Hijrah Artis dan Kekonyolan dalam Beragama

Hijrah Artis dan Kekonyolan dalam Beragama
©Twitter

Nalar Warga – Fenomena hijrah artis bisa terpola pada bagaimana mereka memaknai agama. Jika kaku, konservatif, puritan, dan sejenisnya, maka sudah bisa ditebak mereka ke mana arahnya.

Arti berhijrah mudah saja menebaknya. Lihat laman media sosialnya, berfoto-foto sama siapa, dan ikut kajian siapa. Rata-rata, jika sudah bersama para “ustaz” konservatif Salafi-Wahabi dan pro-HTI, ya sudah, begitu itu bentukannya.

Hijrah adalah haknya. Namun menyebarkan kekonyolan dan kebodohan dalam beragama adalah hak kita untuk menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah berbahaya.

Kita ambil contoh video Atalarik Syach di bawah. Sudah jelas dalam keadaan pandemi, di mana pemerintah sudah menginstruksikan physical distancing. Ulama-ulama sudah menjelaskan duduk perkara diperbolehkannya salat zuhur di rumah sebagai ganti salat jumat. Malah maksa.

Parahnya lagi, dia di zona merah corona. Dan menurut ustaz di sebelahnya, kafir kalau tidak jumatan 3 kali. Terlihat bagaimana pemaknaan pada agama dalam perjalanan hijrahnya. Kaku, konservatif, tekstual, dan karepe dewe.

Ditambah narasi, “Masih ada masjid orang islam yang ngadain jumatan. Akidahnya masih kuat. Masjidnya dibangun dengan uang bener kali ya.”

Itu narasi macam apa? Hendak mengatakan masjid yang tidak mengadakan jumatan karena pandemi itu dibangun dari uang haram? Akidahnya ndak kuat?

Lantas, karena dia maksa salat jumat di zona merah, menganggap akidahnya kuat? Imannya tebal? Dan sebaliknya? Ini, kan, pemikiran yang jancuk’i banget. Maksa jumatan di tengah pandemi yang sangat bahaya begini itu bukan kuat akidah, tapi kekonyolan beragama.

Banyak hijrah artis model begini. Belajar imriti saja kagak, ngerasa islamnya kayak yang paling benar saja. Umbar-umbar kafir, merasa paling benar beragamanya ini lho yang bahaya.

Akhiran, buat si Atalarik dkk yang punya pemaknaan beragama begitu, pemahaman agama tidak cukup hanya berpijak pada teks Quraniyah Tanziliyyah. Melainkan, perlu juga pendekatan teks Kauniyah Ilmiyah. Oke? Syukran, akhi.

*Afif Fuad Saidi

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)