I am Standing for KH Yahya Staquf

I am Standing for KH Yahya Staquf
Yahya Staquf & Gus Dur (Timeline Photo)

Keberanian Yahya Staquf untuk masuk langsung berhadapan dengan “Israel” sebenarnya bukan sebuah kejadian baru. Jauh-jauh hari sudah dirintis oleh Gus Dur.

Sejak awal, sebelum lahirnya Negara Israel, sudah tampak tanda-tanda yang tidak baik di tanah Anbiya’ ini. Hadlrotussyaikh Hasyim Asy’ari pernah menyeru kepada warga NU untuk melakukan qunut nazilah guna membantu bangsa Palestina. Waktu itu Indonesia belum menjadi negara merdeka.

Sikap tegas Indonesia untuk tidak kompromi dengan Israel juga telah ditunjukkan sejak era Bung Karno hingga detik ini. Bahkan Palestina sangat mengagumi Indonesia sebagai bangsa yang tidak pernah menyerah menghadapi bangsa perampas selama lebih dari empat abad, hingga akhirnya berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keberanian KH Yahya Staquf untuk masuk langsung berhadapan dengan “Israel” sebenarnya bukan sebuah kejadian baru. Jauh-jauh hari sudah dirintis oleh Mbah Wali Gus Dur. Bahkan, karena kedahsyatan pengaruhnya, beliau sampai diangkat sebagai Presiden Agama Samawi. Ini tentu bukan suatu hal yang main-main.

Mbah Wali berani mendobrak tradisi perlawanan secara konfrontatif dan penolakan tegas menjadi diplomasi yang lebih lunak, yakni duduk bersama langsung berbicara ke kandang sang penjajah.

Mengapa demikian? Sebab, telah berpuluh tahun cara melawan Israel dengan gerakan bersenjata telah terbukti kalah. Bahkan beberapa negara Timur Tengah kini telah menyadari dan malah menjalin kerja sama dengan Israel, walau tidak mau mengakuinya.

Indonesia, sebagai negara Muslim yang letaknya berbeda kawasan, tentu saja memiliki caranya sendiri. Cara yang ditempuh Mbah Wali Gus Dur mendapat sambutan hangat dari masyarakat Palestina.

Sehingga jangan heran jika aktivis HAM asal Palestina, ketika terdesak, mereka sowan ke PBNU untuk meminta bantuan diplomasi menghadapi Israel. Mengapa? Karena salah satu Guru Besar NU, yakni Mbah Wali Gus Dur, memiliki akses langsung ke sana.

Lihat juga: Yahya Cholil Staquf: Saya ke Israel atas nama Kegelisahan dan Kesedihan

Jadi, jika hari ini KH Yahya Staquf berhadapan langsung dengan Israel untuk terus menyerukan perdamaian, sesungguhnya adalah meneruskan proses yang telah dirintis oleh Guru Besar Kita.

Adapun perbedaan cara para kiai menyikapi hal ini adalah sesuatu yang biasa saja. Setiap kiai dan tokoh kita memiliki caranya masing-masing; dan perlawanan atas pendudukan Israel tidak akan berhenti sampai Negara Palestina Merdeka terwujud.

Mari kita berdoa semoga KH Yahya Staquf diberikan kekuatan dan istiqomah untuk bisa membantu perjuangan rakyat Palestina. Semua fitnah dan caci maki adalah penyemangat kita. Sebab, dalam kenyataannya, mereka yang teriak anti-Israel, dan saat ada pengerahan massa justru membawa bendera Palestina bukan bendera Indonesia, malah tidak disowani oleh aktivis Palestina.

Juga keluhan dari diplomat Palestina, termasuk Presiden Mahmoud Abbas yang menjelaskan, bahwa perjuangan Palestina Merdeka adalah perjuangan kemanusiaan secara umum, bukan perjuangan agama Islam semata. Justru mereka yang mengatasnamakan solidaritas Palestina dengan mengangkat isu Islam versus Yahudi inilah yang menghambat proses perdamaian di tingkat Internasional.

Aku berdiri untuk KH Yahya Staquf. Jangan mundur. Doa kami senantiasa bersama panjenengan.

___________________

Artikel Terkait:
    Latest posts by Shuniyya Ruhama (see all)