Hegemoni Ekonomi Global vs Kebijakan Politik Biden

Hegemoni Ekonomi Global vs Kebijakan Politik Biden
©Global News

Yang terpenting adalah apakah ekonomi global masih mengintervensi kebijakan Joe Biden atau sebaliknya.

Kebijakan Buy American Plan adalah sebuah kebijakan politik Joe Biden dengan menaikkan Standar 51 persen local content untuk produk made in America. Pengadaan infrastruktur akan menggunakan produk Amerika Serikat, sebesar USD 400 miliar untuk procurement investment, dan USD 300 miliar untuk teknologi R&D.

Buy American Plan merupakan kebijakan politik Biden di mana ia akan mengunakan produksi Amerika serikat sendiri dalam pengadaan infrastruktur. Manufaktur Amerika Serikat adalah Arsenal of Democracy dalam Perang Dunia II, dan harus menjadi bagian dari Arsenal of American Prosperity untuk membantu mendorong pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid19.

Manufaktur komprehensif dan strategi inovasi Biden akan mengatur sumber daya pemerintah Federal dengan cara yang belum pernah dilihat sejak Perang Dunia II. Biden akan membuat komitmen nasional untuk membeli produk Amerika Serikat dan bukan hanya retorika belaka.

Di sisi lain, IMF kembali menaikkan prospek untuk pertumbuhan ekonomi global. Sebelumnya, pada Januari 2021, IMF sudah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 5,2% menjadi 5,5%.

Kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi itu sebagian besar mencerminkan prospek ekonomi Amerika Serikat. IMF mengatakan bahwa peningkatan investasi publik sebesar 1% dari PDB dapat memperkuat kepercayaan dalam pemulihan dan peningkatan PDB sebesar 2,7%, investasi swasta 10%, dan lapangan kerja sebesar 1,2%. Angka-angka tersebut dapat terealisasikan setelah 2 tahun jika investasi berkualitas tinggi, dan jika beban utang publik serta swasta tidak melemahkan respons pasar terhadap stimulus.

Berangkat dari gagasan Alexander Hamilton, sistem Amerika adalah rencana ekonomi yang memainkan peran penting dalam setiap kebijakan yang diambil oleh birokrat Amerika. Berakar pada gagasan Alexander Hamilton, di mana terdiri dari 3 bagian untuk saling menguatkan. Yakni, tarif untuk melindungi dan mengembangkan industri Amerika Serikat, Bank Nasional untuk mendorong perdagangan, dan subsidi federal untuk jalan, kanal, dan lainnya.

Gagasan Alexander Hamilton mendukung akan adanya proteksionisme, dan menentang konsep perdagangan bebas. Hal ini tentu tidak sejalan dengan konsep kapitalisme yang selama ini dianut oleh Amerika Serikat dan bahkan perekonomian dunia. Tentunya menjadi paradoks bahkan ancaman bagi perusahaan-perusahaan raksasa yang ada di Amerika Serikat yang selama ini tunduk pada kebijakan ekonomi global dan mendukung praktik kapitalisme.

Bagaimana ekonomi dan kebijakan politik saling mengintervensi? Ilmu ekonomi lahir karena adanya kondisi scarcity, yaitu suatu kondisi di mana kebutuhan masyarakat tidak terbatas namun sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu terbatas.

Adam Smith dengan bukunya “The Wealth of Nations” di mana salah satu prinsip yang ditawarkan adalah kebebasan pasar, sebagai tokoh penggagas dari praktik kapitalisme. Smith mengatakan bahwa dengan mengimplementasikan pasar bebas justru akan mendorong teralokasinya sumber daya dengan efektif dan efisien. Permintaan dan penawaran pasar adalah invisible hand. Smith menolak campur tangan pemerintah, karena akan menganggu mekanisme pasar itu sendiri.

Berbanding terbalik dengan pandangan Jhon Maynard Keynes, dengan bukunya “The General Theoryn of Employment, Interest and Money”. Konsep gagasan Keynes adalah perlu adanya kebijakan intervensi pemerintah. Keynes mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengeluarkan suatu negara dari kondisi resesi adalah dengan melibatkan pemerintah melalui kebijakan belanja dan investasi.

Baca juga:

Mengutip pernyataan dari Mike Moffat dalam artikelnya “The Government’s Role In Economy”. Pada 2017, Moffat mengatakan bahwa peran pemerintah dalam ekonomi sejatinya dibagi menjadi 3 hal, yakni untuk mengatasi adanya kegagalan pasar, mengendalikan eksternalitas, dan mendorong kompetisi atau persaingan pasar yang sehat.

Jika melihat dari pandangan para tokoh di atas, gagasan Joe Biden cenderung mengadopsi daripada pandangan Alexander Hamilton dan Jhon Maynard Keynes. Saya mencoba membawa pembaca melihat dari 2 kajian perspektif yang berbeda.

Yang pertama adalah kajian Neoklasik. Teori ini menekankan bahwa perlu adanya keuntungan statis dari perdagangan bebas dan tindakan proteksionis akan menurunkan tingkat kesejahteraan perekonomian yang bersangkutan. Perdagangan bebas yang didasarkan pada keunggulan komparatif akan menuntun masing-masing negara ke arah spesialis produk ekspor, yang padat dengan faktor-faktor produksi.

Implikasi kebijakan analisis pada kajian neoklasik ini adalah partisipasi yang lebih besar dalam perdagangan internasional dan interaksi yang lebih erat dalam perekonomian nasional.

Yang kedua adalah kajian radikal, yaitu bagaimana perekonomian internasional antara pusat dan pinggiran menghalangi kemajuan negara berkembang. Dalam pembinaan kemampuan teknologi dalam negeri yang pada gilirannya menuntut adanya kemampuan lokal untuk memproduksi barang modal dipandang sebagai langkah penting ke arah industrialisasi yang indenpenden.

Jika dikorelasikan pada dua kajian di atas, kebijakan Biden terfokus pada kajian neoklasik yang pro terhadap proteksionis, sebagaimana pandangan Alaxander Hamilton. Tentunya untuk menganalisis kebijakan Biden tidak cukup dari dua sudut pandang yang sudah dipaparkan. Yang terpenting adalah apakah ekonomi global masih mengintervensi kebijakan Joe Biden atau sebaliknya.

Febrianto Arifin
Latest posts by Febrianto Arifin (see all)