Ijtihad Politik Pemuda (Mahasiswa)

Ijtihad Politik Pemuda (Mahasiswa)
Street Art Peduli Pilkada

Kaum muda (mahasiswa) adalah harapan masa depan suatu bangsa. Karena itu, setiap pemuda sejatinya adalah aktor penting yang sangat bangsa ini andalkan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Mereka harus meletakkan cita-cita dan masa depan bangsa pada tingkat pertama cita-cita perjuangannya. Itu sebagai wujud bukti cinta pada tanah air.

Generasi muda akan menjadi penerus arah bangsa selanjutnya. Mahasiswa harus memiliki kualitas yang kuat, baik intelektualitas maupun spiritualitas. Hal ini sangat perlu guna mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan zaman.

Apa jadinya negeri ini jika kualitas pemudanya masih berada di titik yang mengkhawatirkan: generasi bodoh dan amoral?

Kalau kita mau memutar balik sejarah berdirinya bangsa ini, kita akan menemukan betapa pemuda dahulu memiliki peran yang sangat besar dalam menjadikan Indonesia merdeka. Mulai dengan berdirinya beberapa perkumpulan seperti Budi Utomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain.

Meskipun perkumpulan itu bergerak pada ranah yang berbeda, tapi tetap dalam satu tujuan: Indonesia Merdeka (Ahmad Syafi’i Ma’arif, dkk, 2006).

Namun, pemuda kita saat ini sedang mengalami multikrisis, salah satunya krisis identitas. Ada banyak pemuda yang belum menemukan jati dirinya seperti apa, padahal itu adalah hal yang paling mendasar dalam hidup. Belum lagi yang kekaburan norma. Hal ini terbukti dengan maraknya penyimpangan moral: free sex, narkotika, dan tindakan lain yang jelas-jelas terlarang dalam agama maupun norma sosial.

Permasalahan tersebut bermula pada psikologis pemuda. Pada masa saat ini, pemuda memang sedang mengalami masa transisi, masa di mana pemuda akan mencari pegangan dan jati diri.

Berawal dari kekosongan jiwa, maka dalam mencari pegangan itu tidak jarang menuai penyelewengan dan penyimpangan. Parahnya lagi, krisis pemuda kita saat ini yang mengalami kemerosotan idealisme. Mereka lebih tertarik pada hal yang praktis, tidak memiliki keteguhan hati.

Baca juga:

Ujung-ujungnya, bermuara pada konstruksi pemikiran yang materialis-pragmatis. Sehingga, bila hal ini terus kita biarkan, akan mengikis habis sifat nasionalis-patriotis yang seharusnya tertanam kuat di dalam lubuk sanubarinya.

Faktornya adalah terletak pada bidang pendidikan. Pendidikan adalah satu-satunya cara untuk membentuk pribadi pemuda yang tangguh dan mempunyai karakter. Hal itu kita harapkan terbukanya peluang membangun pribadi yang tidak hanya tangguh otaknya, melainkan juga kejernihan hati sebagai pengatur segala tindakannya.

Pemuda yang andal dan pendidikan yang baik akan menjadi jaminan untuk membangun bangsa yang besar (Choirul Mahfud, 2010).

Tapi hal itu hanya akan menjadi mimpi di siang bolong bila melihat kenyataan bahwa pemuda kita masih banyak yang putus sekolah. Data Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tahun pelajaran 2015/2016 saja menyebutkan bahwa banyak remaja (pemuda) usia 19-24 tahun yang tak mengenyam bangku kuliah.

Pemuda kita juga mengalami krisis kreativitas. Mereka lebih suka meniru daripada mengembangkan potensi yang ada. Akibatnya adalah berkurangnya pemahaman tentang nasionalisme pada diri. Mereka sudah terlalu bertopeng dan berlumur hedonisme. Mereka lebih berlomba-lomba dalam urusan gaya, model, dan semua kesenangan sesaat semata.

Membaca Langkah Mahasiswa

Ada banyak dogma suci yang begitu melekat pada identitas seorang mahasiswa. Dalam istilahnya: agent of change, agent of social control, dan iron stock dengan gamblang menunjukkan tugas historis mahasiswa sebagai agen yang mewakili masyarakat untuk mengontrol dan mengawasi berbagai kebijakan pemerintah; pelopor terwujudnya perubahan sosial yang lebih baik; serta sebagai calon penerus generasi pemimpin bangsa ini untuk masa mendatang.

Mahasiswa adalah kelompok sosial yang istimewa di tengah masyarakat. Mereka memiliki peranan historis yang signifikan dalam sejarah bangsa ini. Idealnya, mereka merupakan penyambung lidah rakyat yang masih begitu jujur, idealis, dan bersih dari tunggangan kepentingan golongan.

Dalam konteks Pilkada, posisi mahasiswa merupakan satu “pilar” penegak demokrasi karena menjadi bagian dari pemilih dan memiliki nalar intelektual tinggi. Keuntungan ini sangat mudah untuk memengaruhi masyarakat banyak.

Halaman selanjutnya >>>