Hillary Brigitta Lasut dan Politik Millenarian

Hillary Brigitta Lasut dan Politik Millenarian
Hillary Brigitta Lasut, Anggota DPR RI Dapil Sulawesi Utara

Hillary Brigitta Lasut, sebagai politikus perempuan milenial, adalah satu dari sekian kader Partai NasDem yang membawa harapan.

Apa yang bisa kita harapkan dari seorang politikus perempuan milenial? Dengan mengeja milenial sebagai penanda kemudaan usia, jawaban yang kita peroleh adalah harapan.

Lalu apa yang bisa diberikan harapan kepada bangsa Indonesia dan, khususnya, rakyat Sulawesi Utara? Jika sejarah bangsa kita baca sebagai penuntun bagi langkah ke depan, maka kita bisa melihat bagaimana harapan telah mengubah bangsa ini menjadi lebih baik.

Adalah harapan yang memerdekakan kita. Adalah harapan pula yang telah membantu kita melewati begitu banyak krisis, menyingkirkan halangan dan melempangkan jalan, dalam menjadi satu bangsa. Dan jika saat ini kita masih membutuhkan harapan, itu karena bangsa kita masih harus terus melangkah ke masa depan yang lebih baik.

Hillary Brigitta Lasut, sebagai politikus perempuan milenial, adalah satu dari sekian kader Partai NasDem yang membawa harapan itu. Dalam posisinya saat ini sebagai anggota DPR RI terpilih dari Sulawesi Utara, Hillary mestinya menjadi harapan yang paling menjanjikan. Bukan semata karena usianya yang muda, tetapi juga karena karier politiknya yang jelas mengejutkan.

Kesan pertama kemunculannya di dunia politik Sulawesi Utara hanya semata sebagai anak politikus kawakan, Elly Lasut. Selebihnya adalah baliho yang menampilkan wajah simpatik seorang perempuan cantik.

Tetapi, ketika masa kampanye pemilihan legislatif mulai berlangsung, perlahan mata kita terbuka untuk menyaksikan sebuah langkah, yang dalam penafsiran saya, jauh lebih bermakna.

Visi Millenarian

Apa yang bermakna itu adalah tafsiran saya terhadap laku politik Hillary selama masa kampanye yang baru lalu. Saya merangkumnya dalam dua catatan singkat.

Pertama, kehendaknya yang begitu kuat untuk membuka ruang publik bagi lahirnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kampanye yang dia laksanakan.

Lebih dari itu, di dalam ruang yang secara terbuka mempertemukan antara dirinya dengan publik itu, Hillary tampak memahami makna dialog. Ini memberikan harapan yang begitu besar akan kehadiran kembali politisi ruang publik yang selama ini telah menghilang dari sejarah politik kita.

Kita tahu bersama, ketika publik disingkirkan dari ruang-ruang pembahasan politik, maka pemberangusan opini publik akan menjadi kewajaran. Di situ, seperti yang telah ditunjukkan oleh rentang 32 tahun Orde Baru, demokrasi ikut terbunuh.

Dan sementara orde reformasi tak kunjung mampu menghidupkan kembali ruang-ruang itu, dari Sulawesi Utara, datang seorang Hillary yang tampak begitu bersemangat untuk membuka kembali ruang publik bagi kemaslahatan bangsa.

Kedua, entah bagaimana, saya jadi ingin membaca harapan pada kemunculan Hillary di lapangan politik Sulawesi Utara dengan semacam visi millenarian. Sebuah godaan yang boleh jadi berlebihan untuk membayangkan gadis muda ini sebagai semacam ratu adil posmodernitas bagi, setidaknya, kebangkitan politik restorasi di Bumi Nyiur Melambai yang kita cintai ini.

Saya tidak bisa menjelaskan harapan terakhir itu dengan terlalu mendetail karena saya belum terlalu mengenalnya secara pribadi. Saya hanya tahu keberadaannya dan sedikit mengikuti langkah-langkahnya.

Lebih dari itu, kami adalah sesama kader Partai NasDem, sebuah partai yang mempersatukan kami dalam gerakan perubahan bagi Indonesia yang jaya.

Selamat berjuang, Kakak Hillary.

    Amato Assagaf