Ijtima Ulama Capreskan Prabowo, Warganet: Kenapa Pilih yang Paling Tidak Bisa Ngaji?

Ijtima Ulama Capreskan Prabowo, Warganet: Kenapa Pilih yang Paling Tidak Bisa Ngaji?
Foto: Twitter DPP PKS

Nalar PolitikRamai respons warganet terhadap hasil Ijtima Ulama yang pilih capreskan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Salah satu respons itu datang dari peneliti SMRC Saidiman Ahmad.

Melalui akun Twitter-nya, ia mempertanyakan pertimbangan keagamaan kenapa sampai pilih Prabowo sebagai capres melawan Jokowi untuk Pilpres 2019 ke depan.

“Kira-kira pertimbangan keagamaannya apa? Kenapa mereka memilih tokoh yang paling tidak bisa ngaji? Kenapa mereka tidak memilih pemimpin di antara mereka sendiri? Apakah ini gejala ketidakpercayaan diri?” tulis pemilik akun @saidiman ini.

Warganet lainnya pun ikut merespons. Ada yang menjawab bahwa Ijtima Ulama tersebut berdasarkan prinsip “wani piro?”. Ada pula yang menilai bahwa itu tanda bahwa mereka bukanlah sebenar-benarnya ulama.

“Karena mereka dihantui oleh presiden yang merakyat (Jokowi). Presiden yang antikorupsi. Presiden yang membangun Indonesia bukan cuma Jawa. Mereka takut kehilangan pamor,” balas akun @budisantosodarm.

Atas fakta ini, Saidiman Ahmad pun lalu menilai bahwa kelompok fundamentalis Islam di Indonesia kini semakin terpojok. Dan hal itu memang terbukti, suara mereka di parlemen kian tergerus dari pemilu ke pemilu.

Bahkan partai-partai islamis kini, bagi Saidiman, sangat enggan menyuarakan aspirasi politik islamis, misalnya penegakan syariat. Mereka justru tampil membela pluralisme.

“Gejala paling nyata adalah mereka selalu gagal mengusung figur dari kelompok sendiri untuk jadi presiden. Bahkan di Jakarta, kelompok ini malah menyokong Anies Baswedan sebagai gubernur.”

Kita tahu, Anies sebelumnya adalah rektor Paramadina, universitas yang didirikan oleh tokoh liberal, Cak Nur. Itulah kenapa Saidiman menyebut kelompok islamis di Indonesia hari ini semakin tidak punya kepercayaan diri.

_____________

Baca juga:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi