Ideologi Membunuh Nurani

Ideologi Membunuh Nurani
Foto: Dailyhunt

Kemarau panjang terpajang di wajah kami
karena beras, gula, sambal, dan kayu bakar
tidak ada di dapur sederhana dalam rumah

Aku bersaksi, tiada ketidakadilan
paling celaka bagi perut selain di negara ini
dan adalah sunyi terus bercanda di kepala

Apakah sepi saja yang mesti terus kita telan
atau adakah sejumput jagung untuk nanti malam?
o Tuhan, rakyat Indonesia ini lapar

Dan hal paling asing adalah kemerdekaan
semenjak bendera-bendera merah putih berkibar
para ideologis berperang dengan lidah

Apakah hal semacam itu tidak bikin lelah?
kita ini sesama manusia, bernapas
atau perlu kita hadirkan makhluk asing

Agar kita berhenti berdebat, bersatu
dan melawan musuh imajinasi
yakni alien di dalam film?

Kabut Asap

Deru menderas dan keras
gumpal kecemburuan memekat
layaknya kabut di Kalimantan
saat hutan-hutan terbakar

O Gusti, kematian adalah aksioma
namun tetap saja kita harus berjuang
agar bumi ini menjadi ruang
untuk anak cucu senang

Mahasiswa Pendemo

Kampanye adalah waktu paling tepat
untuk menipu rakyat-rakyat polos
agar uang pada bank kembali menumpuk
karena gaya hidup pejabat yang boros

O, orang-orang di gedung mewah
darahku menghitam berkat kalian
dan apakah seranggamu ini
menggerogoti sawahku juga?

Atau barangkali
kau adalah tikus rakus pemakan kakus
uang saja yang ada di pikiran
apakah mahasiswa pendemo itu

Cuma dijadikan kicau burung
yang memacetkan jalanan
atau mereka engkau jadikan ceramah
agar hati kerasmu menjadi ramah?

    Arham Wiratama

    Lahir di Jombang, 1 Agustus 1997 | Penulis "Deru Desir Semilir" (Intelegensia Media, 2016) dan "Segara Duka" (J-Maestro, 2018) | Belajar biola dan gitar di Spirit of Musik Jombang
    Arham Wiratama

    Latest posts by Arham Wiratama (see all)