain), jelas pekerjaan yang baik.

Kepustakaan dalam bahasa Indonesia perlu terus diperkaya, entah dengan karya asli tulisan sarjana Indonesia sendiri, atau karya sarjana asing. Makin kaya kepustakaan yang terbit dalam suatu bahasa, akan makin maju pula bahasa itu, dan dengan demikian kebudayaan ilmiah masyarakat pengguna bahasa itu akan kian maju pula.

Tetapi jawabannya bisa juga lebih serius dan spesifik: situasi sosial di Eropa pada 1930an yang menjadi konteks penulisan buku ini, walau tidak sepenuhnya persis, agak-agak mirip dengan keadaan yang kita alami di negeri kita sekarang. Sejak dekade 30an, ide-ide sosialisme sangat populer di Eropa dan Amerika, baik di kalangan kaum ilmiah atau masyarakat pada umumnya.

Atmosfer yang mencirikan era itu ialah perasaan ragu dan curiga terhadap ide kebebasan individu. Kebebasan dianggap akan berujung pada fasisme, momok yang secara historis diwakili oleh Nazi di Jerman. Pasar bebas yang dasarnya juga ide kebebasan individu itu dipandang dengan penuh curiga. Pasar bebas dan kapitalisme dipandang telah mendatangkan bencana, yakni malaise atau krisis ekonomi besar pada tahun 30an.

Yang menarik, kaum intelektual dan masyarakat umum di Eropa saat itu bisa dengan mudah melihat kejahatan yang ditimbulkan oleh Nazi, tetapi tidak melihat hal serupa pada sosialisme. Bagi mereka, fasisme tidak mempunyai kaitan apa pun dengan sosialisme. Keduanya dipandang sebagai dua hal yang terpisah secara kategoris—fasisme jahat, tetapi sosialisme baik.

Baca juga:

Sementara itu, kapitalisme yang memungkinkan Eropa mencapai kemajuan-kemajuan ekonomi yang besar sejak abad ke-18 juga dipandang buruk karena mendatangkan akibat-akibat yang berbahaya, baik dalam lapangan ekonomi maupun non-ekonomi.

Pendeknya: situasi intelektual di Eropa pada dekade 30an dicirikan oleh kuatnya skeptisisme serta kecurigaan pada ide kebebasan dan kapitalisme; bahkan, di kalangan sejumlah intelektual, perasaan pesimis berkembang lebih jauh lagi—ialah pesimisme pada peradaban Barat itu sendiri seperti tergambar dalam buku yang masyhur di tahun 30an tulisan Oswald Spengler, Der Untergang des Abendlandes (Runtuhnya Barat, terbit pada 1922).

Hayek mulai menulis untuk melawan kecenderungan-kecenderungan skeptis ini sejak tahun 40an. Ia mula-mula menulis buku yang mirip sebuah pamflet yang, setelah terbit, kemudian mendadak sangat populer di Eropa berjudul The Road to Serfdom (susah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Freedom Institute dengan judul Ancaman Kolektivisme [Oktober 2011]).

Dalam buku itu, Hayek membahas tentang ancaman fasisme dan sosialisme, sekaligus menunjukkan bahwa keduanya punya akar yang sama dan karena itu tak boleh diperlakukan secara berbeda: yaitu kecurigaan pada kebebasan, tekanan yang besar pada kolektivitas yang ujung-ujungnya mengancam kebebasan, serta pentingnya ekonomi planning atau rekayasa oleh pemerintah pusat (biasa disebut etatisme).

Beberapa tahun ke depan, Hayek kemudian menulis The Constitution of Liberty, terbit pada 1960). Melalui buku ini, Hayek ingin menuangkan seluruh idenya tentang kebebasan dengan cara yang lebih komprehensif dan dengan argumen yang lebih gamblang.

Suasana sosial yang mencurigai kebebasan juga kita rasakan di Indonesia saat ini. Orde reformasi ialah orde kebebasan. Inilah orde yang lahir karena protes dan pemberontakan masyarakat terhadap orde sebelumnya yang otoriter—Orde Baru.

Tetapi, setelah orde reformasi berjalan beberapa saat, mulai muncul kecenderungan-kecenderungan sosial yang berlawanan dengan kebebasan. Konservatisme sosial yang anti-kebebasan mulai bermekaran, memanfaatkan situasi kebebasan yang ada sekarang. Persekusi dan serangan atas kelompok-kelompok minoritas adalah salah satu manifestasinya yang paling tampak.

Keadaan ini diperparah oleh adanya fenomena negara lemah setelah tumbangnya Orde Baru. Lembaga negara kurang berhasil menegakkan otoritasnya guna melindungi kelompok minoritas dari kekerasan dan persekusi oleh kelompok mayoritas.

Halaman selanjutnya >>>