Hobotopo: Habis Gelap Kapan Terang

Kisah manis dan bahagia itu tinggal saja goresan-goresan ingatan tanpa makna di atas baris-baris waktu. Pepatah lama layaknya didengungkan kembali jika mengingat namamu, Hobotopo. Bagai telur di ujung tanduk atau mungkin seperti air di daun talas, kini nasibmu diratap.

Hobotopo, kita belum kalah. Bangkitlah dalam harapan bersama menyibak selimut nasib jadi nisbi.

Hari-hari dalam musim panas banalnya adalah waktu bagi warga kampung untuk bersantai. Nongkrong di bale-bale depan rumah sambil menikmati asyiknya anak-anak bermain ria di halaman. Ini adalah hiburan sederhana warga kampung yang tak kenal apa itu sinetron atau drama F-TV hingga pada abad ke-22 ini.

Apa mau dikata, pelabelan sebagai kampung udik (orang udik) pun sudah akrab dan menjadi hiburan yang biasa diberikan sebagai kesan oleh orang-orang dari luar yang berkunjung kesana. Perusahaan Listrik Negara sampai hari ini enggan menyapa mereka.

Pernah ada swadaya warga dengan mengadakan listrik tenaga diesel, tetapi usianya pun tak panjang. Ia dahulu orang hanya berpikir listrik itu hanya sebatas memiliki fungsi tunggal untuk menerangi ruang gelap. Tetapi siapa menyangkal bahwa listrik sekarang adalah salah satu dan bahkan mungkin sudah menjadi poin pertama yang menentukan peradaban manusia.

Pemerintah boleh mempromosikan perkembangan teknologi 2G, 3G, 4G, 5G, dan sampai 100G, tetapi bagi warga kampung ini, mau 5G atau 100G hanyalah nyanyian gelap..gelap…gelap…gelap…gelap…100 gelap yang terngiang-ngiang.

Hari ini saya nimbrung bersama keluarga opa Wisu (selanjutnya WIsu). Mereka bersantai sejenak, istirahat dari rutinitas sebagai petani ladang di musim panas antara bulan Juli sampai September.

Selain sebagai bagian dari proses pemulihan fisik, saat-saat ini adalah kesempatan yang baik untuk mereka bersama-sama di rumah. Anak-anak sekolah yang sedang menjalani liburan pun menambah ramai suasana kampung.

Sambil seruput kopi ditemani pisang rebus, saya, Wisu, dan keluarganya menikmati panorama kampung sore itu di bale-bale samping rumahnya dan berbagi cerita satu-sama lain. Dari perjumpaan singkat itu, saya terkesan dengan kisah pengalaman yang dibagikan Wisu dan di sini saya mencoba membagikannya.

Wisu, nama seorang kakek tua penghuni kampung kecil ini sejak 90-an tahun yang lalu. Awal kedatangannya ia bekerja sebagai gembala ternak dari salah seorang sahabatnya yang kemudian membagikan lahan miliknya untuk ia garap.

Dari kisah yang diutarakan Wisu, ketika ia menginjakkan kaki di situ ternyata sudah ada orang-orang tua yang mendiami pondok-pondok kecil yang terpisah-pisah (belum membentuk kampung seperti sekarang). Mereka tinggal sekeluarga, menetap sambil menggarap lahan ladang, sawah, dan beternak.

Ya…pada masa itu boleh dimasukkan dalam sejarah peradaban sebagai golongan masyarakat primitif. Orang-orang di kampung itu dahulu tak pernah fokus pada satu mata pencaharian sebagai penopang hidup mereka. Oleh karena itu mereka sanggup menjalankan lebih dari dua atau tiga pekerjaan dalam satu hari. Mereka juga bisa dikatakan masyarakat nomaden.

Menurut Wisu dengang kisah lisan yang diwariskan oleh penghulu-penghulunya; sebelum menetap seperti sekarang mereka sempat berpindah dan membentuk kampung-kampung kecil sabanyak tiga kali. Hal itu ditandai dengan adanya makam-makam tua seperti gundulan tanah yang hanya diletakkan dengan batu-batu sebagai tanda di beberapa tempat yang ia sebutkan.

Dengan mata pencaharian yang variatif mereka pandai menghitung pembagian kerja mereka berdasarkan posisi matahari atau dengan memandang posisi bayangan diri mereka di bawah matahari. Kapan mereka ke ladang, ke sawah, memperhatikan ternak, dan kapan mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam rumah? Itu semua otomastisasi bekerja dan dibawa perintah naluri mereka.

Kehidupan mereka jika dihitung dari skala konsumsi dan kepemilikkan harta bisa dikatakan sangat berkecukupan. Wisu sendiri memiliki 4 lahan kebung Sawah yang digarap, 5 lahan kebun ladang, belasan ternak kerbau, sapi, kuda, kambing, dan beberapa ternak babi, sampai puluhan bahkan ratusan ekor ayam.

Namun, tak seorang saat itu di antara mereka yang sempat berpikir untuk kaya. Rumah yang mewah, mobil mewah, dll., yang menjadi takaran kekayaan modern seperti saat ini pun jauh dari ideal mereka. Hasil kerja mereka hanya diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan harian dan ternak bagi kelancaran urusan adat-istiadat. Selebihnya ternak-ternak itu dipelihara dan sampai pada batas usia tertentu mereka tua dan mati.

Halaman selanjutnya >>>
Fancy Ballo