Hubungan Antara Agama dan Filsafat Menurut Ibnu Rusyd

Hubungan Antara Agama dan Filsafat Menurut Ibnu Rusyd
©Radar

Ibnu Rusyd bukanlah orang yang pertama kali mendalami pendamaian antara filsafat dan agama. Singkatnya, masalah ini selalu menjadi objek apakah agama dan filsafat itu merupakan hal yang berkesinambungan; atau apakah filsafat itu hanya menjadi alat untuk seseorang agar berpikir kritis terhadap agama saja.

Apakah kita boleh belajar filsafat; ataukah filsafat membuat kita makin jauh kepada sang pencipta? Mengapa sih belajar filsafat? Apa kamu ragu dengan agamamu? Dan ada juga yang meremehkan masa depan orang yang mendalami pendidikan filsafat; mau jadi apa kamu di masa depan? Emangnya ada manfaat belajar filsafat?

Asumsi seperti itu menurut saya wajar-wajar saja karena mereka hanya melihat kulit luar dari filsafat. Mereka hanya menjadi korban stigma yang telah terbangun di masyarakat.

Di sini saya akan mencoba mengulas sisi hubungan antara agama dan filsafat dari kisah Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd atau yang memiliki nama lengkap Abdul Walid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd lahir di Cordoba, Spanyol pada 520 H. Ia adalah seorang filosof Islam terbesar yang di belahan barat dunia di Eropa pada zaman pertengahan dengan sebutan “Averrois”.

Sebelum masuk ke pandangan Ibnu Rusyd terhadap filsafat dan agama, Ibnu Ruysd juga menjelaskan bagaiamana sih konsep filsafat dan agama itu sendiri. Ia menyatakan bahwa filsafat itu tidak bertentangan dengan iman.

Ibnu Rusyd juga menjelaskan di mana di dalam Alquran berisi tentang pencipta dan segala yang berkaitan dengan pencipta. Hal ini berarti bahwa Alquran membuat manusia untuk berpikir lebih mendalam atau berpikir filsafat mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan sang pencipta.

Sekarang akan mengulik pandangan Ibnu Rusyd tentang hubungan agama dan filsafat. Pertama, Ibnu Rusyd sendiri menegaskan bahwa antara filsafat dan agama sangat berhubungan dan tidak ada dasar yang membuat keduanya bertentangan.

Baca juga:

Pernyataan Ibnu Rusyd sendiri diperkuat dengan dalil Alquran yaitu Qs. Al-hasyr: 2 dan QS. Al-isra: 84. Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia dianjurkan untuk berfilsafat atau berpikir secara mendalam.

Kedua, Ibnu Rusyd dalam menyesuaikan filsafat dan agama didasari pada 4 empat prinsip: kkeharusan berfilsafat menurut syara, pengertian lahir dan pengertian batin serta keharusan ta’wi, aturan-aturan dan kaidah ta’wil, dan pertalian akal dengan wahyu.

Ketiga, Ibnu Rusyd menggunakan dua pendekatan yaitu menggunakan pendekatan rasional dan syar’i. Ia juga berpendapat bahwa filsafat dan agama tidak saling bertentangan. Dengan kata lain, filsafat adalah saudara kembar agama, sehingga antara keduanya saling mencari hakikat dari suatu kebenaran.

Ibnu Ruysd menawarkan satu pandangan baru yang orisinal dan rasional, dalam arti mampu menangkap dimensi rasionalitas, baik dalam agama maupun dalam filsafat. Rasionalitas agama juga dibangun atas dasar maksud dan tujuan yang diberikan sang Pembuat Syariat, dan yang pada akhirnya bermuara pada upaya membawa manusia kepada nilai-nilai kebajikan.

Tahafut At Tahafut (Kerancuan dalam Kerancuan) adalah tanggapan atas buku Al Ghazali Tahafut Al Falasifah (Kerancuan Para Filosof). Itu merupakan karya dari Ibnu Rusyd yang berisi kritik dan pendapat kepada Al-Ghazali yang mengkritik para filsuf yang berujung pada mengafirkan para filsuf.

Dengan berpikir rasional juga itu menjadi salah satu kunci diterimanya pengetahuan dan filsafat ke negara barat. Karena di negara barat lebih cenderung ke rasional; berbeda dengan negara timur yang lebih ke sisi religi. Bahkan pemikiran dari Karl Marx lebih mudah masuk ke negara barat daripada ke negara-negara timur.

Di sini kita dapat belajar melalui pemikiran rasional Ibnu Rusyd, mulai dari mengimplementasikanya terhadap hubungan antara agama dan filsafat dan permasalahan bagaimana mengetahui Tuhan, mengetahui arti kebahagiaan, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat, serta mengetahui jalan untuk mencapai kebahagiaan dan menjauhkan dari kesengsaraan dan berpikir secara rasional juga dapat menghindarkan kita kepada hal-hal yang jauh dari kata kedamaian.

Contoh kemudian ayat 191 Surat Albaqarah menyebutkan, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu.”

Baca juga:

Ketika kita hanya tekstual/menelan secara mentah-mentah, itu bisa menjadikan konflik panjang kepada orang kafir. Di situlah akal berfungsi untuk memfilter/menafsirkan ayat yang harus ditafsirkan.

Tapi perlu digaris-bawahi, Ibnu Rusyd mengingatkan segala sesuatu yang tidak disanggupi akal, maka Tuhan memberikannya kepada manusia melalui wahyu. Dapat disimpulkan bahwa ada hal yang dapat diselesaikan dan bisa dijelaskan dengan mengunakan akal (rasional). Harus diingat ketika akal sudah tidak bisa menjelaskan atau menyelesaikan suatu problem, maka wahyu ada satu tingkat di atas akal.