Ibu Siti

Ibu Siti
©WordPress

Ibu Siti tinggal bersama dua anaknya. Seorang masih sekolah dasar. Seorang lagi sudah sekolah menengah pertama.

Gelap menyelimuti malam. Sunyi menyertai waktu. Anak manusia masih meringkuk di balik selimut. Setiap orang melayang bersama mimpinya. Dan waktu terus merangkak, tertatih, mengejar fajar. Sementara nasib anak manusia dalam genggamannya masing-masing.

Lantunan ayat suci terdengar dari menara masjid. Suaranya serak. Suara marbot tua yang ingin menghabiskan sisa umurnya hanya untuk memuji Sang Pencipta. Ayam jantan bersahutan, membangunkan malam yang pulas. Pertanda waktu subuh akan tiba. Beberapa orang ibu sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke tempat kerja. Tempat mereka menjadi buruh tani.

Ibu siti telah selesai menyiapkan bekal dan perlengkapan kerja. Sepiring nasi dibungkusnya dengan plastik. Caping, kaus tangan, dan sabit juga telah disiapkan. Kemudian bergegas mengambil air wudu. Tetapi beduk subuh belum bertabuh, azan pun belum berkumandang. Tapi kewajiban harus ditunaikan.

Ibu Siti mengenang pada suatu waktu, Ia bersama ibu-ibu lain yang bernasib sama sepertinya pernah bertanya pada Guru Ngaji[1] di kampung itu.

“Apa boleh kami salat subuh lebih awal, Guru Ngaji?” tanya Ibu Siti penuh hormat.

“Kenapa demikian?” sambut Guru Ngaji, nadanya tenang.

“Kalau tidak kami lakukan seperti itu, kami gak punya kesempatan lagi. Karena harus segera berangkat kerja,” sambung ibu Siti.

“Boleh,” sahut Sang Guru. “Sebabnya kalian dalam keadaan darurat. Asalkan waktunya sudah masuk. Lagi pula, Allah yang Maha Kasih lebih mengetahui keadaan hamba-hambanya. Dan juga ajaran Nabi kita tidak mempersulit umatnya,” sambung Guru Ngaji.

Ibu Siti dan teman-temannya merasa tenang. Keyakinannya bertambah sebagai hamba Tuhan dalam melakoni ajaran agama. Sebagian beban hidup seakan sirna. Lagi pula, bagi Ibu Siti dan orang-orang sepertinya melakoni hidup teramat sederhana; jalankan perintah agama sesuai kemampuan, tidak banyak bertanya, tidak banyak mencari alasan, serta ucapan Guru Ngaji adalah kebenaran. Dan itu akan mereka patuhi dan jalani.

Bagaimana tidak, Ibu Siti dan kebanyakan Ibu-Ibu di kampung itu benar-benar tidak bisa  membaca, apalagi menulis. Apa yang hendak ditulis sementara tiada yang pernah dibaca. Huruf dan ejaan latin tiada mereka tahu, sebagaimana huruf Arab dan ejaannya yang tidak mereka mengerti. Bacaan salat, surah al-fatihah, dan juga beberapa surah pendek mereka hafal dengan sistem belajar dari mulut ke mulut, secara berulang. Berkali-kali. Juga dari bacaan marbot yang terdengar dari menara masjid.

Seseorang tidak pernah menghafal lebih dari sepuluh surah. Walau pernah ada seorang Ibu mampu menghafal sepuluh surah pendek, itu pun hanya oleh Ibu Mariama seorang. Mereka meyakini ajaran agama tetap harus dijalani, sebab itu perintah Tuhan untuk hamba-Nya. Urusan kesejahteraan, itu masing-masing.

Usai salat, Ibu Siti dan dua Ibu lainnya bertemu di ujung gang. Kemudian naik angkutan menuju tempat kerja. Selang tiga kampung dengan kampung mereka. Biasanya, setelah mereka melewati kampung kedua, beduk baru bertabuh dan azan dikumandangkan. Satu menara dengan menara yang lain bersambut, saling bersahutan. Orang-orang tua berjalan menuju rumah Tuhan, laki-laki, perempuan. Kebanyakan uisanya telah setengah abad, tak ada yang tahu berapa sisa umurnya—waktu tetap menjadi misteri, hari esok selalu dirahasiakannya.

Orang muda jarang terlihat. Masih tenggelam bersama subuh. Memeluk kenangan. Melupakan duka. Meratapi patah hati. Mungkinkah umur berkaitan dengan tingkat ketaatan dalam menjalankan ajaran agama?

Suatu ketika Guru Ngaji bilang dalam isi khotbahnya di atas mimbar, “Ketahuilah, kematian tidak memandang umur. Orang muda bisa lebih dulu menyambut datangnya Izrail daripada yang tua. Marilah anak-anakku sekalian, selagi muda, selagi ada sisa waktu, lakukan ajaran agama dalam hidup anakku sekalian. Biarlah ajarannya mengalir bersama darah di nadi kalian, saling bersambut dengan tarikan dan hembusan napas.”

Pagi buta. Ibu Siti dan Ibu lainnya sampai di kampung tujuan, dibayarnya angkot tiga ribu rupiah. Sebelum ke sawah, mampir membeli satu atau dua potong ikan untuk lauk. Paling sedikit lima ribu rupiah upah akan terpakai, tapi tidak boleh lebih dari sepuluh ribu rupiah. Diberikannya dua lembar uang senilai lima ribu rupiah kepada penjual ikan. Tiga belas ribu gaji terpakai. Belum dikurangi buat jajan anak-anak.

Ibu Siti tinggal bersama dua anaknya. Seorang masih sekolah dasar. Seorang lagi sudah sekolah menengah pertama. Untuk dua orang anaknya itu Ia berikan sepuluh ribu rupiah. Sebenarnya masih ada seorang lagi yang sudah SMA, anak pertama. Merantau ke kota untuk melanjutkan studi.

Untuk anak gadisnya itu mendapatkan jatah bulanan, bukan untuk jajan. Tapi untuk biaya hidup dan keperluan sekolah. Itu adalah dari hasil tabungan Ibu Siti, setelah dikurangi sewa angkot, lauk, dan jajan kedua anaknya. Sisa gaji masih empat puluh tujuh ribu. Dan itu akan terus berkurang.

Sebuah jembatan seukuran mobil carry menghubungkan jalan raya dengan hamparan padi yang telah menguning, milik masyarakat setempat. Apabila musim panen tiba, itu artinya akan banyak pekerjaan untuk ibu-ibu seperti Ibu Siti mengais rezeki, meyambung nyawa. Menjadi buruh tani, memotong padi. Walau hidup ada di tangan-Nya, manusia harus tetap kerja untuk membiayai kehidupannya.

Matahari merangkak di balik bukit. Pagi tiba. Butir-butir embun di ujung daun padi, di batang dan daun rumput jatuh ke tanah. Orang-orang berjalan memasuki persawahan, saling mengikuti, seperti sekelompok semut beriringan mencari makan.

Ketika orang-orang mulai bekerja, matahari telah sampai di atas pucuk bukit. Seperti sekuntum bunga dan tangkainya. Bumi bertaburkan cahaya, terang dan hangat. Padi, rerumputan, dan daun-daun nangka di pinggir kali tak lagi berembun.

Di kampung Sori, kampung Ibu Siti. Rahmat, anaknya sedang bersiap-siap pergi ke sekolah. Kancing terakhir baju putih yang dikenakan telah masuk ke lubangnya. Kemudian dimasukkannya ujung bawah baju ke balik celana merah yang Ia pakai.

Rahmat duduk di kelas tiga sekolah dasar. Tak pernah juara, seperti anak-anak di kampung itu yang orang tuanya guru atau punya kerabat seorang guru. Tetapi sudah cukup bisa membaca dan berhitung, penjumlahan, perkalian, dan pembagian. Rahmat paham untuk ukuran seorang anak kelas tiga sekolah dasar. Ibu Siti tidak pernah berharap lebih, selain dari keinginannya agar anaknya bisa membaca dan mengaji.

“Nak, belajar yang rajin, ya. Jangan seperti ibu, Rahmat harus bisa mengaji dan membaca, ya,” nasihatnya pada suatu sore. Sangat jarang anak bungsunya itu menjawab, kecuali bertingkah manja. Asalkan uang jajannya ada, anak itu pasti pergi sekolah.

Pernah suatu waktu Ibu Siti benar-benar tidak punya uang, walau sekadar seribu rupiah. Hampir saja Rahmat tidak berangkat, padahal baju dan celana sudah terpakai, rambut sudah rapi. Tapi Ibu Siti tidak pernah kehabisan cara.

“Kalau gak sekolah, mau main sama siapa, Mat? Itu lihat semua teman-temanmu pergi semua,” terang Ibu Siti. Berat langkah Rahmat menuju sekolah. Tapi pikiran kecilnya bilang, “Daripada tidak ada teman main, mending sekolah saja.”

Sobekan cahaya menembus di celah dahan dan daun-daun nangka. Membentuk lingkaran-lingkaran cahaya  di atas tanah, batu, dan punggung caping yang tergeletak di atas tanah. Tiga orang perempuan buruh harian berteduh di bawah pohon. Satu teko air putih dan sekantong plastik kue bulat berada di tengah mereka—sepuluh butir kue bulat yang terbuat dari adonan beras ketan hitam, bagian luarnya ditaburi butiran wijen, dengan satu gigitan akan terlihat bagian dalamnya berisi kacang ijo yang empuk. Si pemilik padi yang membawakannya.

Bayangan sebatang kayu yang tertancap di pinggir sawah menjorok ke timur. Setengah hari berlalu, pekerjaan tinggal seperempat dari sebelumnya. Waktunya istrahat, mengambil napas, mengumpulkan tenaga. Angin berembus. Udara mengguyur apa saja. Dedaunan melambai. Ranting dan dahan bergoyang. Rerumputan menari.

Tiga orang perempuan di bawah pohon nangka melepaskan pakaian kerjanya, menyisakan kaus di badan. Membiarkan udara mengguyur tubuhnya yang letih. Nyaman, santai, sembari menunggu tenaga pulih secara perlahan. Si empunya hanya melepas caping di kepalanya. Mereka membicarakan apa saja. Gosip tentang laki-laki beristri yang selingkuh dengan janda muda di kampung sebelah. Diselinginya dengan cercaan, “Dasar laki-laki, mau enaknya saja.”

Kadang tentang sisa angsuran kredit panci, piring, rantang, dan sendok yang belum lunas. Adakalanya tentang bantuan beras, sambil menyebut nama dengan siapa mereka membagi dua atau membagi tiga sekarung beras dua puluh kilogram itu.

“Gak perlu berharap banyak, syukur saja kita dapat. Tahu apa kita tentang bantuan itu?” seorang Ibu menyahut dengan pikiran polosnya.

“Ya, sekadar menambal hidup beberapa hari,” balas Ibu lainnya. “Lagi pula kita punya kaki dan tangan sendiri untuk mencari nafkah menyambung nyawa,” lanjutnya sembari melihat wajah-wajah lainnya. Seperti meminta dukungan.

Ibu Siti setia menyimak, kadang memikirkan pembicaraan orang pintar yang ada di sekitar rumahnya tentang bantuan yang salah sasaran atau yang dipotong oleh beberapa pejabat Desa. Itu pun dia tidak paham semuanya.

“Huh, pejabat,” ucap si empunya padi. Air mukanya menunjukkan kekesalan. “Mereka yang kerjanya di tempat yang enak, tidak kena matahari, kursinya empuk, gajinya lebih dari cukup, keluarga terjamin. Masih saja korupsi,” diulangnya apa yang ditontonnya di televisi sebelum datang membawa air dan kue untuk pekerja.

“Apa korupsi itu, Bu?” tanya Ibu Siti, lugu.

“Maling,” jawab si empunya padi. Singkat. Yang lain menggangguk pelan. “Maling yang dikawal setelah setelah berfoya-foya dengan hasil curiannya yang melimpah. Korupsi itu perbuatannya, koruptor pelakunya. Tetap saja, maling tetap maling,” terangnya panjang dan lugas.

Rupanya si empunya padi tamatan sekolah menengah pertama di zamannya. “Gak di kota gak di kampung, maling-maling bergelar sarjana itu selalu ada,” sambungnya, nadanya menekan penuh emosi.

Selembar daun lepas dari rangting pohon nangka. Terbang, meliuk-liuk dan perlahan jatuh di tanah, lalu angin menghempasnya hingga sampai di bawah apit batu. Tiga orang perempuan memakai pakaian kerjanya. Satu per satu mengambil dan memakai caping. Saatnya menuntaskan sisa pekerjaan, sembari sibuk dengan isi pikiran masing-masing.

Satu per satu wajah anaknya muncul dilayar pikiran Ibu Siti, seperti ada energi lain yang menambah tenaganya. Mungkin harapan tentang masa depan anak-anaknya menjadi lebih baik. Tetapi hatinya cemas kalau anaknya telah jadi orang yang pintar dan pandai akan jadi maling seperti yang dituturkan si empunya padi tadi.

Dalam hatinya yang tersembunyi, Ibu Siti mengiba, “Wahai Tuhan yang mengendalikan hati manusia, tetapkan hati anak-anak kami dalam rida dan kasih-Mu. Semoga mereka tumbuh menjadi manusia yang baik. Tetapkan hati pemimpin kami di jalan-Mu. Amin.”

  1. Pemuka agama, orang yang paham ilmu agama Islam tempat masyarakat bertanya terkait masalah agama. Sapaan kehormatan seperti ini dipakai di beberapa desa yang ada di Kabupaten Bima.
    Latest posts by Agus Salim (see all)