Ibu dalam Sebuah Cangkir

/1/

Ibu…,

Beri aku malam dengan seribu asimu, barangkali esok aku bangun dengan ataupun tanpa air mata yang harus merajuk padamu.

/2/

Bila suatu saat air matamu terlalu sering jatuh. Aku harap bukan nyanyian selamat jalan.

/3/

Ketika hujan, sore, malam, dan kita

Aku hanyalah secuil rasa yang beraroma. Menghangatkan ceritamu.

Aku rindu pada diriku, secangkir kopi di setiap bait-bait puisimu ibu…

Detusoko, Juli 2019
Ibu, aku selalu mengajak ayah untuk menunaikan ibadah malam.

Di Timur Aku Bertudungkan Kepala

Di timur itu, sedang ramai orang berderai membicarakan puisi. Barangkali puisi itu meng-hujan begitu deras dengan tetesan darahnya liar bersajak sebuah narasi.

Di timur itu, sedang sedih puisi dimakamkan. Pelayatnya, imajinasi liar juga narasi-narasi dari orasi seputar tubuh yang kian berbauh kecoak.

Di timur itu, cintaku berderai juga puisiku melacur haus pada imajinasi. Nafsunya bernyanyi meminta puisi menetap dan di timur itu, cinta puisiku mengantarkan wanitanya kepada bulan madu.

Di timur itu, aku bertudungkan kepala kepada puisi saat air mata jatuh tak berakhir persis saat wanitanya berhenti membacakan puisinya.

Niceplace-Agust, 2019
Bagaimana kabar saudaraku…?

Chan Setu
Latest posts by Chan Setu (see all)