Ikama Sulbar Ajak Orda di Jogja Peka Pembangunan Daerah

Ikama Sulbar Ajak Orda di Jogja Peka Pembangunan Daerah
Anggota DPR RI M. Afzal Mahfuz dan Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta Hairil Amri.

Meski bukan hal baru tapi masih tabu; organisasi daerah berbasis kampus mesti peka pembangunan daerah.

Nalar PolitikIkama Sulbar Yogyakarta berupaya mendobrak anggapan tersebut dengan menghadirkan rangkaian acara Talkshow & Silaturrahmi. Dari anggota DPR RI, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat Mandar di Yogyakarta, semua didudukkan bersama-sama dalam satu forum untuk menggodok isu pembangunan Sulbar di hari mendatang.

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak bersama-sama,” ungkap anggota DPR RI Komisi II Muhammad Afzal Mahfuz dalam pembuka sambutannya.

Ungkapan wakil rakyat ini cukup memberi kehangatan bagi audiens yang risih dengan ruangan ber-AC. Pasalnya, dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa mahasiswa sebagai masyarakat intelek harus bersama-sama turut serta dalam pembangunan, terlebih berkelanjutan.

“Mahasiswa jangan banyak nuntut. Berkarya sajalah dulu, tunjukkan kemampuannya,” tegasnya.

Hal ini tentu tamparan keras bagi setiap organisasi daerah yang hanya mementingkan tuntutannya dari pada kontribusinya. Alih-alih turut serta dalam pembangunan, yang terjadi justru bentrokan demonstran yang miskin solusi dan tawaran.

Abu Bakar, mahasiswa asal Riau, yang diundang secara personil di acara ini, menuturkan juga hal tersebut. Ia mengatakan bahwa agenda Talkshow & Silaturahmi ini penting guna memberi pemahaman terkait masalah-masalah yang kini terjadi di daerah.

“Upaya ini menjadi penting agar mengerti permasalahan di daerah secara komprehensif. Forum ini dapat mewadahi pemerintah daerah untuk mengutarakan output-nya, sementara itu mahasiswa menimpali dengan menyajikan input-nya,” terang mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Oleh karena permasalahan di daerah tidak sesederhana yang mahasiswa pahami, maka penyelasaiannya pun tidak semudah apa yang ada dalam teori saja. Hal ini sebagaimana juga diterangkan Bustam Basir Maras, budayawan jebolan UGM, yang turut hadir sebagai pembicara dalam forum itu.

“Heterogenitas masyarakat menjadi kendala tersendiri dalam menekan laju pembangunan,” tuturnya.

Situasi ini, ungkapnya, dapat kita temui jauh-jauh hari. Manakala daerah disibukkan dengan agenda pemilihan umum, misalnya, para kandidat calon eksekutif justru asyik kampanye dengan membawa isu SARA.

“Artinya, kontrak politik hanya wajib dilaksanakan terhadap suatu golongan, sehingga berimbas pada ketimpangan dalam pembangunan,” lanjut Bustam.

Situasi inilah yang menjadi keprihatinan Ikama Sulbar sehingga melahirkan acara Talkshow & Silaturrahmi bertajuk “Sulawesi Barat Bersatu dalam Perbedaan”; diselenggarakan pada 4 Januari 2018, bertempat di Aula Hotel Cailendra Extension, Yogyakarta.

Hairil Amri selaku Ketua Ikama Sulbar berharap, acara ini mampu membangkitkan gairah segenap organisasi daerah (Orda) di Yogyakarta agar lebih peka pembangunan daerah. Pada akhirnya, pembangunan secara serentak akan menjamin kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“Tidak semestinya Orda gugup dalam menghadirkan wakil selaku penyambung lidah rakyat. Sebaliknya, gegap gempita membangun daerah harus secara bersama-sama, merangkul seluruh aspirasi untuk kepentingan bersama, bergerak maju untuk hidup yang sejahtera,” ujar Idit.

“Mahasiswa sebagai Agen of Change tentu tidak didefenisikan dari perkataan, melainkan melalui perbuatan. Mari bergerak terus, bahu-membahu dalam membangun daerah kita. Kita harus peka pembangunan daerah,” sambungnya.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi
    Share!