Hikmah Covid-19

Hikmah Covid-19
©verywellhealth

Nalar Warga – Kebanyakan orang Indonesia, kehidupan utopia hanya mereka dengar menjelang pemilu dan di tempat khotbah. Dalam kesehariannya, mereka harus menghadapi realitas.

Jangankan perang dengan wabah, perang dengan kehidupan untuk bertahan hidup saja sudah sangat lelah. Mereka tidak punya tabungan sebagai penyangga bila ada krisis. Hidup mereka rentan sekali. Bahkan sedikit saja ada gejolak, itu adalah lonceng menuju prahara yang tak siap mereka hadapi.

Teringat kemarin berbicara via facetime dengan teman bekerja di Bank London. Banyak negara yang tidak siap menghadapi wabah korona. Pakistan dan India, termasuk Afrika dan Amerika Latin, mereka lebih memilih pasrah.

Mungkin banyak korban berjatuhan, namun data berbeda dengan kenyataan. Bukan karena mereka sengaja menutupi angka itu, tetapi untuk apa? Kalau faktanya, mereka memang tidak siap menghadapi wabah ini.

Defisit anggaran mereka menganga. Utang bertumpuk dan masalah sosial akibat konflik politik jauh lebih besar daripada wabah korona itu sendiri. Itu tidak pernah bisa mereka selesaikan. Bahkan dunia tidak peduli. Berbuih lidah mereka berharap ada moratorium utang, tetapi apakah negara kaya pernah mendengar keluhan mereka?

Jadi apa yang harus mereka lakukan? Mungkin seperti kata hukum alam, alam yang akan menyelesaikannya. Waktu yang akan memperbaikinya.

Kalau negara maju seperti Amerika Serikat dan Cina belum bisa menemukan vaksin dengan cepat, maka biarkan proses alam terjadi untuk menciptakan vaksin alami. Mungkin herd immunity adalah pilihan sebagai pecundang.

Namun menerima konsekuensi alam tanpa keluh kesah adalah keberanian itu sendiri. Karena banyak orang siap hidup tapi tidak siap mati. Mungkin karena proses herd immunity, semua orang atau sekitar 60 persen tertular virus dan 10 persen meninggal. Tetapi kalau karena itu bisa melahirkan komunitas kebal, itulah yang terbaik menurut hukum alam. Tetap harus bersyukur.

Baca juga:

Setidaknya rakyat sudah paham bahwa mereka harus menjaga diri dari penularan. Menggunakan masker dan menghindari keramaian. Menjauhkan orang tua dari orang muda dan anak-anak, agar tidak menular. Karena dampak virus korona bagi orang tua sangat fatal. Tidak seperti penularan bagi orang muda dan anak-anak yang katanya tingkat fatalnya hanya 0,2 persen.

Namun lockdown bukanlah pilihan bijak. Ketika negara tidak bisa menghadapi masalah, alam punya cara untuk menyelesaikannya. Walau itu berisiko, namun bukankah hidup memang berisiko?

Sempat termenung. Teringat dengan kata-kata teman di Cina waktu wabah terjadi di Wuhan:

“Mungkin sebagian kelompok menengah selama ini sibuk menikmati keramaian di pusat wisata dunia, maka di restoran mahal, dan menghabiskan waktu di kafe berkelas. Di sisi lain, ada kerumunan orang banyak yang penghasilannya sebulan sama dengan bill mereka sekali makan di restoran atau kafe berkelas. Di saat ada wabah virus ini, semua peduli akan risiko kematian. Sementara kaum bawah setiap hari mengalami resiko dalam banyak hal.”

Apakah bijak bila memaksa mereka punya sikap sama dengan kita sementara masalah utama mereka selama ini kita acuh?

Virus adalah makhluk kecil. Tidak bisa dilihat dengan mata. Hanya dipahami dari media massa dan dipercaya apa kata orang.

Namun dari sebuah nama korona, tuhan sedang berdialog dengan kita tentang kepedulian dan rasa syukur. Dan itu narasinya mengingatkan kepada risiko kematian. Tuhan tidak berbicara surga dan negara sebagai solusi. Tetapi kebersamaan atas dasar cintalah sebagai solusi.

Kalau Anda tidak ingin orang miskin tidak menjadi sumber penularan wabah, maka mulai kini dan besok, yakinkan kepada diri sendiri untuk peduli kepada mereka. Suka tidak suka, hidup Anda bergantung kepada orang lain. Tidak bisa hidup sendiri di bumi ini. Membantu orang lain sesungguhnya membantu diri Anda sendiri.

Akankah keberadaan Covid-19 ini bisa melahirkan transformasi ekonomi, sosial, dan politik? Termasuk kehidupan beragama dari kepentingan atas nama kelompok, golongan, atau bangsa? Menjadi kepentingan cinta bagi semua?

*Salma Brecht

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)